Empat Puluh Lima

190 11 2
                                        

P, jan lupa votmen juga yaa

●Saskara mengalami kecelakan

*****

Bel pulang pun berbunyi

Waktu yang di tunggu-tunggu oleh semua siswa SMA Bima Sakti. Sagara sekarang ini sedang berada di parkiran bersama teman-temannya.

"Sa," panggil Devon ke Sagara.

Sagara yang hendak memakai helm seketika menoleh ke arah Devon dengan tatapan bertanya.

"Apa?"

"Eum ...."

Sagara mengangkat salah satu alisnya bingung. "Apa? Cepet ngomong, aku lagi buru-buru."

Devon refleks nyengir. "Eh, gak jadi deh. Gue lupa mau ngomong apa."

Sagara mengendus kesal. "Ya udah."

Galang tertawa kecil. "Lagian sih masih muda kok udah pikunan."

Devon mendelik tajam. "Serah gue lah setan!"

"Dih."

"Udah-udah, jangan berantem deh. Ayo kita pulang, tar jan lupa pada dateng ke markas," sahut Sagara sambil memakai helm-nya.

"Siap Bos!" balas mereka barengan.

Dan langsung saja keenam cowok itu sekarang pun meninggalkan kawasan sekolah untuk pulang ke rumahnya.

*****

"Mas udah gila?!" gertak Maya marah saat tau Burhan ingin menceraikan dirinya.

"Tetep gak mau Kamu?!"

"Iya! Aku masih cinta sama kamu! Dan kamu gampangnya mau ceraikan aku?! Kasihan sama Saskara!"

"Saya tidak peduli dengan anak itu, Maya! Yang aku inginkan cerai sama kamu dan menikah dengan wanita lain!"

"Papa sekarang jahat," gumam Saskara yang tak sengaja mendengar pembicaraan kedua orang tua-nya itu.

"Aku gak mau!" gertak Maya bersikukuh.

Plak!

Dengan tega Burhan menampar Maya. Maya meringis kesakitan saat terkena tamparan kuat dari Burhan, dengan berlinang air mata Maya menatap lekat ke arah Burhan.

"Silakan ceraikan aku! Dan nanti aku akan membawa Saskara dari rumah ini!"

Burhan tersenyum sinis. "Bagus."

Saskara yang melihat itu hanya mengepalkan tangannya emosi. Rahangnya mengeras, lalu cowok itu pergi dari sana keluar dari rumah entah ke mana.

Oh iya. Saskara itu dari tadi berada di ambang pintu rumahnya. Dan kedua orang tua-nya berada di ruang keluarga, dan tanpa sengaja Saskara melihat itu semua.

Dan sekarang Saskara berada di tengah perjalanan menuju ke suatu tempat dengan mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.

Dan gara-gara memikirkan hal kedua orang tua-nya tadi. Saskara menjadi tidak fokus berkendara dan detik itu juga kedua matanya membelak kaget saat melihat dirinya hampir bertabrakan dengan sebuah mobil truk.

Alhasil Saskara oleng dan dirinya malah terjatuh dari motornya lalu berguling ke jalanan aspal dan kepalanya tidak sengaja membentur pembatas jalan.

Sedangkan mobil truk tadi juga menabrak pohon.

Tanpa sengaja Deon dan teman-temannya melihat banyak orang mengerumuni Saskara di pinggir jalan.

Deon lantas turun dari motornya dan menghampiri kerumunan itu bersama teman-temannya. Dan seketika matanya membelak saat tau orang itu siapa.

Deon lantas ingin membawa Saskara ke rumah sakit dengan bantuan teman-temannya, dan teman-temannya hanya setuju saja.

******

Kini sekarang mereka berada di rumah sakit. Dan Saskara sekarang berada di tangani dokter, Deon terus mondar-mandir seperti setrikaan di depan ruangan inap Saskara.

Salah satu temannya berdehem sambil memutar bola matanya malas. "Deon, lo gak capek apa kek gitu?"

Seketika Deon menoleh ke arah temannya itu bernama Saka. "Serah gue. Eh bentar gue telfon Sagara dulu."

Deon mengambil ponselnya di saku jaketnya ingin menelfon Sagara dan saat telfon tersambung. Deon segera memberi tau kabar soal kecelakan Saskara..

"Saskara gimana keadaannya?" tanya Sagara yang tiba-tiba datang bersama Devon, Galang, Valdo, Hudson. Dan ... Maya?

"Saskara mana?"

Deon dengan tenang menjawab. "Masih ditangani dokter, Tan."

Maya menangis

"Tan, jangan nangis. Semoga aja Saskara baik-baik saja," kata Sagara yang tidak tega melihat Maya--Ibunya Saskara menangis.

Maya tidak mengubris perkataannya Sagara. Wanita paruh baya itu langsung duduk di kursi yang sudah disediakan.

"Kamu kecelakan, dan Papa kamu mau menceraikan Mama. Mama harus gimana?" gumam Maya pelan tapi masih di dengar oleh Sagara.

"Apa? Orang tuanya Saskara mau cerai?" Sagara membatin..

Sudah satu jam lamanya Saskara ditangani dokter. Dan tak lama kemudian, seorang berjubah putih keluar dari ruangan itu.

Maya langsung menghampiri orang itu. "Dok, gimana keadaan anak saya? Dia baik-baik saja 'kan?" Terlihat jelas di kedua mata Maya ada kecemasan.

Dokter yang bernama Bahri itu menghela napasnya. "Keadaan anak Ibu eum, dia koma. Akibat benturan keras di kepalanya, dan tangannya juga terluka."

Maya terdiam sejenak, lalu kembali menatap ke arah Dokter Bahri. "Sembuhkan anak saya, Dok."

Dokter Bahri tersenyum sekilas. "Iya, Ibu bantu doa saja. Ya sudah saya permisi dulu."

Maya hanya mengangguk, dan dokter itu pergi. Sagara dan lainnya hanya terdiam satu sama lain.

"Sas, lo cepet bangun dong," gumam Sagara pelan.

Maya kembali duduk di kursi. Dan kembali menangis.

"Tan, Tante yang sabar, ya?" Sagara ikut duduk di samping Maya.

Maya menoleh sekilas ke Sagara, lalu tersenyum simpul. "Iya, makasih ya."

"Semoga Saskara cepet bangun." Maya hanya mengangguk.

"Eum, Tan. Sagara boleh nanya gak?"

"Iya boleh. Mau nanya apa?"

"Eum ... maaf ya, Tan. Kalau pertanyan saya terlalu sensitif buat, Tante." Sagara meringis dulu lalu kembali berbicara. "Apa benar kalau Tante sama Om Burhan mau cerai?"

Jleb!

Seketika Maya terdiam. Lalu perlahan wanita paruh baya itu mengangguk mengiyakan, lalu kembali tersenyum.

"Iya."

Sagara terdiam.

*****

Segini dulu yah semoga suka

Lanjut Apa Jangan?

Maaf kalau alurnya gak jelas hihi hehe

SAGARA[Tamat&Lengkap]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang