Beratapkan bintang dan beralaskan aspal. Mereka memecah kendaraan malam dan melaju santai.
Jaket yang sejak tadi melindungi tubuh Hesa dari hawa dingin kini sudah berpindah memeluk Ita. Membuat Ita tersipu saat mengingat Hesa dengan gentle-nya memakaikan jaket saat di parkiran mall.
Selagi berkendara tidak lupa Ita terus mengomel untuk memperlambat laju motor. Tidak ada penolakan yang bisa Hesa lakukan. Ia seperti itik yang mengikuti induknya.
"Hesaa!" pekik Ita.
"Kenapa?"
"Pelan-pelan!"
"Iya sayang."
"Tadi speedometer-nya lewat 20!"
"Hehe. Iya-iya, maaf khilaf."
"Aku cubit kalau lebih lagi!" ancam Ita.
"Ampun ratu....." cengir Hesa.
Sampai disebuah perempatan. Lampu merah baru saja padam. Hesa melajukan motornya sesuai interuksi. Namun, dari arah kiri sebuah mobil melaju kencang dan kehilangan keseimbangan. Kecelakaan pun tak terbantahkan.
Alhasil, sang sopir membanting stir ke kiri lalu mobil sukses berbalik setelah menghantam lampu jalan.
Tidak luput Hesa dan Ita ikut terserempet hingga jatuh ke aspal. Beruntung tidak banyak yang menjadi korban. Jika diperhatikan hanya Ita dan Hesa saja karena berada paling depan.
Hesa tampak bingung sejenak lalu suara Ita berhasil mengambil kesadarannya.
"Hesa!?"
"Hesaaa!"
Ita mengguncang tubuh Hesa yang sejak tadi termenung seolah belum sadar dengan kejadian ini. "Ha?" sahut Hesa.
"Syukurlah!" ucap Ita seraya memeluk Hesa. Isaknya terdengar lirih. Hesa merasakan tubuh Ita bergetar.
Dalam sekejap Hesa dibuat terbuai dengan kepedulian Ita. Namun segera ia tepis setelah melihat banyaknya orang mengerumuni mereka.
"Dek, nggak apa-apa?"
"Ayo bantu angkat," mereka mengangkat motor Hesa ke tepi dan memapah Hesa serta Ita ke tepi jalan.
Hesa memperhatikan Ita yang masih sesenggukan. Dia pasti sedang syok!
"Hei?" sapa Hesa.
"Hallo?" lambaian tanga Hesa mengalihkan fokus Ita.
Hesa tersenyum di saat menahan perih di dua lututnya yang robek. "Mana yang sakit?"
Ita menatap Hesa. Pasti Hesa mengira ia menangis karena luka. Kenyataannya? Dibanding luka di siku dan lulut sebelah kirinya, Ita menangis bahagia karena Hesa tidak terluka parah sampai membahayakan nyawa.
Dengan kata lain Ita berhasil menyelamatkan Hesa. Takdir telah berubah!
"Dek ikut ke rumah sakit sama ambulan itu," titah paruh baya yang tadi membantu berdiri.
Hesa bangkit, ia mengulurkan tangan kepada Ita. Sebuah ambulan datang untuk membawa pemilik mobil ringsek yang menerobos lampu merah tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
AFTER ENDING (TERSEDIA EBOOK)
Fantasy[Follow dulu sebelum baca ya gaes] "Kalau diberi kesempatan untuk mengulang waktu. Hal pertama yang mau kamu ubah apa?" "Tidak pernah bertemu dengan suamiku!" Ita diberi kesempatan oleh sang waktu untuk menulis kembali hidupnya. Namun, siapa yang me...
