25. Moderator Cantik

5.4K 532 23
                                        

"Tunggu!" Kejadian ini bukan sepenuhnya salah Ita. Memang benar Ita yang telah menampar salah satu dari mereka. Tapi, mereka yang menyulut apinya terlebih dahulu.

"Kalian juga harus minta maaf!" Salah satu wanita mengerutkan dahi, "maaf untuk apa?"

"Api nggak akan menyala kalau nggak ada korek yang menyulut. Bukannya kalian duluan yang nuduh saya masuk ke sini jalur koneksi? Lagian bukannya kamu yang mau nampar aku duluan? Tadi aku cuma membela diri," balas Ita.

"Tck! Apaan sih? Udahlah nggak usah memperpanjang masalah! Semua udah selesai. Oke?!"

"Kalau gitu mau coba cek CCTV? Kita lihat lagi rekamannya!"

Mereka terkesiap. Raga menyadarinya. Sebenarnya Raga ingin menyudahi masalah ini. Namun setelah melirik sekilas ke Ita. Ia menyadari satu hal. Wanita ini benar-benar marah.

"Ita, ceritakan semuanya di ruangan saya," titah Raga sejurus dengan tubuhnya bangkit.

"Jika ada kronologi yang sengaja terlewat. Kalian sudah siap menerima resikonya kan?" ucap Raga santai namun penuh penekanan.

Ita dan Raga menjauhi ketiga orang itu. Mereka tampak panik. Terutama kedua wanita tadi. Sampai pada titik dimana Raga memegang kenop pintu tiba-tiba sebuah suara menghentikannya.

"Tunggu Pak!"

Seringai Raga mengembang. Strategi yang tidak pernah gagal ia terapkan untuk mengancam dengan halus.

"Saya beri kesempatan untuk menjelaskan ulang," tukas Raga setelah berbalik ke sumber suara.

Ita mendapatkan permintaan maaf. Berkat itu kemarahannya segera pudar. Namun, karena es kopi pesanan Raga jatuh saat Ita menampar karyawan tadi, ia terpaksa membeli es kopi baru. Tentu saja bukan di tempat yang sama. Alih-alih dapat istirahat ia malah dipaksa kepanasan mencari cafe di siang bolong.

"Raga sialan! Gue kutuk lo jadi kecebong!"

***

Ita sengaja merebahkan kepalanya di meja. Setelah mengoceh panjang lebar mengenai kejadian dua senior kemarin membuatnya kembali naik pitam. Lalu sekarang darahnya dipaksa mendidih lagi akibat ulah Raga yang menyuruhnya jadi moderator di pertemuan petinggi tiga hari lagi.

"Tolong dong Ra. Tuhan aja ngasih ujian sesuai batas kemampuan hambanya. Paman mu? Masak dia nyuruh aku jadi moderator di pertemuan penting petinggi sih. Mana waktunya tiga hari lagi."

"Kalau nggak bisa tolak aja," jawab Sera.

"Aku kan udah bilang nggak mau! Malah dia pakai cara licik bilang ke orangtua! Sialan! Lagian kepala bagian HRD udah mengajukan diri tapi ditolak. Mau dia apa sih?!" hardik Ita.

"Mungkin dia mau kamu berkembang Ta. Ambil sisi positifnya aja."

"Ya tapi nggak langsung di pertemuan tingkat atas kayak gini. Kalau aku melakukan kesalahan, aku yang malu. Tolongin Ra. Please," mohon Ita.

"Emh.... Aku nggak bisa bantu kalau Paman udah ngasih keputusan. Jeleknya Paman itu dia orang yang angkuh. Jadi apapun alasan yang kamu kasih. Kalau menurut dia benar ya nggak mungkin di ubah. Mending kamu coba aja."

AFTER ENDING (TERSEDIA EBOOK)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang