4. Parenting

12.8K 1.2K 10
                                        

Pagi hari, seperti biasa Ita mengawasi si kembar bermain. Aktivitas pagi anak-anak cukup berenergi. Seolah baru di-refresh. Mereka akan bermain kejar-kejaran. Kesana kemari di halaman belakang. Ita cukup duduk mengawasi agar tidak mendekati kolam renang.

Kadang Zeno akan duduk kalem di pojok. Mengamati semut atau binatang lain. Lalu ada Zera yang menganggu agar Zeno marah dan mengejar.

Benar-benar! Kedua anaknya ini seperti barat dan timur. Dan entah kenapa pribadi mereka tertukar. Zera yang tomboy dan Zeno yang kalem.

Ita penasaran, bagaimana mereka saat besar nanti? Jika tebakan Ita benar, Zeno akan jadi Kakak yang pengertian dan penuh kasih sayang sedangkan Zera akan jadi gadis energik dan punya kepercayaan diri tinggi.

"Maa, Papa pulangnya kapan?" tanya Zeno, ia lelah lari-lari mengejar Zera dan memutuskan bergelayut manja.

"Bentar lagi pasti pulang. Zeno sabar ya sayang," ucap Ita lembut. Ia tidak bisa menjanjikan tanggal berapa Raga bisa pulang sebab sudah seminggu ini ia tidak menampakan wujudnya.

Wajah Zeno tampak muram. "Tadi malam Zela nangis. Katana kangen Papa."

Sebuah hantaman besar seperti baru saja menabrak Ita. Namun, sebagai Ibu ia harus tenang.

"Nanti Mama hubungin Papa ya sayang. Oh iya, Mama punya ini lho. Satunya kasih Zera sana," suruh Ita sembari memberikan permen susu pada Zeno. Setelah menerimanya Zeno langsung berlari menuju Zera yang tengah sibuk memungut daun berserakan.

Setelah pertikaian malam itu Raga jarang pulang. Sekalinya pulang pun pasti sangat larut sehingga anak-anak tidak sempat melihat Ayahnya karena sudah tertidur. Begitu pun saat pagi. Ia selalu pergi tanpa berpamitan.

Ini rumah tangga yang seharusnya dibangun bersama. Tapi sejauh ini Ita merasa menjadi ibu tunggal.

TRING!

Sebuah notifikasi terdengar. Ita buru-buru membuka layar kunci handphone-nya. Namun, tatapannya kembali datar ketika tau itu hanya spam. Orang yang ia nanti-nanti untuk memberi kabar sepenuhnya telah menghilang.

"Kamu kemana sih! Seenggaknya kasih kabar anak-anak mu!" gumam Ita. Percayalah sudah puluhan kali ia menelpon dan chat tapi tidak ada tanggapan.

"Mbak itu sarapannya si kembar udah jadi," sahut Bu Ina.

"Oh iya Bu. Nanti aku aja yang ngambil nasinya. Tolong awasi anak-anak bentar ya."

Ita bergegas ke dapur. Mencium aroma sup ayam yang Bu Ina buat membuat Ita jadi ikut lapar. Padahal ia tidak biasa sarapan pagi.

"Bu Ina mau pulang ya?" Tanya Ita sekembalinya dari dapur.

"Iya nih Mbak."

Di rumah ini tidak ada ART yang tinggal menetap. Semuanya akan datang ketika jam kerjanya mulai dan akan pulang ketika tugas telah selesai. Total ada lima ART dengan tugas masing-masing. Salah satunya Bu Ina yang bertugas memasakan lauk karena Ita tidak pandai memasak.

"Nggak bungkus supnya sekalian Bu? Buat Bapak."

"Alah, nggak usah Mbak. Bapak mah makan sayur kemaren aja doyan."

AFTER ENDING (TERSEDIA EBOOK)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang