35. Dua Sahabat

2.1K 143 1
                                        

Ita sibuk melihat nail art yang disajikan oleh pihak salon sedangkan Tina sesuai dugaan sedang memilih warna cat rambut. Ita merespon sahabatnya itu ketika ia tampak bingung.

"Udah nemu warna yang pas?" tanya Ita.

"Udah dong. Karena gue pecinta dongker akhirnya gua putuskan memilih dongker. Yey! Akhirnya! Gue bisa buat keputusan sendiri perihal fashion," jawab Tina kegirangan.

Syukurlah! Selama perjalanan kemari Ita selalu berpikiran negatif tentang Tina yang tiba-tiba pulang sebelum masa terapinya selesai.

"BTW? lo kenapa balik? Bukannya pengobatan lo masih lama?"

"Oh itu. Gue udah sembuh kok. Tenang aja! Mental gua udah gue lapis pake baja."

"Ih lebay! Serius gue tanya. Lo balik bukan karena disuruh kakak lo kan?"

"Nggak lah, eh! Iya nggak ya? Yah, pokoknya alasan gue balik karena gue pingin cepet-cepet warnain rambut. Bosen, di sana cuma ada laut sama gunung."

"Tapi kan udaranya enak. Aneh banget lo. Yang lain pingin kesana malah lo pingin minggat."

"Yah, gue gitu...."

"Terus kuliah lo?" tanya Ita hati-hati.

"Emh, nggak tau deh. Untuk sekarang gue mau me time yang lamaaa banget. Gue mau cobain apapun yang belum pernah gue cobain. Mumpung gue di sini kan? Siapa tau keluarga gue suruh gue ke luar negeri buat pengobatan lanjutan."

Mata Ita menyendu, "memang ada omongan mau terapi ke luar negeri?"

Dalam hati, apakah separah itu mental illness Tina? Atau ini cara supaya keluarga Tina bisa menjauhkannya dari Ita?

"Yah, lo tau sendiri kakak gue kan? Padahal gue udah bilang baik-baik aja tapi dia tetap maksa. Entahlah, mereka terlalu over protect. Kadang gue nggak nyaman."

Dugaan Ita benar! Tina dipaksa mengakhiri terapinya bersama dokter Rara. Ia bangkit lalu memeluk Tina. Jika di kehidupan lalu ujian Ita adalah ditumbalkan keluarganya maka di masa ini ujian Tina dikekang keluarga.

"Gue bersyukur ketemu temen kayak lo. Dan lo tau, menurut gue akhir-akhir ini sikap lo jadi tambah dewasa. Kalau nggak salah semenjak habis operasi waktu itu."

Ita langsung tersenyum kikuk, "ma-masak sih? Haha. Ngada-ngada lo. Gue ya tetap gue. Haha."

"Iya. Ita tetaplah Ita. Teman terbaik gue sampai kapan pun," Tina meraih kedua tangan Ita lalu menggenggamnya, "gue harap, lo dapat kebahagian yang lo cari."

Ita sempat terkesiap sejenak. Ucapan Tina barusan benar-benar seolah tau apa yang sedang Ita perjuangkan saat ini. Menolak prasangka, Ita membalas senyum tulus itu.

"BTW, tumben lo berkata bijak kayak gini. Kayak mau pergi jauh aja," sahut Ita. Menetralkan suasana.

"Heh! Tadi gue udah kasih tau ya! Ada kemungkinan gue ke luar negeri. Ya, siapa tau gue berangkat besok pagi."

"Lo nggak beneran berangkat besok kan?!" tanya Ita sambil melotot.

"Nggak tau juga," balas Tina cuek.

"Ihh! Kesel bener punya temen sok misterius!" dengus Ita kemudian fokus memilih nail art lagi.

Setelah usai dengan perawatan diri mereka pergi ke banyak tempat. Biarkan bintang di langit semakin banyak terlihat, malam ini akan ia habiskan waktunya untuk Tina.

"Tin?" panggil Ita. Mereka berada di taman komplek dan menempati masing-masing ayunan.

"Hm?" dehem Tina.

AFTER ENDING (TERSEDIA EBOOK)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang