Jeff tiba dengan mobilnya, dari masing-masing pintu terbuka, muncul Theo dan anaknya Wade.
Karine-Richie-Gwen dan Jean menyambut mereka di depan rumah. Dengan gerak cepat, Jean dan Richie membantu mengeluarkan barang bawaan mereka.
Dari bagasi mobil mereka, empat kepala kecil berbulu menyembul—kucing-kucing Karine yang setia menunggu untuk dikeluarkan dari kandang mereka. Karine hampir melompat kegirangan begitu melihat mereka.
“Uncle Theo!” seru Karine sambil berlari mendekat. Gwen, yang berdiri di belakangnya, tersenyum lebar sebelum menyusul.
“Bagaimana perjalanan kalian?” tanya Gwen sambil merangkul Theo dengan hangat.
Theo tertawa kecil, membalas pelukan itu. “Sedikit melelahkan, tapi tidak seburuk yang kupikirkan. Kucing-kucing ini jauh lebih tenang dari yang kami perkirakan.”
Wade, yang sibuk membawa salah satu kandang kucing, mengangguk setuju. “Kita mendapat banyak sorotan ketika membawa mereka di bandara, katanya siapa yang liburan membawa tiga kucing sekaligus,” ujarnya sambil tertawa.
Di belakang mereka, Jean dan Richie sibuk membawakan koper dan tas-tas penuh dari bagasi.
Karins memeluk Theo erat-erat, seolah sudah bertahun-tahun tidak bertemu. “I miss you so much!” serunya.
Theo tersenyum hangat, menepuk punggung Karine.
Wade pun tidak ketinggalan mendapat pelukan hangat dari Karine dan Gwen. “Kalian makin pendek ya,” ejek Wade sambil tertawa kecil.
“Kurang ajar, datang-datang langsung body shaming,” balas Gwen sambil melipat tangan di dada.
Mereka pun memasuki rumah untuk segera menghangatkan diri dari cuaca yang dingin ini.
***
"Sedih sekali Kathie tidak ikut," ujar Karine sambil cemberut saat melihat ketiga kucingnya berlari kesana kemari di sekitaran rumah.
"Kathie lagi hamil, kalo dibawa perjalanan jauh seperti ini takutnya dia stress terus mati," ujar Wade.
"So you are Jean?" tanya Wade pada Jean yang duduk di sampingnya.
"Aku mendengar banyak tentang mu," kata Wade. "Dia selalu mmphhh—" belum sempat berbicara lebih, mulut Wade sudah dibungkam oleh tangan Karine dari belakang.
"Jangan di dengarkan hehe," kata Karine.
Para wanita sedang menyiapkan makan siang, sementara para lelaki berkumpul di ruang keluarga untuk sekedar berbincang.
"By the way, Jean, where exactly is it your parents are living right now?" tanya Jeff.
"Di Pennsylvania, kalo tidak salah alamatnya di dekat air terjun George W. Childs Park," jawab Jean sambil mengingat-mengingat alamat rumahnya yang berada disana.
"Oh my, that must be near our old house," imbuh Levana sambil membawa sepiring kue jahe untuk mereka.
"Rumah itu terjual sudah lama, Lev," ujar Theo.
"Emang ada yang mau membeli rumah jelek itu?" tanya Levana dingin. Pikirannya malah terflashback pada kejadian kelam berpuluh-puluh tahun lalu.
"Ada, ini buktinya," jawab Theo sambil menepuk bahu Jean. "Ayah mu bernama Daniel Van North kan?" Jean mengangguk.
"Bingo! Dunia sangat sempit sekali. Sekitar lima atau 6 tahun lalu kalo tidak salah, ada yang mau membeli rumah sekaligus tanah rumah warisan kita yang di sana, saat itu aku langsung kenal si pembeli, Daniel. Jadi aku jual murah, lagipula kondisi rumahnya sudah jelek sekali, hebatnya dia merenovasinya seperti baru lagi. Ternyata seorang arsitek dia," jelas Theo panjang lebar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Past Love | bluesy
Fanfiction"𝑰𝒇 𝒇𝒂𝒕𝒆 𝒌𝒆𝒆𝒑𝒔 𝒖𝒔 𝒂𝒑𝒂𝒓𝒕 𝒊𝒏 𝒕𝒉𝒊𝒔 𝒓𝒆𝒂𝒍𝒎, 𝑰'𝒍𝒍 𝒕𝒓𝒂𝒗𝒆𝒓𝒔𝒆 𝒕𝒉𝒆 𝒔𝒕𝒂𝒓𝒔, 𝒔𝒆𝒆𝒌𝒊𝒏𝒈 𝒂 𝒆𝒗𝒆𝒓𝒚 𝒖𝒏𝒊𝒗𝒆𝒓𝒔𝒆𝒔, 𝑾𝒉𝒆𝒓𝒆 𝒚𝒐𝒖𝒓 𝒉𝒆𝒂𝒓𝒕 𝒂𝒏𝒅 𝒎𝒊𝒏𝒆 𝒄𝒐𝒏𝒗𝒆𝒓𝒈𝒆 𝒊𝒏 𝒕𝒊𝒎𝒆𝒍𝒆𝒔𝒔 𝒅...
