8. Keangkuhan si Manik Hitam

10.6K 1K 13
                                        


"Ma.... Mama?" sahut Zera menarik baju Ita.

"Kenapa sayang?"

"Abang...." tunjuk Zera ke belakang.

Ita menoleh dan mendapati Zeno diam mematung dengan wajah cemberut. Ah! Ita lupa. Anak itu kan masih ngambek.

"Abang Zenoo..., sini sayang," panggil Ita.

Zeno tidak bergeming. Ia justru bersedekap tangan sambil melengos. Percayalah, dari pada kesal Ita justru gemas dengan tingkah Zeno.

"Ya udah nggak dikasih es krim," ucap Ita menggoda.

"Anti kita beli et tim Ma?" tanya Zera semangat. Hal itu membuat Zeno terlonjak sejenak kemudian kembali melengos saat Ita menatapnya.

Gemas maksimal!

"Iya sayang. Abang Zeno kalau mau es krim sini deket Mama," bujuk Ita.

Perlahan Zeno mendekat. Berhasil! Strategi menaklukan hati Zeno sukses. Memang tidak ada yang bisa mengalahkan kelezatan es krim yang dinikmati di siang hari terik.

"Sebelum kita ke kedai es krim. Mama minta kalian baikan dulu. Ayo, cara baikan gimana?"

Zera dan Zeno saling tatap. Zera dengan tampang judesnya dan Zeno dengan tampang cemberutnya. Keduanya belum mau mengalah. Untung saja koridor ini tidak banyak orang lewat. Jadi Ita bisa santai menghadapi dua bocah yang tengah bertengkar ini.

"Kalau nggak mau maafan nggak ada es krim buat kalian," tekan Ita. Sesekali anaknya harus ditegasi.

Keduanya spontan berjabat tangan. Di mulai dari Zera yang meminta maaf kemudian Zeno.

"Nah, yuk kita ke kedai es krim. Zera sama Zeno mau rasa apa?"

"Zela cotat."

"Zeno tobeli."

Keduanya tampak antusias menjawab. Kemudian langkah membawa mereka pada kedai es krim yang lokasinya tidak jauh dari rumah sakit.

***

Terik panas matahari tidak menyurutkan niat kedua bocah dengan baju warna senada itu. Mereka kompak berjalan sambil menghitung barisan paving di trotoar jalan.

"Catu, dua, iga, ima--"

"Salah! Abis iga, empat teyus ima," cetus Zeno tidak terima.

Zera hanya mendengus kemudian menghitung kembali namun lagi-lagi ada satu angka yang ia lewatkan kemudian dikoreksi lagi oleh Zeno.

Melihat interaksi anaknya Ita hanya tersenyum gemas. Pertengkaran tadi seolah angin lalu.

Ah, Ita harap sampai besar pun mereka rukun seperti ini. Saling berbagi dan menyayangi. Satu-satunya harapan seorang Ibu adalah keharmonisan anak-anaknya.

"Itu et tim-nya," tunjuk Zeno semangat mengarah ke bangunan dua lantai seperti cafe di seberang sana.

"Eits, kalau di jalan raya nggak boleh....?"

"Lali-lali," jawab mereka kompak dengan dua tangan ke atas.

"Pinter. Nanti kalau lampu di sana berubah warna merah. Kita jalan. Oke?"

Anggukan semangat yang Ita dapatkan dari anak-anaknya. Rupanya mereka sangat tidak sabar menikmati es krim.

Ita menggenggam erat kedua tangan anaknya sebelum menyebrang. Tak jarang ada orang yang melambai ke mereka sebab gemas dengan bocah kembar itu.

Sempat khawatir karena kendaraan yang berlalu lalang di dua jalur ini akan membahayakan Zera dan Zeno. Tapi, untung saja siang ini tidak terlalu padat. Ita bisa bernafas lega sebelum teriakan Zera mengalihkan kewaspadaan Ita.

"Papa?!"

Spontan Ita mencari sosok dengan sebutan Papa itu. Hingga matanya menemukan sosok Raga di seberang sana.

Sayangnya pemandangan di depan sana cukup mencekik tenggorokan Ita. Raga, suaminya sedang bersama sekertaris sekaligus selingkuhannya, Sasa.

"Papaa!" teriak Zera sekali lagi.

Melihat Papanya melangkah pergi Zera spontan melepas genggaman tangan Ita lalu lari begitu saja. Ita sigap mengejar Zera dan berhasil menangkapnya.

Syukurlah masih sempat!

Nafas Ita memburu. Pikirannya masih kalang kabut membayangkan hal-hal mengerikan sampai ia tidak mendengar peringatan histeris dari orang-orang yang memintanya untuk segera menyingkir.

Memangnya kenapa?

Kepanikan masih menyelimuti Ita hingga tak bisa berpikir jernih. Lalu setelah manik itu menangkap sebuah truk besar menuju ke arahnya barulah ia sadar. Dirinya berada di tengah jalan dengan Zera dalam pelukannya.

Sekejap Ita juga melihat sopir truk yang terlihat panik. Ah, apa ini akhir hidupnya? Padahal Ita ingin melihat anak-anaknya tumbuh. Lalu memberi kesempatan untuk janin dalam kandungannya merasakan dunia.

Sayang sekali, ini bukanlah akhir yang bagus. Sekilas Ita melihat Zeno dengan tatapan polos menatap dirinya tanpa tau apapun.

Tidak! Zera harus hidup!

Setidaknya, jika ia mati. Maka harus ada yang menemani Zeno. Mereka adalah dua takdir yang tidak bisa dipisahkan. Selalu bersama sejak dalam kandungan.

Ita melempar Zera sekuat tenaga. Usaha terakhir yang bisa Ia lakukan. Insting seorang Ibu untuk melindungi anaknya.

CIIIIITTTTT

BRUKKK

Kesadaran Ita kembali sebelum sempat gelap seluruhnya. Sebuah tangisan dan gemuruh suara orang terdengar panik.

"Mamaa," tangis pilu anak kecil sambil memeluk Ibunya.

Dari suaranya Ita bisa menebak itu Zeno. Mau bagaimana lagi? Ita tidak bisa melihat dengan jelas akibat cairan yang masuk ke mata. Badannya terasa kaku ketika niat memeluk Zeno memenuhi dirinya.

Mendapat celah penglihatan, Ita segera melihat ke trotoar. Mencari keberadaan Zera. Seorang paruh baya menggendong Zera yang sedang menangis dengan luka memar di kepala.

Dalam hati tak luput kata syukur selalu Ita panjatkan. Anaknya selamat. Perjuangannya berhasil. Di tengah rasa sakit teramat. Ia tersenyum.

Lalu, hal terakhir yang harus Ita pastikan. Namun tak jadi karena rasa sakit di sekujur tubuh seolah memberi tahu, janin itu tidak terselamatkan.

Seseorang menarik Zeno. Dengan samar Ita mendengar kata rumah sakit dari beberapa mulut. Sedetik kemudian telinga Ita berdenging. Ia tidak bisa mendengar selain dengungan hebat.

Sebelum kesadaran merenggut. Ita melihat dengan jelas sosok suaminya. Pemilik seluruh hatinya sekaligus pemilik sumber rasa sakitnya. Ia berdiri angkuh bersanding dengan seorang wanita dengan tatapan nanar.

Di detik-detik nafas terakhirnya pun laki-laki itu masih memberi luka. Sayatan baru telah terukir ketika melihat Raga menyangga tubuh Sasa yang hampir limbung karena melihat adegan kecelakaan. Padahal di sini anak dan istrinya telah menjadi korban!

Sebuah kenyataan terlintas. Ita harus menerima bahwa kedua anaknya akan dirawat oleh Raga sepeninggal dirinya. Belum lagi jika Raga menikahi Sasa dan memiliki anak. Apakah Raga akan menepati janjinya untuk merawat Zera dan Zeno?

Sepeser keyakinan pun tidak ada! Raga pasti tidak akan menunaikan kewajiban sebagai ayah!

Hanya akan ada rasa sakit yang anak-anaknya dapatkan dimasa depan. Bukankah rasa sakit Ita selama ini jadi sia-sia?

"Jika memang berakhir seperti ini lebih baik Zera dan Zeno tidak pernah dilahirkan!"

Kalimat itu menjadi permohonan terakhir yang Ita utarakan. Kemudian rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya. Seiring dengan pandangan memburam. Ibu dua anak itu menghembuskan nafas terakhirnya.








Bantu vote & komen yes
Lope youu

AFTER ENDING (TERSEDIA EBOOK)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang