7. Save me from the greatest heartbreak

1.1K 143 5
                                        

"Terima kasih banyak, Richie

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Terima kasih banyak, Richie."

Mereka bertiga sampai di apartemen Jean. Untung saja jarak antara apartemen dan bar lumayan dekat, kalau tidak, kedua manusia yang membopong badan Jean ini bisa-bisa langsung encok. Berterima kasih lah pada Richie yang mau membantu Kei dan mengantarkan Jean sampai apartemen dengan selamat.

"Ngomong-ngomong, tadi aku lihat kamu mengobrol dengan Gwen, kamu kenal dia?" tanya Richie sambil berjalan ke arah pintu.

Kei dengan ragu menjawab, "Tentu kenal, kami satu jurusan saat kuliah, tapi aku pindah setahun setelahnya." Akhir-akhir ini Kei lebih sering mengeluarkan kebohongan dari mulutnya, tapi apa boleh buat, tidak mungkin dia menceritakan hal sebenarnya.

Richie mengangguk paham.

Saat baru saja membuka pintu apartemen, Kei memanggilnya kembali.

"Richie, sampaikan salam ku untuk Gwen ya, kami belum banyak mengobrol tadi," pinta Keithlyn. Richie mengangguk dan tersenyum. "Aku pergi yaa, dah!" pamitnya.

Setelah mengantar kepergian Richie, Kei kemudian berfokus pada suara lain yang berasal dari tubuhnya. Kei menarik nafas dalam-dalam.

"Ra-Rachel?"

"Yes Miss," jawab suara perempuan itu.

"Uhmm... I just wanna ask you something, who exactly are you?" tanya Kei, ia bertanya pada perempuan yang berada dalam dirinya.

"I am an artificial intelligence or can be called AI, I was made by Professor Anthony Ozwell Graves to be an assistant who accompanies you," jawab Rachel dengan aksen british di setiap kalimatnya.

"Okay, fitur apa saja yang kamu punya?"

"I can help determine the place and destination of your teleportation power, Miss, if you are having trouble controlling your thoughts and emotions, I can help you determine where you want to be, by simply saying it," penjelasan Rachel membuat Kei terkejut sampai berdiri dari duduknya.

"WHAT?! Jadi selama ini kamu bisa membantu ku berteleportasi?! Kenapa tidak dari kemarin?! Aku mengalami banyak kesulitan selama ini," protes Kei. Ia frustasi berat sampai-sampai menjenggut sendiri rambutnya, jika Rachel bukan sebuah AI, maka sudah ia tonjok perempuan itu.

"I was created from the moment you were given the teleportation machine that resides in your body, to put it simply I was with you from the moment it was installed. I've been with you since 6 years or 41 years counting from the current year," jelas Rachel kembali.

"Then why you don't help me?!" murka Kei. Jika ada orang lain yang melihat dirinya marah-marah dan berbicara sendiri pasti ia akan dikira orang gila.

"You not even touch the silent button Miss."

Sialan, Kei sangat frustasi.

"I didn't even know that button existed! Ya Tuhan," ujar Kei dramatis, matanya berkaca-kaca, ayahnya tidak memberitahunya sama sekali tentang perangkat kecerdasan buatan itu padanya. Ia hanya memberitahu tentang sebuah alat atau mesin yang berada ditubuhnya dimana benda itu disambungkan ke saraf otaknya. Kei tidak begitu mengerti biologi, sains, teknik mesin atau semacamnya, ia hanya diberi tahu bahwa dia memiliki keistimewaan ini, dan tugasnya yaitu membantu projek-projek sains sang ayah.

Past Love | bluesyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang