Hari pertama syuting film yang dibintangi oleh Jean dan Karine di pantai Baker, San Francisco, dimulai dengan semangat tinggi. Suasana set begitu hidup, penuh dengan kru yang sibuk menyiapkan segala sesuatunya. Matahari bersinar cerah, langit biru tanpa awan, dan deburan ombak memberikan latar yang sempurna untuk adegan yang akan mereka ambil.
Jean dan Karine duduk di meja rias masing-masing, dikelilingi oleh para make-up artist yang bekerja dengan cekatan. Karine mengenakan dress pendek bermotif leopard, rambutnya terurai dengan sempurna, sementara Jean mengenakan kaos putih sederhana yang memamerkan bentuk tubuhnya yang atletis.
Setelah beberapa jam persiapan, mereka pun siap untuk syuting. Kamera sudah siap, lampu sorot mengarah tepat pada mereka, dan suara ombak menjadi latar belakang yang alami.
Adegan demi adegan pun dilalui, penuh dengan emosi dan intensitas.
"Cut!"
Teriakan itu menandakan bahwa syuting hari itu telah selesai. Semua orang mulai merapikan peralatan dan menuju ke area di luar set untuk beristirahat sejenak. Karine duduk di luar bersama Yara, sang penulis dan director, yang sedang memberikan pengarahan untuk adegan selanjutnya. Namun, tiba-tiba Karine merasakan sesuatu yang aneh.
Sejak pagi, dia merasa baik-baik saja, namun sekarang perutnya terasa mual. Ia memegangi perutnya, mencoba menahan rasa tidak nyaman. Yara yang melihatnya langsung mendekat.
"Karine, are you okay?" tanya Yara dengan khawatir.
Karine menatap Yara dengan ragu. Perlahan, ia menyadari sesuatu yang aneh—perutnya bergejolak ingin memuntahkan sesuatu.
Dia menggenggam tangan Yara, matanya mulai membesar.
"Aku harus pergi dulu," pamit Karine.
Karine segera berdiri dan meninggalkan tempat itu, berjalan cepat menuju hotel tempat ia menginap selama syuting. Setibanya di kamar, ia langsung menghubungi Max.
"Max, tolong belikan aku test pack."
Max, yang sudah mengetahui apa yang terjadi, langsung pergi ke apotek terdekat. Tak lama, ia kembali dengan test pack di tangannya dan segera menyerahkannya pada Karine.
Max menyerahkan test-pack itu, "Karine, aku akan telepon Jean ya?"
Karine mengangguk. Max segera menghubungi Jean, namun sebelum Jean bisa mengangkat teleponnya, dia sudah berada di hotel. Wajahnya terlihat khawatir, leher dan pelipisnya penuh keringat.
"Max, di mana Karine?" tanya Jean sambil terengah-engah karena berlari.
Max mengarahkan pandangannya ke arah kamar mandi. Jean langsung berlari ke kamar mandi, lalu mengetuk pintu dengan cemas.
Jean bertanya dengan lembut, sambil mengetuk pintu kamar mandi, "Sayang, are you okay?"
Tak ada jawaban. Max, yang berdiri di belakang Jean, menepuk bahunya.
"Jean, biarkan dia dulu."
Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Karine keluar dengan wajah cemas, menggenggam test pack di tangannya. Dia menatap Jean dengan pandangan yang sulit diartikan, dan kemudian menggigit bibirnya karena gugup.
Karine melangkah mendekat, dengan suara bergetar ia berkata, "I think I’m pregnant."
Jean tidak bisa menahan kebahagiaannya. Rasanya, jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Tanpa bisa berkata-kata, ia langsung memeluk Karine erat-erat, mengangkat tubuhnya sedikit dari lantai.
"Thank you, God," ucap Jean terharu.
Karine memeluknya dengan erat, merasa kehangatan dari pelukan Jean memberi rasa aman yang luar biasa. Max yang melihat mereka hanya tersenyum bangga, lalu berkata dengan senyum lebar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Past Love | bluesy
Hayran Kurgu"𝑰𝒇 𝒇𝒂𝒕𝒆 𝒌𝒆𝒆𝒑𝒔 𝒖𝒔 𝒂𝒑𝒂𝒓𝒕 𝒊𝒏 𝒕𝒉𝒊𝒔 𝒓𝒆𝒂𝒍𝒎, 𝑰'𝒍𝒍 𝒕𝒓𝒂𝒗𝒆𝒓𝒔𝒆 𝒕𝒉𝒆 𝒔𝒕𝒂𝒓𝒔, 𝒔𝒆𝒆𝒌𝒊𝒏𝒈 𝒂 𝒆𝒗𝒆𝒓𝒚 𝒖𝒏𝒊𝒗𝒆𝒓𝒔𝒆𝒔, 𝑾𝒉𝒆𝒓𝒆 𝒚𝒐𝒖𝒓 𝒉𝒆𝒂𝒓𝒕 𝒂𝒏𝒅 𝒎𝒊𝒏𝒆 𝒄𝒐𝒏𝒗𝒆𝒓𝒈𝒆 𝒊𝒏 𝒕𝒊𝒎𝒆𝒍𝒆𝒔𝒔 𝒅...
