Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"The story is great! You don't have to worry about royalties, I’m fine with that."
Sore itu Keithlyn akhirnya bertemu Sahara, tentu saja ditemani oleh Jean. Richie juga ada di sana, menemani sang ibu.
Keithlyn akhirnya menyetujui kesepakatan dimana ia menjadi model karakter novel Sahara, tanpa harus membayar royalti apapun padanya. Dari sinopsis yang diberikannya saja, Keithlyn tau bahwa ia akan menyukai cerita ini.
"Apa yang akan kalian lakukan setelah buku nya rilis?" tanya Keithlyn sambil meminum teh hangatnya.
Di dalam kafe yang hangat dan nyaman, suasana begitu tenang dan mengundang. Lampu-lampu kuning lembut menggantung dari langit-langit, menciptakan suasana akrab yang kontras dengan dinginnya musim yang mulai merambat di luar.
Dari balik jendela besar yang berembun, butiran salju mulai turun perlahan, melapisi jalan-jalan dengan selimut putih yang tipis. Di luar, orang-orang melangkah cepat dengan mantel tebal, syal melilit erat, dan napas mereka terlihat dalam hembusan kabut dingin. Beberapa kali pintu kafe terbuka, membiarkan angin dingin menerobos masuk sebelum cepat-cepat ditutup kembali, menyisakan sensasi kontras antara kehangatan dalam ruangan dan kedinginan di luar.
Sahara menatap ke arah salju yang perlahan turun, "I might take a lil' break, a reward for myself. What you got planned, Jean?" tanyanya sambil menoleh kepada Jean.
"No clue… you cool if I join? I got nothing going on," jawab Jean. Ia juga tidak tau akan melakukan apa setelah projek ini selesai selain menunggu projek lain. Haruskah Jean pergi berlibur? Tapi ia tidak punya tujuan. Sepertinya membuntuti Sahara berlibur adalah ide yang bagus.
"I was wondering if you could recommend any good vacation spots?" tanya Jean pada Keithlyn.
"I’ve loved hiking for years. I might suggest the Pocono Mountains— That place is in Pennsylvania, where I was born and raised," jawab Keithlyn.
"That's wonderful! I’m from Pennsylvania as well," seru Sahara, matanya berbinar ketika mendengar tempat kelahirannya.
"Oh my, what a small world! We hail from the same place!" ujar Keithlyn juga bersemangat.
Sahara dan Keithlyn banyak mengobrol tentang apapun, hubungan mereka sudah seperti anak dan ibu yang sangat dekat. Sementara, Jean dan Richie hanya menjadi manekin saja, mendengarkan tanpa berbicara, terkadang mereka malah bertukar pesan di dalam handphone.
"Bukannya orang tua Jean beberapa bulan lalu baru pindah kesana? Benar tidak Jean?" tanya Richie.
Jean mengangkat kepalanya menatap Richie dengan tatapan tanda tanya. Terpaksa, Jean harus mengangguk mengiyakan.
"Jean? Why don’t you just say it already? We can take a vacation to Pennsylvania and enjoy Christmas at home!" Sahara menepuk pelan paha Jean yang berada di sampingnya. Jean hanya menggaruk lehernya canggung. "Kamu tidak bertanya, hehe."