42. Old Soul

530 69 4
                                        


Karine melangkah perlahan memasuki kamar Jean, menarik napas dalam-dalam saat ia mengamati ruangan itu. Interiornya terasa seperti perpaduan sempurna antara gaya modern dan sentuhan vintage khas rumah ini. Dindingnya berwarna abu-abu lembut, dihiasi dengan beberapa lukisan kecil bernuansa klasik. 

Di atas rak kayu, beberapa piala dan foto-foto kecil memberi sentuhan personal yang khas

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Di atas rak kayu, beberapa piala dan foto-foto kecil memberi sentuhan personal yang khas. Namun, meskipun ini pertama kalinya Karine berada di sini, perasaan yang aneh menyelimuti dirinya. Seperti deja vu yang tak bisa dijelaskan—seolah-olah ia pernah berada di ruangan ini sebelumnya, atau setidaknya, mengenal kehangatan dan kenyamanan yang ada. Sekaligus, ada rasa nostalgia yang samar, tapi ia tidak tahu apa yang memicunya.

Karine duduk di tepi ranjang Jean, merasakan kasur empuk yang diselimuti seprai berwarna gelap. Ia memandang sekitar.

Pandangannya kemudian tertuju pada jendela besar di seberang ruangan dengan sofa disampingnya. Ia berdiri, mendekat untuk melihat ke luar.

Salju tebal menutupi halaman belakang, menjadikannya lautan putih yang dingin namun indah. Pohon-pohon tinggi membingkai pemandangan itu, membuatnya terasa sunyi dan misterius. Namun, sesuatu menarik perhatian Karine. Di kejauhan, di tengah hamparan salju, berdiri lima patung manusia. Mereka tampak terbungkus salju, bentuknya samar karena jarak dan malam yang gelap. Karine memicingkan mata, mencoba melihat lebih jelas, tapi salju yang turun dan minimnya cahaya membuat sulit untuk memahaminya.

Patung-patung itu memberi kesan aneh. Bukan menakutkan, tapi benda itu membuat Karine penasaran.

Lamunan Karine tiba-tiba terhenti saat pintu kamar mandi terbuka.

Jean muncul, segar setelah mandi. Rambutnya masih basah, menjuntai berantakan tapi justru membuatnya terlihat lebih menarik. Ia mengenakan kaus abu-abu dan celana panjang santai, menggosok lehernya dengan handuk sambil berjalan masuk.

"Sorry for barging into your room, Jean. I'm feeling bored in mine—do you mind if I hang out here for a while?" tanya Karine tanpa mengalihkan padangan dari jendela.

"I wouldn’t mind if you decided to sleep here as well," jawab Jean dengan nada santai.

Karine menoleh cepat, alisnya menukik tajam setelah mendengar penuturan itu. Lalu ia membuang muka karena salah tingkah.

Jean tertawa kecil, ia mendekati Karine, "What are you watching out the window? Hm?"

"Nothing, hanya penasaran saja sama patung-patung diluar," jawabnya.

"The statue? Aren’t those your family’s statues?"
"Benarkah?" Jean mengangguk.

"Kalo begitu berarti yang di tengah itu kakek, yang di samping kanan ibu Keithlyn, yang sebelah kiri Mama Levana, yang atas itu uncle Theo dan bawahnya itu uncle Ryan. Begitu kah?"

"Sepertinya iya, rumah ini pernah muncul di sebuah artikel karena exterior dan designnya. Di sana dijelaskan sejarahnya juga," jelas Jean.

Karine menatap ke luar jendela, "woah salju turun lagi," gumamnya. Ia menyamankan posisi duduknya di atas sofa itu.

Past Love | bluesyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang