44. Hantu Checkout

2.2K 140 9
                                        

Ita mengernyit. Ini sudah ke tiga kali dalam sehari paket mengalir deras ke meja kerja. Belum lagi hari-hari yang lalu. Sampai detik ini terpantau 29 paket yang Ita terima. Bahkan Ita tidak ingat kapan ia menekan checkout shopee.

Di bilang penipuan pun Ita tidak dirugikan karena semua barang sudah dibayar lunas. Saat cek M-Banking saldonya masih aman. Pasti ada yang sengaja diam-diam mengutak-atik handphone-nya. Tebaknya saat ini, tapi siapa?

Hesa kah? Sepertinya bukan. Ita kenal Hesa. Ia pasti akan bilang. Kalau begitu, Raga? Hais! Mana mungkin!

"Sepertinya bakal repot," ucap Raga yang tidak sengaja lewat dan mendapati paket menggunung dengan barang-barang besar di meja Ita.

"Iya. Lebih repot lagi. Aku nggak tau dalang dibalik hantu chekout shopea. Dia pikir hebat gitu bisa bayarin semua barang ini tanpa diketahui? Cih! Pikir aku orang miskin apa?" dengus Ita. Entah kenapa harga dirinya justru dijatuhkan dengan aksi diam-diam ini.

"Seenggaknya hargailah! Orang itu tulus bayarin semua barang nggak berguna ini. Lagian kenapa keranjang bisa sampe penuh kayak gitu sih. Kalo emang punya duit harusnya langsung checkout dong!" gertak Raga. Tanpa sengaja mengungkapkan identitas si pelaku.

"Oh. Sekarang aku tau dalangnya!" ucap Ita penuh penekanan, "Bapak kan?!"
Raga tersentak ke belakang sedangkan Ita maju langkah demi langkah sengaja menyudutkan Raga, "iya kan?!" tekan Ita sekali lagi.

"I-iya. Puas? Lagian cuma habis dikit kok. Cuma segitu perusahaan ku nggak mungkin bangkrut," ucap Raga membusungkan dada.

"Bagi sebagian orang uang 1.345.000 rupiah itu nggak kecil Pak. Dan yang lebih penting.... bisa-bisanya sih Bapak kepikiran checkout shoppe ku? Motivasinya apa?"

"Sudah ku bilang kan. Aku ingin memberi mu hadiah untuk berterima kasih. Salah siapa nggak mau terima waktu itu. Malah minta cilok mercon lima ribuan."

"Kan Bapak udah kasih cincin itu. Emang itu bukan termasuk hadiah ya?"

"Bukan. Anggap aja itu bonus kerja bukan hadiah."

Ita tidak bodoh. Yakinlah satu cincin saja bisa menghabiskan kocek seharga mobil.

"Nanti aku bayar barang-barang shopee-ku. Mana rekening Bapak?" pinta Ita memaksa.

"Tsk! Udah ku bilang uang segitu nggak ada apa-apanya. Bayar listrik rumah aja kurang. Udahlah nggak usah dibayar. Kayak aku orang susah aja," ucap Raga lagi-lagi menyombongkan diri di luar kesadaran.

"Hah! Susah ngomong sama maniak harga diri!" gumam Ita.

"Apa?"

"E-enggak. Ya udah, ini bakal aku terima tapi besok-besok jangan utak-atik handphone orang seenaknya...."

"Tenang aja! Waktu itu aku lagi unrasional berkat kepedesan cilok mercon. Jadi nggak akan ada dua kali," tegas Raga.

"Baguslah," balas Ita. Diam-diam sudut bibir itu tertarik hingga menciptakan senyum pada punggung arogan yang sudah menjauh.

^^^^^^

Minggu pagi, Raga sengaja joging mengelilingi komplek perumahan untuk menghilangkan pikiran negatif yang dua hari ini menyerang. Kebiasaan menyugar rambut itu tidak pernah gagal menarik fokus para betina dari segala umur yang berpijak di tanah yang sama.

Pikirannya kalut. Bukan lagi tentang bisnis. Tapi tentang gadis pemilik senyum paling indah, Hitagina Rakasiwi atau sering dipanggil Ita.

"Eh, Pak Dirut," sapa suara wanita.

Fokus Raga teralihkan dan mendapati Sasa yang memakai leging ketat dengan rambut di kucir kuda, "Pak Dirut sering joging di sini ya?" ucapnya ingin tahu.

"Hm," dehem Raga kemudian matanya menyorot ke segala arah.

"Wah, sama dong. Saya juga sering kesini kalau waktu luang."

Tidak ada respon. Raga justru bangkit dari duduk dan berniat lari satu putaran lagi.

"Anu..., Pak?" cegah Sasa. Ia sengaja menarik lengan Raga.

"Kenapa?"

"Itu..., habis ini Pak Dirut ada acara?"

"Ada," dusta Raga.

"O-oh, padahal saya mau ngajakin ke resort yang lagi viral itu sekalian cari referensi untuk program bisnis wisata yang akan Bapak buka. Ya udah deh...."

"Resort mana?" ucap Raga tertarik. Pasalnya Ita pun sedang menuju resort bersama Hesa.

Tidak bisa dibohongi kalau wajah Sasa tampak sumringah, "Resort Kalafan Pak. Di sana tempatnya masih asri lho."

"Oke, bersiap-siaplah. Aku akan jemput di depan kantor," ucap Raga kemudian beralih meninggalkan Sasa yang tampak loncat kegirangan.

Tidak butuh waktu lama bagi Raga untuk bersiap-siap. Ia memilih outfit hodie hitam dan lepis hitam. Di tambah topi yang juga hitam membuat kesan laki-laki matang itu terlihat seperti penculik ketimbang orang normal.

Kalau ditanya kenapa berpakaian yang bukan style-nya. Alasannya pasti karena Raga tidak ingin ketahuan membuntuti Ita.

"Hari ini telah terjadi kecelakaan beruntun di tol Cipularing yang menewaskan kurang lebih enam pengendara. Untuk info selengkapnya kami terhubung dengan-"

DEG!

Suara berita itu masih bergaung di ruang tengah. Mengelak pun percuma! Kenyataan menuntun Raga pada kebenaran bahwa Ita sedang menuju kesana.

Di tengah jantung yang tak henti-henti berdetak hebat. Ingatan bagaimana tubuh Ita terkulai di aspal dengan darah bersimbah tepat di depannya. Suara tangis anak kecil dan juga jerit histeris. Semua itu berhasil membuat Raga jatuh berlutut.

Izinkan Raga melangitkan doa paling mustahil. Raga tidak ingin kehilangan Ita lagi. Tidak! Sampai ia menebus semua kesalahannya!

^^^^^

Manik hazel terang itu menyorot tajam. Entah sudah berapa kali kesabaran menguji tangan untuk tidak menyerang lelaki yang tengah memeluk erat yang bukan miliknya.

Jika mereka tidak di tempat umum mungkin Hesa akan melaksanakan apa yang otaknya perintahkan. Dan yang lebih penting Hesa juga tak berkutik berkat telapak tangan Ita yang mengisyaratkan untuk tidak maju selangkah pun saat Raga tiba-tiba datang dengan berlari lalu memeluk Ita.

Melihat situasi ini. Laki-laki mana yang tidak tersulut? Namun, Hesa tetaplah Hesa. Laki-laki bucin yang akan melaksanakan semua titah Ita.

Bodoh? Memang! Banyak gadis di luar sana. Namun dari ribuan gadis Hesa tetap akan memilih Ita yang jelas-jelas cintanya masih semu. Bahkan jika kehidupan lain ada. Hesa akan tetap mencari Ita. Seperti ngengat yang terobsesi cahaya hingga matanya dibutakan oleh kilau memukau.

Ada yang bilang cinta itu tidak butuh alasan. Tapi bagi Hesa. Sosok Italah alasannya.

Gadis keras kepala yang tidak akan sungkan minta maaf. Terlihat kuat namun rapuh seperti kaca dan lebih dari apapun uluran tangan Ita lah yang membawa Hesa keluar dari keterpurukan keluarga yang membuangnya.

Iya! Hesa ditinggalkan di Indonesia sedang orangtua dan kakaknya tinggal di Amerika. Penyakit Sang kakakah yang menjadi alasan konyol meninggalkan anak tengah dari tiga bersaudara itu. Bahkan Hesa ingat mereka tidak menawari pilihan justru berkata Hesa harus tinggal di Indonesia tanpa alasan jelas.

Yang butuh kasih sayang bukan hanya yang sakit. Kenyataannya orangtua Hesa takut kehilangan Sang Kakak tanpa disadari mereka sudah kehilangan anak keduanya.

"Pak, aku baik-baik aja," ucap Ita yang masih terkurung dalam pelukan Raga.

"Kecelakaan itu..., aku pikir...." ucap Raga tersendat.

Ita tidak tau harus merespon apa. Namun, ia menyadari sesuatu sejak kepalan tangan Hesa yang berusaha ia sembunyikan di balik badan.

Dia marah!







Ya jelaslah marah. Wong pacarnya seenaknya dipeluk laki-laki lain. Untung Hesa sabar dan rajin menabung.

Vote komen yak

AFTER ENDING (TERSEDIA EBOOK)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang