Lampu ruang bersalin berpendar pucat di atas kepala, seperti bulan di langit yang menatap bisu. Aroma antiseptik menyelinap tajam ke dalam napas, bercampur dengan peluh dan kegelisahan. Karine terbaring di atas ranjang—tubuhnya lelah, tapi tekadnya utuh. Jemarinya yang gemetar mencengkeram tangan sang suami yang berada di sisinya.
"You're almost there, sweetheart. I'm right beside you," bisik Jean, suaranya patah-patah, matanya tak lepas dari wajah wanitanya. Ia menyeka keringat di pelipis Karine dengan lembut, mencoba memberi kekuatan yang tak bisa diucapkan dengan kata.
Kontraksi datang seperti badai: menggulung, menyayat, lalu sekejap tenang sebelum menerjang lagi. Karine menggigit bibirnya hingga hampir berdarah, tapi ia tidak menyerah. Dalam dirinya, ada kehidupan yang menunggu dilahirkan—dan ia akan membukakan jalan, sekuat apapun sakitnya.
"Push, Karine, push! You’re so close to meeting your baby!" teriak sang dokter, suaranya menjadi jangkar di tengah kekacauan.
Karine memejamkan mata. Dalam satu tarikan napas panjang, ia menghimpun seluruh kekuatan dan rasa takut, seluruh harap dan mimpi. Lalu ia mendorong sekuat tenaga diiringi teriakan.
Seketika itu, tangis bayi menembus udara. Nyaring. Murni. Seperti musik yang hanya didengar sekali seumur hidup.
Air mata mengalir di pipi Karine tanpa bisa dicegah. Jean menggenggam tangannya lebih erat, lalu menunduk, mencium dahinya dengan penuh rasa sayang. Matanya basah, wajahnya tak bisa menyembunyikan kekaguman.
"Itu... dia?" suara Karine nyaris seperti bisikan angin.
Seorang perawat mengangkat tubuh mungil itu—merah, lembap, dan luar biasa indah—lalu meletakkannya di dada Karine yang napasnya masih tersengal. Bayi itu menggeliat, lalu diam. Jantung kecilnya bertemu dengan irama jantung ibunya.
"He's perfect," ucap Jean, suaranya retak. Ia menatap anaknya seakan dunia tak lagi penting.
Karine menyentuh pipi bayi itu dengan punggung jari. "Oh my God... you're here, my sweet Jace," bisiknya, lalu tertawa kecil di antara isak.
Saat itu, waktu seolah berhenti. Suara-suara mesin, langkah kaki, bahkan detik jam di dinding menghilang. Hanya ada mereka bertiga. Di antara keringat dan air mata, Karine dan Jean saling bertukar pandang—dua jiwa yang kini telah menjadi rumah bagi satu kehidupan baru.
Tak ada pelukan yang lebih sakral dari pelukan pertama itu. Tak ada cahaya yang lebih hangat dari mata yang memandang buah hatinya untuk pertama kali. Dan dalam ruang bersalin yang dingin ini, sebuah keajaiban kecil telah datang ke dunia.
***
Karine melahirkan secara normal, sehingga ia tak perlu menginap lama di rumah sakit. Tiga hari setelah persalinan, ia sudah diperbolehkan pulang. Namun, kenyataan menjadi orang tua baru segera menyambut mereka dengan segala dinamika dan tantangannya.
Minggu pertama menjadi orang tua ternyata tak mudah. Malam-malam tanpa tidur, suara tangisan yang datang tanpa aba-aba, dan rutinitas yang tiba-tiba berubah total membuat hari-hari terasa lebih panjang. Karine masih dalam masa pemulihan, sementara Jean berusaha mengambil alih semua pekerjaan rumah. Ia tidak mengizinkan istrinya itu bangkit dari tempat tidur, bahkan sekadar berjalan ke dapur. “Fokus saja pada Jace,” katanya, berkali-kali. Ia ingin Karine hanya memusatkan perhatian pada bayi mereka—Jace Devon Norwind.
Bayi laki-laki itu adalah perpaduan sempurna antara keduanya. Hidungnya yang mancung menyerupai Jean, bibir mungilnya mirip Karine, dan mata si kecil memancarkan jejak dari keduanya. Artikel tentang kelahiran anak pertama pasangan itu itu pun sudah tersebar luas di internet, mendapat ucapan selamat dari banyak fans.
KAMU SEDANG MEMBACA
Past Love | bluesy
Fanfiction"𝑰𝒇 𝒇𝒂𝒕𝒆 𝒌𝒆𝒆𝒑𝒔 𝒖𝒔 𝒂𝒑𝒂𝒓𝒕 𝒊𝒏 𝒕𝒉𝒊𝒔 𝒓𝒆𝒂𝒍𝒎, 𝑰'𝒍𝒍 𝒕𝒓𝒂𝒗𝒆𝒓𝒔𝒆 𝒕𝒉𝒆 𝒔𝒕𝒂𝒓𝒔, 𝒔𝒆𝒆𝒌𝒊𝒏𝒈 𝒂 𝒆𝒗𝒆𝒓𝒚 𝒖𝒏𝒊𝒗𝒆𝒓𝒔𝒆𝒔, 𝑾𝒉𝒆𝒓𝒆 𝒚𝒐𝒖𝒓 𝒉𝒆𝒂𝒓𝒕 𝒂𝒏𝒅 𝒎𝒊𝒏𝒆 𝒄𝒐𝒏𝒗𝒆𝒓𝒈𝒆 𝒊𝒏 𝒕𝒊𝒎𝒆𝒍𝒆𝒔𝒔 𝒅...
