Selamat datang kembali di ceritaku yang keempat ini.
Sudah tinggalkan jejaknya? Belum? Lakukan sekarang atau takkan kulanjutkan kisah ini.
~Selamat Membaca~
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
**🌜**
SMA Dragva. Dulu, ini adalah sebuah sekolah yang paling berjaya dan terkenal mengalahkan sekolah sebelah yakni Alvarez Academy. Dan itu masih bertahan sampai sekarang.
Banyak faktor yang mempengaruhi peringkat SMA Dragva, mulai dari prestasi, fasilitas, namun yang paling berpengaruh terhadap ketenaran sekolah ini adalah dia.
Lelaki bernama Revanza Putra Angkasa. Salah seorang siswa yang telah menyumbangkan banyak piala, piagam, maupun medali. Mendapatkan beasiswa full berkat kejeniusan miliknya, dialah ikon penting yang menjayakan SMA Dragva.
Selain cerdas, Revanza tidak hanya memiliki keunggulan otak tapi juga paras. Ketampanannya sudah diketahui satu sekolah bahkan luar sekolah.
Semua nampak sempurna. Di mata orang, Revanza itu paket lengkap. Tiada cacat ataupun kurang yang terdapat dalam diri lelaki tersebut.
Kecuali, satu...
"Ah? Itu dia, Vanza!"
Laki-laki itu seketika terhenti dari langkah dan sudah dihalangi oleh sekelompok cewek manis yang membawakan hadiah.
Salah satu dari tiga gadis itu bernama Serine Angelista. Cewek kelas IPS yang sudah lama suka dengan Revanza akan tetapi ditolak. Namun, Serine tidak menyerah dan sampai sekarang masih mengejarnya.
"Ini, aku bawakan kado buat rayain sukses kamu menang lomba lusa kemarin," ucapnya seraya menyodorkan hadiah tersebut.
"Kok, diem ajah, sih? Diambil dong! Sini tangan kamu"
Saat Serine mengambil tangan Revanza, dengan cepat laki-laki itu menarik barang yang ia genggam dan membanting kado tersebut ke lantai cukup kencang.
Serine sedikit terkejut begitu juga dua temannya yang lain dan kini mereka mematung takut.
"Udah gue bilang, berenti panggil gue kayak gitu. Jangan sok akrab." setelah mengatakan hal tersebut dengan nada penekanan, Revanza lalu melenggang pergi dengan sedikit menyenggol bahu Serine yang membuatnya jadi terdorong.
Dada gadis itu naik turun begitu emosi. Serine menatap bahu Revanza yang mulai hilang tertelan jarak. Tatapannya menjadi tajam, ia berucap dengan tekad yang dalam.