36. Sandiwara Bumi

2.2K 139 1
                                        

Jarak Rumah Tina dengan depan komplek tidak jauh. Hesa pun hanya membawa dirinya sendiri untuk menjemput Ita.

"Memangnya Tina beneran mau berobat ke luar negeri ya?" tanya Ita di sela perjalanan mereka.

"Emh.... Nggak tau," jawab Hesa setelah berpikir lama.

"Hesa, sebenarnya aku nggak ikhlas kalau Tina pergi. Tapi, aku nggak boleh egois kan? Toh, ini juga buah dari ucapan ku. Aku harus tanggung jawab. Lagian liat Tina bisa senyum kayak kemaren bikin hati ku lega. Aku harus belajar menerima. Iya kan?"

"Kemaren kalian ketemu?" tanya Hesa.

"Iya. Sorry ya nggak ngajak. Soalnya dadakan. Entah kesambet apa Tina tiba-tiba minta ketemuan. Aneh banget dia."

"Hes?" panggil Tina setelah mendapati raut wajahnya yang terkejut.

"Kenapa? Memang aneh banget ya dua cewek saling bertemu?"

"E-enggak sih."

"Muka mu syok gitu tuh."

"So-soalnya--"

"Udah yuk buruan. Panas tau!" ajak Ita. Ia ingin cepat sampai dan meneduh sampai tidak menghiraukan panggilan Hesa yang memintanya berhenti sejenak.

Tubuh Ita berhenti tepat di pertigaan komplek. Ia memandang lurus ke depan. Di sana banyak kerumunan orang mendiami satu rumah.

"Lho kok banyak orang?"

"Memangnya ada acara ap--" Ucapan Ita tercekal berkat tangan Hesa yang spontan menutup mata Ita dari belakang.

"Ita," bisik Hesa parau.

"Ikhlaskan Tina ya."

DEG!

DEG!

DEG!

Perlahan Ita menyingkirkan tangan Hesa. Keramaian di depannya masih sama. Satu hal yang Ita lewati. Bendera kuning penanda kematian itu. Ia berkibar dihembus angin seolah menyampaikan kabar duka.

Bibir Ita bergetar, ia berjalan gontai memasuki halaman rumah. Suara tangis tak menghiraukan langkah kecilnya untuk memastikan orang yang tengah terbaring dengan wajah tertutup di dalam sana.

"Hesa, itu siapa yang ninggal?" tanya Ita seperti orang bodoh.

"Tina," jawab Hesa mutlak. Ia tidak ingin beralibi lagi.

"Siapa Sa?"

"Artina Syahraza Rizal. Sahabat kita."

Kilau mata itu tampak redup menatap kosong manik Hesa. Kenyataan ini seolah tombak tiada ampun menembus jantung.

"Nggak.... nggak mungkin Sa! Tadi malem kita baru ketemuan," sangkal Ita.

"Kita udah janj--"

Sekelebat memori pertemuan dengan Tina terulang. Tina yang tiba-tiba mengajak bertemu di petang hari saja sudah aneh. Lalu, bagaimana Ita tidak menyadarinya? Wajah Tina semalam tampak berbeda. Kilau matanya pun redup.

Tubuh Ita hampir terhuyung ketika mengingat salam perpisahan dengan Tina semalam. Itu adalah salam terakhir dengan makna yang sangat dalam.

"Ti-Tina.... Tinaaa... aaaaa.... Tinaaa. Huhuhuu.... " Ita meraung menyerobot antrean orang. Ia menerobos masuk ke kediaman demi bertemu sahabatnya.

"Tinaa.... Tinaa...." raungnya terdengar pilu.

Ita berhenti ketika di ambang pintu. Di depan sana tepat jenazah Tina berbaring. Berbalut kain kafan putih bersih.

AFTER ENDING (TERSEDIA EBOOK)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang