Malam itu, Karine dan Jean duduk berdampingan di sebuah kursi sofa mewah di hadapan ratusan kamera dan kilatan lampu. Wawancara ini digelar setelah gala premiere film terbaru mereka, Summer 1995, yang sudah mencuri perhatian publik bahkan sebelum dirilis. Karine terlihat anggun mengenakan gaun panjang berwarna putih yang membalut tubuhnya dengan sempurna, sementara Jean tampil gagah dengan setelan jas putih klasik. Namun, yang paling mencuri perhatian adalah perut Karine yang membesar—bukti bahwa ia sedang menantikan kelahiran anak pertama mereka.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Karine tersenyum lembut sambil memegang perutnya, merasakan tendangan kecil dari bayinya yang seolah ikut berpartisipasi dalam momen istimewa itu. Pewawancara tersenyum hangat sebelum melontarkan pertanyaan yang sudah ditunggu banyak orang.
“A lot of fans are curious—is it true that you just found out you were pregnant while filming this movie?”
Karine tertawa kecil, suaranya lembut namun jelas. “Well, that’s true. I got pregnancy sickness on the last day of filming. Me and Jean went to the obgyn a few weeks later, and that’s when we found out I was already twelve weeks pregnant.”
Ruangan dipenuhi tawa kecil dan tepuk tangan dari audiens. Pewawancara melanjutkan dengan pertanyaan yang membuat semua orang penasaran. “And your baby? Do you know if it’s a boy or a girl?”
Wajah Karine bersinar. Ia menoleh sekilas pada Jean yang memegang tangannya erat, lalu menjawab dengan senyum yang sulit disembunyikan. “He is a boy.”
“Congratulations,” ujar pewawancara dengan tulus, disambut tepuk tangan hangat dari penonton. Ia mengambil napas sejenak, bersiap mengajukan pertanyaan terakhir. “Is there anything you’d like to say to your fans?”
Karine menatap kamera di hadapannya, mengambil jeda sesaat sebelum berbicara. Suaranya terdengar penuh keyakinan namun lembut, seolah-olah ia sedang berbicara langsung kepada setiap orang yang menontonnya.
“I once thought that living the life I wanted—a good job, a supportive work environment, thousands of fans loving me, exciting vacations—was enough to bring me happiness. I truly believed it.