20. Me Time

6.6K 576 9
                                        

"Sera?" suara baritone terdengar.

Sosok tinggi dengan pakaian rapih berjalan mendekat. Perlahan namun pasti. Dasi marun berpadu jas abu-abu menunjukkan kekokohan jabatan pada suatu instansi.

Tak seperti penampilannya. Mata panda itu sepertinya cukup menyimpulkan betapa lelah laki-laki ini. Reon Arshad. Begitulah namanya. Dulu, Ita menyebutnya ekor Raga. Karena kemana pun Raga pergi. Pasti ada Reon.


"Eh, ada kamu juga," sahutnya lagi.

Ita hanya tersenyum kaku, "Kak Reon kenal dia?" tanya gadis yang di panggil Sera itu.

"Iya. Dia itu—“

Gawat!

"Ah....anuu...." sahut Ita cepat. Entahlah, insting Ita bilang, "Jangan sampai gadis ini tau kalau Ita ada kaitannya dengan kecelakaan Raga!"

"S-saya Hitagina Rakasiwi. Saya anaknya Pak Haris Admadjaya. M-mau jenguk Pak Raga.... emh.... anu.... s-soalnya Papa nyuruh anterin ini...." tunjuk Ita pada bingkisan buah segar yang sempat ia beli tadi.

"Oh, iya.... makasih ya. Ayo masuk," ajak Reon. Untung saja ia lupa pertanyaan Sera tadi.

Tidak diduga, Sera berdecak kemudian melangkah pergi tanpa suara. Gadis dengan seragam SMA berbalut hodie dongker itu menjauh. Lalu buat apa dia repot-repot kemari? Pakai acara marah-marah lagi!

Sabar! Bagaimana pun wajahnya mirip sekali dengan Zera. Alam bawah sadar Ita tidak mengizinkan ia membencinya.

Kalau dipikir-pikir Ita tidak pernah melihat Sera di kehidupan lalu. Kalau benar ia sepupu Raga. Pasti di acara-acara keluarga mereka bertemu. Aneh!

Setelah Memutuskan untuk tidak berpikir mendalam. Ita memilih masuk. Di sana Raga terbaring dengan banyaknya selang infus menempel di tubuh.

Dering handphone Reon terdengar. Ia buru-buru keluar setelah melihat nama dial di layar. Sepertinya itu panggilan mendesak.

Yah, memangku jabatan sebagai wakil direktur memang tidak mudah. Apalagi si direktur utama sedang berbaring seperti ini. Pasti Reon sangat keteteran.

Ita memandangi cukup lama wajah Raga sebelum menarik kursi dan duduk di samping Raga. "Nggak kasihan sama Reon? Dia udah kayak mayat hidup tau nggak," ucap Ita satu arah.

Tatapan Ita perlahan menyendu. Sama halnya di kehidupan itu. Ketika semuanya belum rumit. Ita selalu memandangi wajah Raga saat tidur.
"Persis banget Zera sama Zeno," gumamnya di luar kendali.

"Nggak adil. Aku yang hamil sembilan bulan. Melahirin susah. Pas keluar mirip kamu. Mana dua-dua-nya lagi," beo Ita.

Diam cukup lama. Lalu bersuara, "Maaf. Aku nggak bermaksud buat kamu jadi kayak gini."

"Aku.... berniat merubah takdir. Tapi selama ini yang aku lakukan hanya mencegah pertemuan dengan mu. Aku sadar itu tindakan pengecut."

"Pertemuan kita nggak bisa dicegah. Kali ini aku nggak akan lari. Bangunlah dan datangi aku. Dari pada orang lain, setidaknya aku udah kenal karakter mu. Dan sekali lagi aku nggak akan jatuh cinta."

AFTER ENDING (TERSEDIA EBOOK)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang