"Jean! Aku ingin bunga itu!"
"Jean, this bag is so cute, can i have it?"
"Jean, i want to go to waterfall!"
"Jean! Jean! I want a house!"
"Jean! Jean! Jean!"
"Aren't you gonna go wake up Jean and Richie?"
"Let them chill, you two should be helping Mom with the gingerbread!"
Jean terjaga sedikit dari tidurnya, telinganya menangkap suara gaduh dari dapur yang mengganggu ketenangan. Dengan mata masih setengah tertutup, ia mencoba menenangkan diri dan kembali memejamkan mata. Secara tak sengaja, tangannya meraba wajah seseorang yang ada di depannya. Ia mengira itu Karine, karena sesuai dengan mimpi, Karine dengan nyaman berada dalam pelukannya. Jean melanjutkan tidurnya, tangan yang lain mengusap-usap rambut orang yang ada di dekapannya, merasakan kehangatan dan ketenangan yang familiar.
Namun, ada sesuatu yang terasa janggal. Rambut orang itu terasa lebih pendek dari biasanya. Perlahan-lahan, Jean membuka matanya dan terkejut mendapati bahwa orang yang sedang ia peluk bukanlah Karine. Melainkan Richie. Sejenak, dia terdiam, kebingungannya berubah menjadi panik. Tanpa pikir panjang, Jean mendorong Richie dengan keras, membuatnya terjatuh dari sofa. Dengan cepat, ia duduk terkejut.
"HAHAHAHAHAHAHAH!!!!"
"AW!"
Jean langsung mengarahkan pandangannya pada dua orang wanita yang sedang tertawa terbahak-bahak di dapur sana. Sementara kepalanya sedikit pusing karena dari posisi tidur langsung spontan bangun. Ia melirik Richie yang meringis kesakitan sembari memegangi punggungnya.
"Why the hell are you sleeping next to me?!" tanya Jean.
"You’re the one who pulled me over last night, so don't act all surprised I ended up next to you! The room was freezing, what else was I supposed to do?!" balas Richie ikut marah.
Jean menyipitkan matanya bingung, ia berusaha mengingat kejadian semalam. Tapi nihil. Ia hanya ingat bahwa terakhir, ia tidur dengan bertautan tangan dengan Karine.
Ah, atau mungkin gara-gara ia memimpikan Karine lagi?
Pria itu memegangi pelipisnya, ia melamun sedikit untuk mengumpulkan nyawa.
Karine menghampirinya sambil membawa segelas air putih. "You must've forgotten, you pulled him closer when our hands weren't linked anymore," ujar Karine sambil memberikan gelas itu.
Jean pun menerimanya dengan senang hati dan meminumnya, "did I?" Karine pun mengangguk.
Jean meringis merinding sambil melirik Richie yang kembali tidur di sofa yang lain.
"Karine, bantu aku mengaduk adonannya," teriak Gwen dari dapur.
"I'm coming!"
***
Jean duduk di sofa sambil menatap layar laptop yang menampilkan wajah-wajah keluarganya di Pennsylvania. Meskipun hubungan Jean dengan ayahnya, Daniel, tidak sepenuhnya akur, ada sedikit rasa kewajiban dalam dirinya untuk tetap menjaga ikatan keluarga. Apalagi, dengan datangnya musim liburan seperti Natal, yang selalu menjadi waktu untuk berkumpul bersama, meskipun dengan segala ketegangan yang ada.
Di layar, Daniel terlihat duduk di kursi dengan ekspresi serius, matanya sedikit tampak lelah, seolah masih ada jarak yang tak bisa dijembatani. Suasana canggung terasa begitu jelas saat percakapan dimulai. Jean menghela napas dan mencoba membuka percakapan, “Bagaimana kabarnya Dad?”
KAMU SEDANG MEMBACA
Past Love | bluesy
Fanfiction"𝑰𝒇 𝒇𝒂𝒕𝒆 𝒌𝒆𝒆𝒑𝒔 𝒖𝒔 𝒂𝒑𝒂𝒓𝒕 𝒊𝒏 𝒕𝒉𝒊𝒔 𝒓𝒆𝒂𝒍𝒎, 𝑰'𝒍𝒍 𝒕𝒓𝒂𝒗𝒆𝒓𝒔𝒆 𝒕𝒉𝒆 𝒔𝒕𝒂𝒓𝒔, 𝒔𝒆𝒆𝒌𝒊𝒏𝒈 𝒂 𝒆𝒗𝒆𝒓𝒚 𝒖𝒏𝒊𝒗𝒆𝒓𝒔𝒆𝒔, 𝑾𝒉𝒆𝒓𝒆 𝒚𝒐𝒖𝒓 𝒉𝒆𝒂𝒓𝒕 𝒂𝒏𝒅 𝒎𝒊𝒏𝒆 𝒄𝒐𝒏𝒗𝒆𝒓𝒈𝒆 𝒊𝒏 𝒕𝒊𝒎𝒆𝒍𝒆𝒔𝒔 𝒅...
