Sembilan Belas

187 37 3
                                        

Jangan lupa kasih vote dan komen Kalau suka MAKASIH

*****

Bel ke pelajaran kedua sudah berbunyi. Starla bersama Sabrina yang masih di taman belakang sekolah segera melangkah menuju ke kelas.

Sesampai di dalam kelas sudah ada Belva, Vanya, Kania dan Naomi. Untung Guru belum ada yang datang, dengan segera Starla pun duduk diikuti oleh Vanya.

Kedua mata Starla diam-diam melirik ke arah Bianca dengan tatapan sinis.

Starla juga fokus menatap ke arah papan tulis. Dia masih memikirkan kejadian di kantin tadi.

'Ck. Gue harus bikin Sagara percaya lagi sama gue, serius! Ini tuh ulah Bianca sendiri,' batinnya dengan meremas pena yang dia pegang.

Tiba-tiba datang seorang Guru, kelas tersebut keadaannya menjadi berisik karena kedatangan guru terkenal lawak, jago gombal dan jago berpantun, tapi ... entah lah.

"Selamat siang, anak-anak!" sapanya tersenyum lebar.

"Siang juga, Pak!"

"Pak, Pak! Bapak semakin buncit perut, Bapak!" sahut salah satu siswi bernama Runa.

"Ada aja kamu."

Iya. Sebut saja namanya Pak Kamaruddin. Pendek, perutnya buncit, berkumis, berkacamata, duda lagi. Dia satu-satunya guru yang pendek, Beh! Xixixi.

"Oh iya. Sebelum Bapak mulai pembelajaran, Bapak ada satu pantun teka-teki nih!" ujarnya senang.

"Wih! Boleh tuh, Bapak! Cepet kasih tau, Pak!" sahut Belva kegirangan.

"Sabar atuh Neng geulis."

Pak Rudin--panggilan akrabnya, dia mulai berdehem. "Ekhem, Jalan-jalan ke pasar malam. Naik wahana sampai lelah. Saat kecil berbaju hitam. Sudah besar bajunya merah?
Apakah itu? Ada yang tau?" Pak Rudin mengedarkan pandangan satu persatu ke semua orang di kelas tersebut, sampai akhirnya matanya berhenti di salah satu siswi yang mengangkat tangan kanannya, bukan hanya itu. Semua orang di sana kompak menoleh ke arahnya.

"SAYA TAU PAK, XIXIXI!" ujarnya cengengesan.

"Apa itu, Vanya?" tanya Pak Rudin. Iya, dialah tadi yang mengangkat tangannya.

"Jawabannya adalah ...." Vanya sengaja menggantung ucapannya.

"~Cabai merah!" lanjutnya dengan mata yang berbinar.

Semua orang di sana terdiam lalu menatap ke arah Pak Rudin dengan tatapan menunggu jawaban dari Vanya benar atau salah.

"Gimana? Bener 'kan, Pak?" tanyanya kesenangan.

Pak Rudin terlihat berpikir lalu. "Heum, jawaban kamu ... itu ... adalah ... BENAR!" balasnya sambil menekan kata-kata terakhirnya.

"Bener, Pak?! Yes! Yuhuuu!" Pak Rudin hanya mengangguk. Saking senangnya, Vanya berdiri kegirangan.

Starla yang duduk di sampingnya menatap jengah ke arah Vanya dengan memutar bola matanya kesal.

"Gak waras!" cibir Starla pelan dan nyaris tidak di oleh orang lain.

"Vanya, sini!" sahut Pak Rudin sambil merogoh saku celananya.

Vanya mengerutkan dahinya, lalu melangkah menghampiri guru itu. Terlihat, Pak Rudin mengambil dompetnya dan mengambil selembar uang.

Seisi kelas tersebut terdiam was-was. Termasuk Vanya yang berdiri di hadapan Pak Rudin itu sendiri.

"Nih. Hadiahnya, selamat jawabannya. Benar!" Pak Rudin mengulurkan selembar uang berwarna merah, bisa di bilang itu Seratus Ribu.

SAGARA[Tamat&Lengkap]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang