"Pak...." Ita mendorong pelan tubuh Raga sehingga wajah khawatir itu tampak jelas, "aku baik-baik aja. Gara-gara kecelakaan itu tol jadi macet makanya kita memutuskan untuk balik lagi," jelas Ita.
"Lihat kan? Aku sama Hesa baik-baik aja," ucap Ita ceria sembari beralih merangkul tangan Hesa.
Melihat itu Raga perlahan mundur. Jujur saja, ketika turun dari mobil pandangannya terkunci pada sosok Ita saja hingga lupa posisi Hesa.
"O-oh iya..., syukurlah," ucap Raga canggung. Baru saja ia memeluk pacar orang tanpa izin.
"Kalau begitu nikmati waktu kalian," lanjutnya kemudian beralih pergi. Tapi sebelum itu Raga sempat menepuk pundak Hesa dan berbisik, "jaga Ita baik-baik!" tekan Raga.
Menyadari perubahan mimik wajah Hesa. Ita pun langsung mengajak Hesa pergi. Mereka adalah dua orang yang tidak boleh disatukan. Sisi masa lalu dan masa depan Ita.
"Hesa?" panggil Ita saat mereka memilih taman kampus untuk menepi.
"Hm?”
"Makasih ya."
"Untuk apa?"
Ita meraih tangan Hesa, "makasih untuk tangan ini. Tadi udah berjuang untuk nggak buat keributan macam drama SMA yang rebutan pacar."
Pipi Hesa terpantau memerah. Matanya berpaling dari manik Ita. Ciri khas orang itu jika sedang malu."Susah tau!" Celotehnya setelah sekian lama mengatur kegugupan.
"Apanya?"
"Ngatur emosi biar nggak nonjok orang itu. Bisa-bisanya langsung peluk pacar orang!" sungut Hesa.
"Hahaha. Hesa, Hesa...," Ita diam sejenak. Jika Hesa tau kebenaran tentang masa depan itu. Apa yang akan dipikirkan Hesa? Ita jadi penasaran.
"Hesa kamu percaya nggak sama orang yang memutar waktu?"
"Kayak di drama korea itu?"
"Iya. Percaya nggak kalau di dunia nyata ada kejadian kayak gitu?"
"Hm. Entahlah…. menurut ku itu mustahil sih. Bahkan aku pernah baca artikel tentang pesawat yang lepas landas tahun seribu delapan ratus berapa gitu terus baru tiba di bandara sepuluh tahun setelah keberangkatan. Artikel itu aja di bilang hoax..., yah, masih jadi misteri sampe sekarang."
"Memangnya kenapa tiba-tiba bahas itu?"
"Yah, nggak apa-apa. Tapi, kalau misal aku yang sekarang adalah aku di masa depan yang memutar waktu kembali. Gimana?" tanya Ita ragu-ragu.
"Ya nggak gimana-gimana. Bagi ku Ita tetap Ita. Bahkan di kehidupan lain. Walau sosok mu beda dari sekarang. Aku bakal tetap jadi Hesa mu sekarang."
"Masak? Kalau di kehidupan lain aku jadi kodok gimana?"
"Hemm. Mungkin bakal kupelihara..., waktu kecil aku suka main kecebong lho, hehe."
"Aku percaya Tuhan menghadirkan seseorang dalam hidup kita bukan tanpa arti. Kalau benang takdir bisa dilihat mungkin kita nggak bisa lihat pemandangan taman ini. Yang ada cuma benang merah terhubung satu sama lain."
"Lalu di sini...." Hesa mengarahkan telunjuk yang bergerak dari kelingkingnya ke jari kelingking Ita, "ada benang merah kita."
"Entah suatu saat akan putus atau semakin kokoh. Tapi akan ku pastikan benang itu hanya akan menipis dan tidak akan putus."
"Kalau seandainya aku mati? Apa benang itu masih tetap ada?" spontan Hesa menoleh mendapati tatapan sendu Ita. Kenapa tiba-tiba gadisnya bilang seperti itu?
"Jangan bilang kayak gitu! Aku bahkan nggak bisa bayangin bakal jadi gimana. Justru lebih baik aku mati duluan ketimbang kamu."
DEG!
Terjawab sudah kenapa Tuhan mengambil Hesa dulu saat hari kelulusan. Ternyata memang harapan Hesa benar seperti itu. Lalu Tuhan mengabulkannya tepat di hari kelulusan. Karena di masa depan nanti Ita akan mati mengenaskan di aspal jalan.
Ita menepuk pundak Hesa, "jangan dong! Nanti aku jadi jomblo. Males banget!" sungut Ita.
Satu-satunya hal yang bisa Ita persembahkan pada laki-laki baik ini hanya masa depan tanpa dirinya. Entahlah, sejauh ini Ita merasa hidupnya tidak berubah. Tidak ada yang bisa memprediksi masa depan. Sama halnya manusia biasa, Ita pun saat ini bukan lagi manusia yang berasal dari masa depan. Karena dia sendiri pun sudah mengubah terlalu banyak garis takdir.
^^^^^^
Sepulang dari kampus. Di tengah kota, ketika terik matahari menyengat. Tepat di perempatan jalan. Lampu merah sedang menyala.
"Kenapa? Dingin?" tanya Hesa yang melihat Ita bersedekap tangan.
"Iya. Lumayan."
"Hari terik padahal," Hesa menyempatkan diri mengecek suhu kening Ita. "Kayaknya kamu demam deh. Mampir rumah sakit dulu ya?"
"Nggak usah. Langsung balik aja. Aku mau rebahan."
"Ya udah mampir apotek bentar ya," usul Hesa. Dia memang tipe orang yang tidak bisa diam jika melihat Ita sedang tidak baik-baik saja.
Pasrah, Ita kenal baik sifat Hesa yang itu. Mau ditolak pun ia akan diam-diam menaruh obat ke depan rumah.
"Iya deh. Terserah."
Tiba-tiba suara gemuruh datang dari belakang bersamaan dengan hantaman kuat. Mobil yang ditumpangi Hesa dan Ita terdorong ke depan hingga terhimpit oleh mobil truk pengangkut besi.
Percikan darah menetes dari mobil merah ringsek tak berbentuk. Entah darah siapa itu. Yang jelas darah itu mengalir dari posisi penumpang.
Mungkin di sini Tuhan akan menjawab permohonan Ita. Bagi wanita menjadi seorang ibu adalah tujuan akhir. Menua bersama adalah bonus. Ita sudah merasakannya dan itu sudah cukup. Jika Tuhan meminta untuk kembali sekarang. Ita tidak akan keberatan.
Tentang Raga? Biarlah! Toh, sejak awal Ita tidak berniat balas dendam. Justru semakin kesini Ita semakin sadar dengan alasan perilaku dinginnya. Lalu perlahan hatinya memaklumi.
Ita bukan bosan hidup. Ia hanya sudah merasa cukup. Biarkan istirahat panjang menjadi pilihannya.
^^^^^^
Suara langkah mendekati pintu apartemen. Dingin! Apartemen yang biasa terlihat hangat ternyata bisa menampakan aura menyedihkan seperti ini.
Ini sudah ke tiga kali dalam sehari Sera menghampiri apartemen Raga tanpa berani memasukinya. Jangankan memasuki, mengetuk pun Sera takut. Di dalam sana. Ada sosok Paman yang tidak pernah ingin Sera lihat. Sosok hancur tanpa tujuan hidup.
Tiga hari lalu. Tepat sehari setelah Ita di kabarkan koma. Raga seperti mayat hidup menatap kosong kedatangan Sera.
"Hiks.... kenapa jadi kayak gini," isak Sera. Memeluk tumit dengan bersandarkan dinding. Selayaknya anak kecil yang terombang-ambing ketika patokan hidupnya tak ada. Itulah yang dirasakan Sera.
"Sera?" panggil seseorang saat lift di ujung sana menutup.
"Kak Reon..., Paman Kak..., tolong Paman..., hiks."
"Dia di mana?"
"Di dalem. Aku nggak berani masuk. Aku takut Paman melakukan hal-hal yang—“
"Ssst..., udah kamu di belakang Kakak aja."
Reon membuka kenop pintu. Pemandangan yang di dapat sungguh mencengangkan.
Botol alkohol di mana-mana. Putung rokok. Obat tidur. Bahkan Reon menemukan bubuk mencurigakan. Ia buru-buru mengantongi sebelum Sera lihat. Ia tidak ingin menambah beban pikiran gadis itu.
"Paman!" pekik Sera.
Apa yg terjadi pada Raga?
See you next chap
Vote komen yak
KAMU SEDANG MEMBACA
AFTER ENDING (TERSEDIA EBOOK)
Fantasy[Follow dulu sebelum baca ya gaes] "Kalau diberi kesempatan untuk mengulang waktu. Hal pertama yang mau kamu ubah apa?" "Tidak pernah bertemu dengan suamiku!" Ita diberi kesempatan oleh sang waktu untuk menulis kembali hidupnya. Namun, siapa yang me...
