Wajah Ita merah padam. Bagaimana tidak? Ulah Hesa diketahui Tina.
"I-itu digigit nyamuk tadi," sangkal Ita.
"Hemm.... nyamuknya gede banget ya sampe merah kayak gini."
"Ahaha.... canda aja lo."
"Ini pasti Hesa kan?!"
"Kenapa bawa-bawa gue?" tanya Hesa yang datang di situasi tidak tepat.
Terserahlah! Ita pasrah. Toh, ini perbuatan Hesa juga. Tina melirik tajam pada lelaki itu lalu mendekatinya.
"Ngapa?" tanya Hesa polos.
Siapa yang menyangka tindakan Tina selanjutnya menjewer telinga Hesa sampai ia mengaduh kesakitan, "liat aja lo ya! Kalau sampai macem-macem sama Ita. Gua bantai lo sampai mati!"
"S-sakit woi! Lepasin dulu ini!" keluh Hesa.
"Dasar laki-laki!" dengus Tina kemudian melepaskan jeweran mautnya.
Mereka mengobrol bersama hingga di setiap obrolan terselip tawa. Mereka bukan orang yang pandai merangkai kata baik. Namun, di setiap hardikannya tersirat kasih sayang yang tak dapat diukur dengan kata.
Begitulah sahabat. Jangan mengharap kata manis. Karena yang keluar dari mulut sahabat hanyalah ejekan.
***
"Bersiaplah!" ujar Raga setelah jemarinya mengetuk meja kerja Ita.
"Kemana Pak?" tanya Ita. Jujur saja ia benar-benar lelah mengikuti schedul orang ini. Menjadi asistennya sebulan saja sudah cukup membuat berat badan Ita turun tiga kilogram.
Sebenarnya pekerjaan Ita tidak berat. Ia hanya perlu mengekori Raga kemana pun ia pergi. Lalu mengingatkan jam makan dan minum obat. Intinya memastikan kesehatannya terjaga. Hanya saja, sejauh ini yang Ita temui dirinya macam pembantu dari pada asisten.
"Rumah sakit," jawab Raga kemudian melengos. Ita langsung menyaut tasnya lesu dan mengekor.
"Bapak mau cek up?" ujar Ita. Langkahnya penuh usaha berkat menyeimbangi langkah besar Raga.
"Bukan. Jenguk kolega," ujaran itu dihadiahi deheman dari Ita.
Selama perjalanan Ita tidak bersuara. Raga pun diam seperti biasa sambil memandangi ruas jalan dari balik kaca mobil.
Ketika berkendara, Raga memiliki sopir pribadi sendiri. Hal itu didesak oleh Reon sejak kecelakaan tempo lalu. Raga pun tidak bisa beralibi dan memilih nurut.
Mereka tiba di rumah sakit. Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke tempat kolega yang sakit. Buah tangan pun tak luput dibawa.
Singkat saja, karena waktu Raga bagaikan tambang emas yang tidak boleh disia-siakan. Mereka pamit pulang dengan segala kerendahan hati tidak bisa berlama-lama.
Lalu, masalahnya di sini. Ita berhenti ketika melewati ranah dokter kandungan.
Ah! Sial!
Memori masa itu menyeruak masuk di kala kakinya menapaki tempat ini. Tempat yang sama ketika Ita mengecek janin yang belum sempat ia lihat.
"Ada apa?" tanya Raga ketika menyadari Ita tidak mengekorinya.
"Bukan apa-apa," jawab Ita.
Selama perjalanan ke tempat tujuan selanjutnya. Ita masih terpaku dengan kenangan masa itu. Jika janin itu hidup,
Apa jenis kelaminnya?
Bagaimana rupanya?
Apakah akan mirip dengan Raga lagi? Seperti Zera dan Zeno.
KAMU SEDANG MEMBACA
AFTER ENDING (TERSEDIA EBOOK)
Fantasy[Follow dulu sebelum baca ya gaes] "Kalau diberi kesempatan untuk mengulang waktu. Hal pertama yang mau kamu ubah apa?" "Tidak pernah bertemu dengan suamiku!" Ita diberi kesempatan oleh sang waktu untuk menulis kembali hidupnya. Namun, siapa yang me...
