13. Blangko Karir

7.4K 688 9
                                        

Haris diam. Ia menatap lekat manik putrinya. Jika ini hanya bercanda Haris akan memarahi putrinya karena sudah kelewatan. Tapi, Haris tidak menemukan canda dalam tatapan Ita.

"Atas dasar apa kamu nggak setuju kerjasama dengan H Group? Kasih Papa alasan. Papa akan pertimbangan kalau alasan mu masuk akal."

DEG!

Mana mungkin Ita mengatakan kalau setelah ini perusahaan Papanya dirundung masalah. Para investor-investor itu akan melepaskan buntutnya dan meninggalkan Haris dengan utang yang sangat besar.

Hanya H Group yang bertahan. Bersamaan dengan itu kontrak kerja dengan jaminan ikatan pernikahan akan ditetapkan.

"Itu-"

"I-ita cuma nggak suka sama pimpinan mereka. Banyak gosip miring yang nyebutin dia suka main cewek terus selama menjabat sebagai Direktur dia bertindak semena-mena sama bawahannya. Ita cuma takut Papa ditipu sama dia," celetuk Ita. Percayalah ia dalam suasana bingung dimana dirinya tidak yakin atas ucapannya sendiri.

"Hahaha. Kamu baca berita dimana info ngawur kayak gitu?"

"Dimana-mana."

"Dengan kata lain, kamu benci Pak Raga kan? Bukan perusahaannya."

"I-iya."

"Kalau itu alasan mu. Papa tetap akan menjalin kerjasama dengan beliau. Karena untuk menjalankan suatu perusahaan titah pimpinan bukan suatu hal yang mutlak. Kamu perlu diskusi dulu dengan pemegang saham lain dan bawahan mu pun ikut berpartisipasi," Haris menggapai pundak Ita. "Kamu boleh benci orangnya, tapi jangan benci perusahannya. Tanamkan itu baik-baik."

Ita menggeser pelan tangan Haris yang berada di pundak Ita. "Sayangnya aku tipe orang yang benci sepenuh hati. Maaf Pa, aku tetap nggak terima Papa kerjasama dengan H Group!" tandas Ita tajam sebelum pergi.

Haris menatap kepergian Ita. Entah mengapa perkataan istrinya tempo lalu benar adanya. Kepribadian Ita berubah!

***

Hari ini Ita akan melakukan ujian nasional susulan. Hesa mengantar sampai depan ruang kepala sekolah.

"Nih...." Hesa memberikan permen mint sama seperti yang ia lakukan dulu. Saat itu Ita langsung cemberut karena Hesa tidak membawakan susu UHT seperti biasa dan Ita ngambek sampai sore.

Benar-benar kekanakan! Ita yang sekarang pun menyadari sifat manjanya itu dan tidak akan mengulanginya lagi!

"Makasih Hes. Doain aku ya?"

"Always, good luck!" ucap Hesa ceria. Ia masih di tempat sampai Ita benar-benar masuk dan pintu itu tertutup.

Senyum Hesa menghilang. Digantikan tatapan datar memandang pintu yang tertutup. Sama seperti Tina yang sempat cerita tentang perubahan sikap Ita. Hesa pun sekarang merasakannya.

Hesa sempat menebak Ita akan panik dan merengek minta kunci jawaban. Namun hingga hari H tiba, Ita masih bersikap tenang. Seolah ada orang lain yang merasuki tubuh Ita.

"Sebenernya siapa kamu?"

***

Ita menatap kosong permen mint itu. Bagaimana pun satu kenyataan telah ia kantongi. Sampai detik ini alur hidupnya masih sama.

AFTER ENDING (TERSEDIA EBOOK)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang