Di dalam paket itu ada tiga benda, gantungan kunci minion, amplop kecil dan memori card. Mata Ita menyendu berbarengan dengan genangan air mata luruh.
Ita membuka amplop kecil terlebih dahulu. Kertas itu menyajikan barisan tulisan tangan yang sangat Ita kenali.
"Happy Birthday Ta. Wish you all the best."
"Yoo, cewek yang suka overthingking. Kaget yah dapet paket dari orang mati? Hehe. Selow aja, gue nulis pas masih hidup kok."
Mata Ita memanas. Bulir air mata tak luput memenuhi kelopak matanya hingga beberapa jatuh.
"Oh ya, ulang tahun lo kan bulan depan. Jadi gue kasih kado sekalian deh. Habis gue takut nggak sempat kasihnya. Hihi."
"Ita.... tetep hidup ya, lo harus kejar apa yang lo cita-citakan. Jangan ikuti gue. Jangan merasa bersalah. Karena sepeser pun ini bukan salah lo."
"Tetang pelecehan itu, gue nggak pernah anggap itu sesuatu yang krusial sampai gue depresi. Ada hal lain yang jadi penyebab depresi gue."
"Mau tau?"
"Gue anggap iya deh. Karena ini surat satu arah."
"Ita. Baca baik-baik! Kak Fano tersangka utamanya!"
"Ini permintaan terakhir gue. Tolong penjarakan Kak Fano!"
DEG!
Apa maksud permohonan itu? Ita sempat mencerna kembali isi surat. Mungkin dia sedang dalam halusinasi. Namun, mau dibaca berulang kali pun. Isinya tetap sama.
Kening Ita mengernyit, "kenapa Tina nulis sesuatu kayak gini?" monolognya di luar kendali.
Raga yang penasaran menyahut kartas itu. Responnya sama dengan Ita. Siapa pun yang melihat keluarga Tina, pastilah menganggap itu hanya keluarga normal yang agak over protektif.
"Sepertinya kamu akan tau jawabannya di memori card itu," ucap Raga setelah sadar ada barang lain yang Tina kirimkan.
Slide foto pertama tidak menunjukan keanehan. Hanya ada foto Tina dan keluarganya disebuah studio foto. Namun, semakin jari Ita menekan tombol next. Kenyataan demi kenyataan terungkap.
Ita tidak sanggup lagi melihat bukti demi bukti yang selama ini Tina sembunyikan dengan senyum. Tangisnya kembali pecah hingga tak mengeluarkan suara sedikit pun.
Lalu di slide terakhir, Ita menemui sebuah video. Mungkin lebih tepatnya pesan terakhir. Dengan tampilan Tina memakai hoddie dongker yang merekam dirinya sendiri di kamar.
"Hallo, nama ku Artina Syahraza Rizal. Aku anak bungsu dari dua bersaudara."
"Emh.... kalau biologisnya aku anak pertama sih. Soalnya Mama nikah lagi sama Papa ku yang sekarang dan beliau punya anak bawaan yang lebih tua tiga tahun dari ku. Namanya Kak Fano."
"Kalau di bilang keluarga cemara. Yah, memang sih. Aku akui."
"Gimana ya bilangnya. Emh.... kita akan rukun dan terlihat normal di waktu Papa sama Mama di rumah. Kalau mereka pergi semuanya berubah drastis."
"Pernah dengar teori kepribadian pavlof? Intinya kebiasaan itu akan mendarah daging jika diulang terus menerus. Sama seperti rasa takut. Dan mungkin itu akan menjadi cerita ku dengan Kak Fano."
"Dari ingatan terakhir yang ku ingat. Waktu umur ku dua belas kalau nggak tiga belas tahun, Kak Fano orang yang asik. Dia juga sering beliin aku jajan. Aku sayang banget sama Kak Fano karena dia selalu manjain aku."
"Lalu, entah kapan dimulainya Kak Fano tiba-tiba berubah."
"Ah, ada satu. Kalau nggak salah waktu aku SMP kelas tiga. Aku suka sama teman sekelas. Biasanya aku nggak pernah panjangin rambut. Tapi, karena doi bilang suka cewek rambut panjang akhirnya aku memutuskan panjangin rambut."
"Yah, ku pikir sejak saat itu Kak Vano berubah. Dia bilang suka rambut panjang ku. Dia bantu sisir tiap hari. Sebagai adik aku coba cerita sama Kak Fano kalau ada orang yang ku suka dan tanpa disangka itu jadi kesalahan fatal yang nggak bisa aku perbaiki."
"Waktu itu, Papa sama Mama harus pulang kampung karena nenek tiba-tiba sakit. Karena aku sama Kak Fano bentar lagi ujian akhirnya kita ditinggal di rumah. Dari situ semuanya bermula."
Raut wajah Tina memandang takut. Genangan air mata mulai merembas.
"Malam itu hujan deras. Aku sendirian di rumah. Kak Fano yang izin ngerayain kelulusan SMA sama temen-temennya nggak kunjung pulang."
"Pikir ku.... Ya udahlah ya namanya orang lagi seneng-seneng. Aku sengaja nggak telpon. Karena aku takut ganggu."
"Aku tidur kayak biasanya. Terus jam setengah dua belas. Aku kebangun karena kaget pipi ku kayak ada yang nyentuh. Waktu aku bangun Kak Fano udah duduk di tepi ranjang."
"Malam itu Kak Fano aneh. Dia biacara banyak hal padahal Kak Fano tipe orang pendiam. Tapi malam itu dia bilang cinta sama aku."
"Aku masih nanggapin biasa. Karena wajar aja kan seorang Kakak mencintai adiknya. Aku pikir Kak Fano bercanda. Sampai...."
Air mata Tina luruh. Bibir berat melanjutkan cerita.
"Sampai Kak Fano dorong aku. Dia melakukan tindakan yang nggak seharusnya dilakukan sebagai Kakak. Aku nggak kepikiran sampai Kak Fano tega lakuin itu. Maksud ku, kita tumbuh bersama. Aku adik yang tiga tahun lebih muda darinya. Tapi-"
"Hiks.... tapi kenapa Kak Fano merusak satu-satunya hal yang berharga untuk ku? Hiks, se-sejak itu Kak Fano yang penyayang udah ku anggap mati. Sekarang yang ada di rumah ini cuma iblis!"
"Kak Fano terus-terusan ngontrol aku. Aku dipaksa ikutin apa yang dia mau."
"Melawan?"
"Di situasi ini. Apa aku bisa melawan? lihat sayatan ini? Tiap kali aku berontak. Sayatan di punggung ku akan terus bertambah. Dia juga bilang akan melakukan hal yang sama ke Mama kalau aku ngadu."
"Ketakutan itu jadi trauma yang lama kelamaan jadi penyakit. Yah, Aku nggak bisa menentang ucapan orang itu. Bahkan lihat wajahnya aja aku bisa gemetar hebat."
"Keadaan ini berlanjut sampe sekarang. Udah nggak kehitung Kak Vano melakukan hal bejat itu. Rasa takut ku semakin besar."
"Mungkin cuma kemarin aku berani nentang. Berkat sahabat ku Ita. Sekali lagi aku punya keberanian."
"Dia terang-terangan bilang untuk jauhin Ita. Dia bilang sama Mama kalau Ita bawa pengaruh buruk. Padahal dia cuma mau aku jadi anak penurut. Lalu musibah itu datang. Aku jadi korban pelecehan kakak tingkat."
"Hahahaa.... gila! Waktu itu aku puas liat dia kayak orang gila marah-marah nggak jelas. Haha."
"Dari pada pelecehan itu, luka dari dia justru lebih dalam dan menakutkan. Setelah hari itu Kak Fano mulai mengekang ku lagi. Aku menjalani pengobatan di luar kota sebagai alibi untuk menghindar. Tapi akhirnya aku tertangkap lagi."
"Udahlah, aku benar-benar capek. Pergi sejauh apa pun orang itu akan terus mengejar lalu mengikat ku lagi. Saat berpikir kayak gitu aku langsung ingat satu hal."
"Orang itu nggak akan mengejar ku sampai akhirat kan?"
"Besok tanggal 7 Agustus 2022 aku berniat mengakhiri hidup. Di sini. Di kamar ini. Tempat bermulanya dosa yang orang itu lakukan. Ah, aku nggak sabar lihat wajahnya terkejutnya. Haha. Eh, tapi aku kan udah mati ya. Sayang banget!"
"Yah, agak berat juga sih ninggalin Ita. Aku takut dia menyalahkan dir--"
Dalam video berdurasi sepuluh menit itu Tina terlihat ketakutan saat pintu kamarnya tiba-tiba dibuka dan video itu menemui ujungnya.
Laptop itu ditutup. Selesai sudah! Ita bangkit dari duduknya. Bukan mata sendu dengan linangan air mata melainkan tatapan tajam dari mata yang menggambarkan kemarahan. Bagaimana pun caranya Ita akan mengabulkan permohonan terakhir Tina.
Vote komen yes
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
AFTER ENDING (TERSEDIA EBOOK)
Fantasy[Follow dulu sebelum baca ya gaes] "Kalau diberi kesempatan untuk mengulang waktu. Hal pertama yang mau kamu ubah apa?" "Tidak pernah bertemu dengan suamiku!" Ita diberi kesempatan oleh sang waktu untuk menulis kembali hidupnya. Namun, siapa yang me...
