Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Langit malam menyelimuti kota dengan kerlip lampu jalan yang membentuk pola tak beraturan. Jean dan Dean melangkah keluar dari sebuah studio dengan langkah santai, udara dingin berhembus lembut, membuat mereka merapatkan jaket masing-masing. Jean baru saja selesai merekam episode penuh tawa dan cerita mendalam bersama Alex Cooper yang membahas beberapa pengalaman tentang hubungan, sekaligus tips-tips lainnya.
“Jean,” Dean membuka pembicaraan, suaranya terdengar serius namun tetap santai. Ia melirik ke arah Jean yang sedang memeriksa ponselnya.
“Are you familiar with the novel that's trending right now?”
Jean mengangkat pandangannya, sedikit bingung.
“Novel apa?”
“Penulisnya Yara Barnes, dia lagi mengadaptasi novel terkenalnya ke layar kaca,” jawab Dean sambil menyelipkan tangannya ke dalam saku jaket.
"What exactly are her novels?" tanya Jean.
Dean mengerutkan keningnya mencoba untuk mengingat beberapa judul dari penulis itu. "Hmmm, kalo tidak salah, Summer 1995, The Blue Daisy, dan Like We Just Met. Itu adalah sebuah trilogy."
"Summer 1995?! Itu novel kesukaan Karine!" sontak Jean.
"Dalam salah satu wawancara, dia menyebut nama kamu," lanjut Dean.
Langkah Jean terhenti. Matanya membesar, mencerminkan rasa terkejut dan penasaran.
“Serius? Dia nyebut nama aku? Kenapa?”
Dean tersenyum kecil, lalu melanjutkan, “Dia bilang kamu mungkin cocok untuk memerankan karakter utama di adaptasi itu. Nama Karine juga disebut, tapi itu artinya kamu punya peluang besar. Audisi casting-nya akan diadakan minggu depan. Aku pikir kamu harus coba.”
Jean termenung. Apakah selama ini doanya terkabulkan? Ini adalah kesempatan yang bagus untuk memiliki projek film bersama cintanya, Karine. Dalam kurang lebih 5 tahun, Jean menunggu momen ini.
"So this is gonna be the big project?" tanyanya dengan ragu.
Dean menepuk pundak Jean, memberikan semangat. “You’ve got skills, dude. This is a golden chance that doesn’t come around often. If someone like Yara Barnes is mentioning you, it’s because she sees something special. Give it a shot—you’ve got nothing to lose.”
Jean menarik napas panjang, mencoba menenangkan keraguan yang berputar di pikirannya.
***
Studio casting dipenuhi oleh hiruk-pikuk peserta audisi, para aktor dan aktris saling berlalu lalang dengan naskah di tangan. Jean dan Karine duduk bersebelahan di ruang tunggu, mengenakan pakaian sederhana yang sesuai dengan karakter yang akan mereka perankan. Karine tampak bersemangat, wajahnya berseri-seri saat ia memandangi naskah di tangannya.