Mianhae ya uri readers🥺 karena baru sempat lanjut dibulan Maret ini.
~Selamat Membaca~
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
**🌜**
Dengan pandangan dingin menatap rendah, dia mengacungkan pistol tersebut tepat di kepalanya.
"Ampuni saya tuan! maafkan saya! saya--"
DOR!
Tak ada kesempatan yang diberi bahkan dia sudah bersujud memohon pengampunan. Kegagalan, benar-benar seperti penghinaan baginya.
Pria berjas dengan netra biru berkacamata yang barusan menembak, menghadap ke arah dia ketika mendengar suara langkahnya. Pria itu, adalah Juan.
"Tak kusangka dia dijaga oleh Arina. Aku benar-benar tidak memprediksi hal ini," ujarnya masih dengan rasa kesal yang tinggi.
Lelaki tersebut marah. Padahal, sudah ia siasati seakurat mungkin agar tidak gagal, tak pernah Juan duga Wilona akan membebaskan seorang narapidana untuk menjadi perisai Lyonna. Tentu saja para bawahannya langsung kalah.
"Kau tak perlu semarah itu, kita belum gagal," ujarnya dengan nada santai.
Dia lalu berjalan mendekat, mereka saling membelakangi. "Kali ini, biar aku yang turun tangan."
Kedua netra berwarna amber miliknya menatap hamparan kota malam yang indah dengan pandangan rendah. "Karena aku tahu umpan apa yang tepat," ucapnya diakhiri senyum yang dingin.
**🌜**
Sisi gelap pasti punya secercah harap. Dan begitulah sebaliknya bukan? Walau seterang apapun pasti ia memiliki bayang.
Hujan diluar sana nampak kian lebat seolah tidak memberikan tanda akan reda. Lyonna menahan sakit saat luka di lengan kirinya tengah diobati.
Saat ini, dia tengah di rumah Haikal tepatnya diruang medis. Ayah Haikal adalah seorang dokter umum dan membuka klinik pribadi. Membandingkan jarak rumah sakit dengan luka Lyonna yang parah juga wajah yang sudah hampir sepucat mayat, hanya tempat inilah yang seketika ia pikirkan.
"Lo tau aja di mana bisa dapat gratisan," ungkap Haikal mengkritik tapi jangan khawatir dia cuma bercanda.
"Dari yang lo cerita, pasti, itu nyctophobia," ujarnya menebak, tak salah lagi.
"Nyctophobia?" Revanza bertanya ulang.
"He'em! dari tiba-tiba dia sesak napas, gemetaran, bahkan lo bilang sampe ngomong sendiri kayak halusinasi, dan itu terjadi saat kalian masuk gudang kosong yang gelap, itu semua adalah gejalanya."