22. Buket Bunga

6.1K 524 11
                                        

Siang ini Ita dibuat terkejut dengan dua hal. Pertama, kehadiran Reon dirumahnya dan kedua, buket bunga entah dari siapa yang datang melalui paket kilat setelah Reon singgah.

Pembicaraan antara Reon dan Haris terdengar rumit di telinga. Tentang saham, obligasi, devisit dan istilah dalam dunia perekonomian lainnya.

Membuat Ita seperti bayi baru lahir yang harus mendengarkan bahasa asing dua orang di depannya. Terlebih sejak tadi Ita tidak diizinkan ke kamar. Hingga inti dari maksud kedatangan Reon pun terlilhat jelas.

"Saya kesini bermaksud menawarkan kontrak baru."

DEG!

"Dengan anak Pak Haris sebagai...."

BRAK!

Ita spontan berdiri. Menatap nyalang ke Reon.

"ITA! Kamu apa-apaan...." bentak Haris. Ia tak pernah mengajarkan hal seperti ini sebelumnya.

"Papa bilang nggak akan melibatkan aku dalam jaminan apapun. Mana?!"

"Pembohong!" Ita terisak kemudian pergi meninggalkan mereka yang tampak kebingungan.

Suara bantingan pintu terdengar. Ita telungkap di kasur menumpahkan segala kesalnya. Ita juga tidak paham kenapa ia bisa se-melow ini.

Padahal di masa depan. Sudah berulang kali ujian menerpanya dan ia tetap tegar. Mungkin karena hormon remajanya sedang berkembang. Membuat Ita sensitif.

"Huhuuuhuu. Pembohong! Papa pembohong!" Bulir air mata lolos begitu saja. Tak terbendung. Mereka mendeklarasikan sakit hati hingga jatuh tak bersisa bentuknya.

Tidak lama Haris dan Ria datang. Ita menyumpahi kelupaannya mengunci pintu.

"Nak...." usap Ria pada pucuk kepala Ita.

Suara sesenggukan masih terdengar. Ita masih menangis lirih tertahan bantal.

"Ita.... coba dengerin Papa dulu!"

Tidak ada respon. Haris meneruskan kalimatnya. "Seharusnya kamu nggak bertindak seperti itu. Papa malu sama rekan bisnis Papa. Dikira nggak mengajarkan sopan santun-"

"Salahin aja terus!" pekik Ita. Ia mengambil posisi duduk menghadap Haris. "Memang apa yang bener dari aku? Nggak ada! Aku selalu salah di mata Papa. Papa janji nggak akan melibatkan aku.... tapi mana? Mana Pa? Aku tetep jadi syarat kontrak kerjasama Papa kan?!"

"Nak-" sahut Ria.

"Apa?! Kali ini Mama bakal belain Papa lagi? Bilang kalau ini demi masa depan keluarga ini? Ma! Aku capek ditumbalin! Aku juga mau bahagia Ma! Milih jalan yang terbaik buat ku sendiri. Nggak ditentuin terus-terusan!" keluh Ita. Ia di luar kendali. Mencurahkan segala kekesalannya yang sudah lewat.

"Ita.... Papa nggak punya pilihan lain. Ini permintaan Direktur Raga langsung. Lagi pula sampai paket C datang. Kamu punya waktu tiga bulan kan? Dari pada di rumah. Lebih baik cari pengalaman kerja sebagai asistennya Dirut Raga...."

Tunggu! Asisten?

"Beliau denger kamu nggak lulus ujian. Sebenernya Papa malu. Tapi, Dirut Raga mau berbaik hati menerima mu. Gunakanlah kesempatan ini sebaik--"

AFTER ENDING (TERSEDIA EBOOK)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang