14- Seharusnya

194 17 2
                                        

Hello everybody!

Udah agak lama nggak ketemu, yah? Bosan kah kalian menunggu?

Jangan lupa, sebelum men-scroll ke bawah alangkah baiknya jika kalian memberikan bintang dulu.

~Selamat Membaca~

~Selamat Membaca~

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

**🌜**

Pria, dengan kemeja merah marun yang kerah baju atasnya tak dikancing tersebut, duduk tegap dengan pandangan tajam di hadapan seorang pria lanjut usia yang kini tengah menatapnya dengan manik mata yang tak kalah tajam.

Selama beberapa menit, mereka terus saja terdiam tak ada yang berniat untuk memulai percakapan membuat suasana kian tak nyaman. Wanita yang bersama pria dengan rambut putih semua itu mulai tak tahan. Ia kemudian sengaja berbasa-basi terlebih dahulu untuk mencairkan suasana.

"Lama nggak berjumpa, ya, Lyon? Gimana kabar kamu? Lona?"

Pria yang dipanggil mengalihkan perhatiannya pada Airis. "Baik," tukasnya dengan senyum ramah tapi muka ia kembali datar ketika melirik dia yang ada di hadapan.

"Sungguh? Yah, aku sangat rindu dengannya. Bagaimana soal Lyonna?"

Kali ini pertanyaannya tak dijawab. Memang benar, yah, mempertemukan dua orang yang sejak dahulu tak punya kesan baik seperti Lyon dan Darren tidaklah cukup tepat.

Mereka sedaritadi terus saja menatap seolah saling mengintropeksi dengan aura intimidasi. Yah, mau gimana lagi? Wajar saja keduanya masih sulit untuk komunikasi.

Pandangan Darren yang masih kolot akan pendiriannya dan rasa sakit hati Lyon semasa kecil yang masih membekas di ingatannya. Padahal, dia sudah susah payah untuk menyatukan tiga keluarga rasisme itu tapi mengapa sulit sekali untuk berdamai dengan kakek kandung sendiri? Entah, hanya mereka yang dapat menyelesaikan masalah tersebut.

Airis merasa seperti orang yang phobia terhadap ketinggian di tengah jembatan gantung. Rasanya pengen cabut, serius.

"Anuu...? Sampai kapan kalian akan saling pandang dingin begitu?" tanya ia mulai resah akan suasana kaku ini. Tapi, diabaikan.

"Huhhh.. Yah, terserahlah," gumamnya sudah pasrah.

Darren mengalihkan pandangannya pada cincin pernikahan yang ada di jari Lyon. "Datang ke pertemuan minggu ini bersama anak dan istrimu," ujarnya tiba-tiba yang langsung membuat alis Lyon bertaut seketika.

Tidak, dia heran. Yah, dia tahu kedatangan kakeknya ke sini pasti tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memantau perkembangan perusahaan atau tidak soal keluarga, pertemuan, atau hal berbaur dengan keluarga Ziffe. Tapi, selalu hanya dia sendiri. Sangat jarang keluarganya juga diterlibatkan jelaslah dia tidak mengerti.

My Sociopath BoyfriendCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang