Setelah berminggu-minggu sibuk dengan proses dubbing dan mixing film terbaru mereka, Jean dan Karine akhirnya menemukan waktu untuk mengunjungi rumah sakit dan menjalani pemeriksaan USG pertama. Mereka melangkah ke poli obgyn dengan antusiasme bercampur rasa penasaran.
Meskipun keduanya terkenal sebagai aktris, suasana di ruang tunggu tetap terasa tenang. Beberapa pasangan lain yang sedang menanti giliran tampak mengenali mereka, namun tak ada yang mendekat untuk mengganggu. Karine duduk dengan tenang di sebelah Jean, tangannya saling bertaut, menanti nama mereka dipanggil.
Ketika giliran mereka tiba, mereka masuk ke ruangan yang bercahaya lembut. Karine berbaring di ranjang pemeriksaan, sementara Jean duduk di sampingnya, menggenggam tangannya. Dokter, seorang wanita dengan senyum ramah, menjelaskan prosedur yang akan dilakukan. Karine mengangguk ketika gel dingin dioleskan ke perutnya, dan alat USG mulai bekerja.
Gambar hitam-putih muncul di layar, memunculkan siluet kecil yang menggemaskan. "Usianya 12 minggu," ujar dokter dengan suara lembut.
"Ukurannya sekitar 8 cm, beratnya sekitar 14 gram, sebesar telur ayam kecil atau buah plum. Semua organ utama sudah terbentuk, dan wajahnya mulai terlihat lebih jelas, dengan mata, hidung, dan mulut yang lebih berkembang. Jari tangan dan kaki sudah terbentuk sepenuhnya, meskipun masih kecil."
Jean dan Karine menatap layar dengan penuh haru. Sesosok kehidupan kecil itu, bergerak-gerak meski belum terasa oleh Karine, adalah keajaiban nyata yang sulit mereka ungkapkan dengan kata-kata.
"Janinnya mulai bergerak," lanjut dokter, "tetapi biasanya ibu belum merasakan gerakannya di usia ini. Ini juga merupakan akhir dari trimester pertama."
Karine tersenyum, matanya berbinar, sementara Jean hanya bisa memandang layar itu dengan kagum. Setelah pemeriksaan selesai, mereka duduk bersama di ruang konsultasi untuk membicarakan banyak hal dengan dokter.
Jean bertanya dengan penuh rasa ingin tahu, "Dok, makanan apa saja yang harus dihindari? Dan olahraga apa yang baik untuk Karine?"
Dokter menjelaskan dengan rinci, memberikan saran tentang nutrisi yang diperlukan serta aktivitas yang aman untuk dilakukan selama kehamilan. Mereka mendengarkan dengan penuh perhatian, mencatat setiap informasi penting.
Kemudian, Jean bertanya lagi, kali ini dengan nada lebih lembut, "Kira-kira kapan bayinya akan lahir, Dok?"
Dokter tersenyum, melirik kalender di mejanya. "Jika dihitung dari usia kehamilan sekarang, kemungkinan besar awal hingga pertengahan Februari."
Jean menatap Karine dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Dia tak bisa menahan air mata kebahagiaan yang akhirnya mengalir. Tanpa berkata apa-apa, dia menggenggam tangan istrinya erat, mencoba menyampaikan rasa syukur dan cintanya yang mendalam.
Karine membalas genggamannya, senyumnya meluas.
***
Setelah penerbangan domestik selama dua jam, Jean dan Karine akhirnya tiba di rumah keluarga Karine di Beverly Hills. Suasana hangat langsung menyambut mereka begitu melangkah keluar dari mobil, dan Karine tak sabar untuk memeluk kedua orang tuanya, Levana dan Jeff.
Karine langsung melangkah ke pelukan ibunya, diikuti Jean ibu dan ayah mertuanya itu.
Karine menyerahkan amplop putih yang berisi kabar besar mereka, serta sekeranjang buah-buahan segar yang sengaja mereka beli. Levana tersenyum lebar, namun ada kekhawatiran kecil di matanya, seperti tahu bahwa sesuatu yang spesial akan terungkap.
Dengan perlahan, Levana membuka amplop itu. Matanya menatap kertas hitam putih di dalamnya dengan penuh perhatian. Begitu ia menyadari apa yang sedang ia pegang, ekspresinya berubah menjadi haru. Ia tak bisa berkata-kata, hanya menutup mulutnya dengan tangan, air mata mulai menggenang di matanya. Tanpa suara, ia menyerahkan kertas itu pada suaminya, Jeff, yang penasaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Past Love | bluesy
Fanfiction"𝑰𝒇 𝒇𝒂𝒕𝒆 𝒌𝒆𝒆𝒑𝒔 𝒖𝒔 𝒂𝒑𝒂𝒓𝒕 𝒊𝒏 𝒕𝒉𝒊𝒔 𝒓𝒆𝒂𝒍𝒎, 𝑰'𝒍𝒍 𝒕𝒓𝒂𝒗𝒆𝒓𝒔𝒆 𝒕𝒉𝒆 𝒔𝒕𝒂𝒓𝒔, 𝒔𝒆𝒆𝒌𝒊𝒏𝒈 𝒂 𝒆𝒗𝒆𝒓𝒚 𝒖𝒏𝒊𝒗𝒆𝒓𝒔𝒆𝒔, 𝑾𝒉𝒆𝒓𝒆 𝒚𝒐𝒖𝒓 𝒉𝒆𝒂𝒓𝒕 𝒂𝒏𝒅 𝒎𝒊𝒏𝒆 𝒄𝒐𝒏𝒗𝒆𝒓𝒈𝒆 𝒊𝒏 𝒕𝒊𝒎𝒆𝒍𝒆𝒔𝒔 𝒅...
