Masih dengan posisi yang sama. Ita terlalu terkejut dengan tindakan Hesa sampai tidak bergerak satu centi pun hingga pergerakan pintu terdeteksi. Pintu itu terbuka lagi.
"Kenapa nggak ngabarin dulu?" tanya Hesa yang berhasil mengembalikan fokus Ita.
"Ah, itu. Aku mau buat surprise. Aku bawa ini..." jawab Ita kikuk. Kantung kresek itu terangkat sampai menutup wajahnya.
Hesa meraih kresek itu dan mendapati wajah gadisnya yang masih memandang lantai. Seulas senyum pun tercipta. Gemas sekali!
"Memangnya di lantai ada apa sih sampai pacar sendiri diabaikan?"
"Nggak ada apa-apa. So-soalnya kamu marah sih. Makanya aku-"
"Memang siapa yang marah?" sahut Hesa. Ia sukses mendapatkan kembali manik Ita.
"Kamu."
"Hm. Kapan?"
"Kemarin. Barusan juga kamu banting pintu."
Tidak tahan melihat ekspresi Ita, Hesa menangkup pipinya dan mengunyel-unyelnya, "gemes banget sih pacar ku."
"Masuk yuk." Hesa sengaja menarik tangan Ita dan mempersilahkannya masuk.
"Aku masuk lagi karena kaget kamu datang. Penampilan ku kayak gembel nggak mandi tiga hari."
"Apaan sih lebay. Ganteng kayak gitu dikatain gembel. Terus apa kabar aku yang kalau tidur ilernya sampai bisa buat peta."
"Haha, jadi peta estetik dong. Yang buat cewek cantik sih."
"Duduk sini dulu ya," pinta Hesa kemudian mendudukan gadisnya ke sofa. Ia juga menyalakan TV lalu memilih chanel berisi K-Drama karena tau Ita suka korea. Tak kurang, Hesa juga menyuguhkan toples berisi kacang mede yang sudah habis setengah. Sepertinya Hesa suka menyemili kacang itu.
"Aku mandi dulu. Nggak apa-apa kan?" tanya Hesa yang mendapat anggukan dari Ita.
"Oh, iya. Kalah mau minum ambil aja di kulkas. Anggap aja rumah sendiri. Tapi, jangan masuk kamar ku ya. Berantakan," ucap Hesa sebelum masuk kamar mandi.
Suara gemerisik air terdengar. Jangan salahkan Ita jika pikirannya traveling kemana-mana. Dia wanita dewasa yang sudah pernah menikah.
"Sadar Ita! Umur mu belum genap 20!" tepuk Ita pada pipinya sendiri.
Di saat seperti ini pun Ita masih membayangkan masa itu. Lagi-lagi Raga menjadi objek pikirannya sendiri.
Ita langsung menepis. Sengaja ia menepuk-nepuk pipi supaya pikirannya kembali. Sampai ia menangkap pintu kamar Hesa. Bukankah tadi dia bilang tidak boleh masuk karena berantakan?
Jiwa emak-emak Ita bangkit. Ia memang tidak pandai memasak tapi untuk beres-beres jangan ditanyakan. Lagi pula Ita sudah melihat penampilan berantakan Hesa yang baru bangun tidur. Ia jadi penasaran seberantakan apa kamar Hesa.
Ceklek!
Alih-alih sesuai ekspetasi agar bisa ia jadikan bahan ejekan nanti justru Ita mendapat kamar cukup rapi dan normal. "Apanya yang berantakan?" monolog Ita.
Ita melangkah lebih dalam. Aroma Hesa menguar di mana-mana. Ruangan dengan cat abu-abu itu tampak gelap akibat horden yang belum disibak.
Ita berniat memberi sedikit udara untuk kamar ini sebelum suara pintu tertutup mengalihkan fokus Ita. Ia berbalik menjumpai Hesa telanjang dada.
"Nggak dengar yang ku peringatkan tadi?"
"Hehe. Maaf Hes, habisnya penasaran seberantakan apa kamar cowok. Ternyata masih berantakan kam-" ucapan Ita tercekal berkat Hesa yang tanpa Ita sadari sudah berdiri di depannya dengan jarak lumayan dekat.
KAMU SEDANG MEMBACA
AFTER ENDING (TERSEDIA EBOOK)
Fantasy[Follow dulu sebelum baca ya gaes] "Kalau diberi kesempatan untuk mengulang waktu. Hal pertama yang mau kamu ubah apa?" "Tidak pernah bertemu dengan suamiku!" Ita diberi kesempatan oleh sang waktu untuk menulis kembali hidupnya. Namun, siapa yang me...
