Beberapa jam sebelumnya...
Karine memasuki taman belakang agensi, tempat ia sudah sepakat untuk bertemu dengan Chris. Udara pagi yang sejuk menggigit, namun ia merasa sedikit hangat di dalam hatinya. Ia tahu bahwa pertemuan ini adalah langkah terakhir untuk menutup babak lama dalam hidupnya.
Chris sudah menunggunya, berdiri dengan punggung menghadap ke arah taman yang tertata rapi. Ketika ia mendengar langkah Karine, Chris berbalik dan menatapnya dengan senyum yang terasa lebih tulus daripada sebelumnya. Ada kehangatan dalam tatapannya, namun juga keteguhan.
"Karine," katanya, suara lembut namun penuh pengertian. "Thank you for coming."
Karine berjalan mendekat, berusaha menenangkan dirinya yang gelisah. "I feel like we need to talk, Chris, dan menyelesaikan semua tentang kita."
Mereka duduk di bangku taman yang dikelilingi pohon-pohon yang hampir seluruhnya tertutup salju, suasana terasa tenang meskipun hati Karine penuh dengan berbagai perasaan yang bertabrakan.
Chris menatap Karine dengan tatapan penuh perhatian. "I expected you to say that."
Karine mengangguk pelan. "I feel like this is the final step. I don't want there to be anything left unresolved between us. How have you been?"
Chris menghela napas panjang, matanya sedikit sayu. "I'm good, keeping busy with my business. And I always hope, every day, that I'll have the chance to see you again and spend time like we used to."
Karine tertawa kecil, "That's not going to happen again, and I've changed. I've moved on. I was just a kid back then, feeling love for the first time, lost and confused. We were so toxic, Chris."
"I get it now. We were both lost back then, but it's good to see you've moved forward. Glad you end up with Jean. Can I have one last hug from you? After this, I promise I won't come into your life again."
Karine menatapnya dengan mata penuh perasaan, dan perlahan ia memeluk Chris, merasakan kehangatan tubuhnya yang dulu pernah menjadi bagian dari hidupnya. Ini adalah perpisahan yang perlu untuk terjadi.
Untuk membuka lembaran baru, kita harus menyelesaikan dulu dengan tuntas lembaran sebelumnya kan?
Chris membalas pelukan itu dengan lembut. "I hope you're happy with Jean. Your best friend, huh? I used to get so tired of hearing you talk about him. But now that you're together, I'm honestly relieved. Wishing you all the best, Karine."
Mereka melepaskan pelukan itu setelah beberapa detik yang terasa panjang. Karine menarik napas dalam-dalam, mencoba meresapi momen terakhir bersama Chris. Tanpa kata-kata lagi, mereka saling berpandangan, saling mengerti bahwa ini adalah perpisahan yang tidak perlu diucapkan dengan banyak kalimat.
Karine berjalan pergi dengan langkah mantap, meninggalkan taman yang kini terasa sunyi setelah momen emosional itu.
Begitu ia memasuki gedung agensi, seorang staf menyapanya dengan cepat. "Karine, tadi Jean kemari," katanya dengan suara agak terburu-buru.
"Tapi dia pergi lagi, tampaknya cepat sekali."
Jantung Karine berdegup lebih kencang. Ia merasa seolah-olah ada yang tidak beres. Tentu saja, Jean pasti kemari untuk melihatnya tadi. Bagaimana mungkin ia tidak memperhatikan saat ia dan Chris berbicara di taman?
Panik mulai merayapi pikirannya. Tanpa membuang waktu, ia segera keluar dari gedung dan menuju mobilnya, segera mengemudi ke apartemen Jean. Setiap detik terasa begitu berat, pikirannya kembali pada pertemuan tadi, pada pelukan itu, dan pada Jean yang mungkin kini tengah merasakan kebingungannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Past Love | bluesy
Fanfiction"𝑰𝒇 𝒇𝒂𝒕𝒆 𝒌𝒆𝒆𝒑𝒔 𝒖𝒔 𝒂𝒑𝒂𝒓𝒕 𝒊𝒏 𝒕𝒉𝒊𝒔 𝒓𝒆𝒂𝒍𝒎, 𝑰'𝒍𝒍 𝒕𝒓𝒂𝒗𝒆𝒓𝒔𝒆 𝒕𝒉𝒆 𝒔𝒕𝒂𝒓𝒔, 𝒔𝒆𝒆𝒌𝒊𝒏𝒈 𝒂 𝒆𝒗𝒆𝒓𝒚 𝒖𝒏𝒊𝒗𝒆𝒓𝒔𝒆𝒔, 𝑾𝒉𝒆𝒓𝒆 𝒚𝒐𝒖𝒓 𝒉𝒆𝒂𝒓𝒕 𝒂𝒏𝒅 𝒎𝒊𝒏𝒆 𝒄𝒐𝒏𝒗𝒆𝒓𝒈𝒆 𝒊𝒏 𝒕𝒊𝒎𝒆𝒍𝒆𝒔𝒔 𝒅...
