"Ita udah tidur Bu?" tanya Raga. Semburat khawatir masih tercetak.
"Udah. Barusan. Makasih ya nak Raga. Berkat mu tindakan Ita bisa dicegah," ujar tulus seorang ibu.
"Iya Bu. Syukurlah."
"Selagi masih di sini. Yuk makan malam bersama. Tapi, saya nggak menyiapkan banyak karena kedatangan direktur yang tiba-tiba," pinta Haris.
"Nggak perlu repot-repot Pak Haris. Saya ke sini cuma mau jenguk Ita. Kalau diizinkan saya boleh ke kamar Ita lagi untuk cek keadaannya?"
"Boleh. Silahkan Pak."
Haris tampak ingin mengantar namun segera Ria cegah. Entah dalam maksud apa. Yang jelas ibu satu anak itu seolah mengerti dengan isi hati Raga.
Mereka berdua dalam satu kamar. Jika disamakan dengan masa itu mungkin ini bukanlah yang pertama kali.
"Cepat sembuh," tukas Raga. Tangannya bergerak mengikuti niatnya yang ingin menggapai tangan Ita namun seketika sirna berkat cuitan Ita yang meminta 'jangan pergi'. Entah apa yang sedang ia mimpikan.
Raga mengernyit, bohong jika ia mampu mengendalikan diri untuk tidak menyentuh Ita lagi. Dengan segenap gejolak batin akhirnya sehelai rambut berhasil ia genggam.
Jika di tanya kenapa ia bersikap seperti ini? Diam-diam perhatian tapi di depan sangat dingin. Jawabannya karena Raga menyukai Ita. Benar! Manusia kaku itu telah meleleh oleh seorang gadis yang sudah punya pacar terlebih lagi umur mereka yang terpaut jauh.
Itu sebabnya Raga selalu meredam perasaannya. Berpikir rasional di saat cinta mulai tumbuh adalah hal sia-sia. Itulah yang sedang menjadi dilema bagi Raga.
Mata Ita terbuka mendapati seseorang di sampingnya, "Mama?" sahut Ita. Pandangannya masih belum mendapat kenormalan.
"Hm," dehem Raga.
Tanpa diduga, Ita meraih tangan Raga lalu menggenggamnta erat, "Tina nggak benci aku kan Ma?"
"Nggak akan." Ita hanya merespon dengan senyuman. Matanya sayup seolah efek obat itu belum sepenuhnya hilang.
"Tidurlah," pinta Raga. Ia beranjak dari duduknya kemudian,
Cup!
Kecupan singkat itu berhasil menyentuh kening Ita. Raga tidak bisa berpikir jernih lagi. Kerasionalannya tiba-tiba menghilang terseret derasnya ego diri.
"Bisa gila aku!"
Lagi, laki-laki itu merutuki dirinya sendiri. Di suasana malam dengan pendar cahaya minim tidak menyurutkan ketidakrasionalan yang telah ia lakukan tadi.
How?!
Bagaimana bisa seorang Raga luluh oleh gadis labil seperti Ita? Mau dielak berapa kali pun ia tetap tidak bisa mengontrol rasa ingin memiliki gadis itu.
Sebenarnya dari mana ini bermula? Benar! Pasti karena pertemuan waktu itu, saat Raga berada di titik paling bawah hidupnya.
Kehilangan satu-satunya nenek yang merawatnya dari kecil adalah hal yang tidak pernah Raga inginkan. Setelah kepergian orangtua yang bahkan belum sempat ia ingat.
Sebagai orang yang berusaha bersikap dewasa, Raga lebarkan senyum tegarnya untuk menutupi kesedihan di depan orang-orang melayat. Siapa yang menyangka dari ratusan orang ada satu bocah SMP yang sadar rahasia kepedihannya.
Ia menarik tangan Raga dan membawanya ke tempat sepi lalu berkata, "Kata Mama, kalau mau nangis nggak boleh ditahan."
"Memang siapa yang mau nangis?" ucap Raga di sela senyum palsunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
AFTER ENDING (TERSEDIA EBOOK)
Fantasía[Follow dulu sebelum baca ya gaes] "Kalau diberi kesempatan untuk mengulang waktu. Hal pertama yang mau kamu ubah apa?" "Tidak pernah bertemu dengan suamiku!" Ita diberi kesempatan oleh sang waktu untuk menulis kembali hidupnya. Namun, siapa yang me...
