Dua puluh dari n

1.5K 220 122
                                        

(20/n)

    Belum terlalu larut ketika Benya turun ke lantai satu rumah Malioboro. Dia baru saja merampungkan urusan perpanjangan kontrak toko dengan Mal Ciputra via telepon di kamar. Dia juga sempat menelepon Dahlia tadi, mengabari kalau perpanjangan kontrak toko sudah beres dan juga sudah ada beberapa contoh kain yang bisa jadi opsi untuk koleksi baru.

   Dia mengabari dengan lega dan suka cita, tapi tanggapan temannya yang sedang menikmati liburan dengan keluarga kecilnya itu malah bikin Benya sedikit sebal karena menjawab dengan hal lain dan dengan nada geregetan seolah Benya anak kecil yang perlu banget dikasih ngerti. "Ya ampun, Ben, dibilang liburan aja nggak usah mikirin kerjaan, ngeyel! Sana loh suami diseneng-senengin! Jalan-jalan berdua, ke pantai kek, kan banyak pantai baru di Gunung Kidul! Kontrak nih nggak buru-buru. Kain juga minggu depan kita bisa ke Solo. Kamu nih!" omel Dahlia di telepon beberapa menit lalu.

   Sebelum sama-sama meninggalkan Semarang lusa kemarin, tujuan mereka ambil liburan emang untuk menghabiskan waktu bareng keluarga sebelum nanti sibuk dengan butik lagi di akhir dan awal tahun.

  Yang Dahlia nggak tau, kalau nggak pakai alasan kain, mana mungkin Benya bisa menghabiskan waktu bareng Gira? Dahlia mungkin tinggal bilang pada Arfan ingin jalan ke sana, berdua aja, quality time, lalu Arfan iyakan. Benya nggak bisa seperti itu. 

  Benya dan Gira hampir nggak pernah menghabiskan waktu yang tujuannya cuma buat rekreasi atau quality time. Mereka menghabiskan waktu bersama seperlunya. Kalau ada perlu, baru menghabiskan waktu bersama.

   Menonton TV bersama saja jarang. Ngobrol sebelum tidur saja bisa dihitung berapa kali dalam setahun. Mau ke pantai? Baru bilang saja, Benya pasti sudah ditumben-tumbenkan Gira.

   Mungkin Dahlia adalah orang terdekatnya, tapi untuk beberapa persoalan temannya itu pun tidak mengenalnya. Maka dari itu Benya maklum. Benya bahkan tetap maklum pada saat Dahlia pernah menyakitinya dengan pertanyaan seperti ini, "Padahal kalian belum ada anak, waktu berdua lebih banyak, apa emang nggak ada kehendak?"

  Meskipun pertanyaan terakhir itu menyakitinya, Benya tetap nggak membela diri apalagi mengakui kalau sebenarnya dia juga ingin, cuma nggak berani mengatakannya.

   Benya nggak membuka mulutnya dan mengatakan kalau setiap Dahlia cerita habis mengunjungi tempat wisata baru bersama suaminya, kadang Benya ingin juga mengunjungi tempat itu bersama Gira, tapi Benya nggak pernah berani untuk meminta pada suaminya. Gira nggak pernah menawarkan, dan sepertinya, suaminya itu juga nggak terlalu menyukai jalan-jalan kalau bukan dengan teman-temannya.

   Benya selalu kalah dengan pertanyaan, Emang Gira mau ke sana sama aku? Nggak.

   Untuk menghibur dirinya sendiri, Benya memilih menganggap hal seperti itu nggak penting lagi untuk usia mereka. Urusan yang lebih penting banyak. Lalu dia nggak memusingkan soal jalan-jalan dan apalah itu quality time lagi.

   Ada kalanya keinginan Benya mentok, nggak bisa ditenangkan dengan menganggap hal seperti itu nggak penting lagi saja, makanya ada alasan melihat-lihat kain. Tentu saja ada kalanya seperti itu. Mau bagaimana pun, Benya seorang istri biasa. Kadang ingin hubungannya dengan suami juga seperti hubungan suami-istri pada umumnya meskipun sulit sampai dia perlu membuat alasan yang masuk akal dan terdengar penting dulu hanya untuk mengajak suaminya itu keluar, untuk bisa jalan berdua.

  Walaupun pada akhirnya tetap saja, terasa seperlunya.

  Itu kenapa, meskipun nggak puas sama sekali, Benya lebih senang menjalani semua hal dengan Gira dan pernikahannya secara seperlunya saja. Kadang, sudah diusahakan pun, rasanya tetap seperlunya saja. Kadang, sudah diusahakan pun, orang lain tetap akan menyudutkannya dengan pandangan mereka sendiri.

  Di ruang keluarga, Benya mendapati Gira di depan TV sedang menonton anime. Suaminya itu belum menyadari keberadaannya, fokus hanya pada layar TV yang menampilkan gambar coret anak-anak tersebut. Ini salah satu alasan mereka jarang nonton TV bersama, Gira sukanya anime. Benya nggak suka anime, tapi dia juga nggak bohong menikmati melihat Gira nonton anime. Gira yang seperti ini mengingatkan Benya pada keponakan-keponakannya yang kalau nonton kartun sampai melongo dan nggak awas sama keadaan sekitar. Lucu saja.

   "Aku mau keluar, Ra." Sambil mendekati suaminya, Benya berucap. Gira menoleh dan memberinya perhatian, lalu Benya bertanya, "Kamu mau makan apa? Aku beliin sekalian."

   "Ikut aja lah."

   Benya baru akan mengatakan kalau dia mau bertemu temannya ketika Gira menjawab dengan cepat. Selanjutnya, suaminya itu sudah mematikan televisi dan berdiri dari sofa. Benya cuma memperhatikan seksama wajah suaminya.

   "Yuk!" Sekarang suaminya itu terdengar lebih bersemangat, seolah dia yang punya rencana awal.

   "Tumben."

   Kedua alis Gira menaik. "Tumben apa?"

    Benya menggeleng. Dia baru sadar terlalu menanggapi serius tingkah Gira. "Biasanya males makan di luar," ungkapnya sambil lalu dan syukurnya nggak ditanggapi Gira.

   Mereka jalan kaki keluar rumah setelah tak lupa mengunci pintu dan juga gerbang. Benya sempat salah paham saat Gira mengulurkan tangannya. Dia kira suaminya itu ingin menggandeng tangannya, taunya hanya memberikan kunci.

   Benya tersenyum bodoh. Bisa-bisanya dia punya pikiran romantis seperti itu menyangkut suaminya. Harapan yang berlebihan.

   Menyingkirkan perasaan geli pada dirinya sendiri, Benya memilih mengirim pesan kepada temannya. Mengatakan, mendadak dia keluar dengan suaminya, jadi tidak bisa bertemu malam ini. Sebenarnya, dia nggak enak hati pada temannya karena membatalkan janji begitu saja, tapi Benya sudah mantap ingin mendahulukan Gira.

   Mendahulukan Gira.

   Tiba-tiba keinginan itu memenuhi dadanya saat memperhatikan wajah Gira di depan TV tadi. Mungkin didorong juga sama omongan Gira kemarin dan tadi soal merasa ada yang salah dengan pernikahan mereka, yang ternyata nggak bisa Benya abaikan gitu aja.

  Benya emang malas membahas itu—pernikahan merekadengan Gira, nggak bisa lebih tepatnya, tapi dia mau berusaha memperbaiki.

    Walau kata memperbaiki sebenarnya nggak tepat banget dipakai. Karena mau diperbaiki bagaimana, kalau sudah cacat dari awal?

Apalagi kata berusaha memperbaiki.  Sangat nggak pantas Benya katakan walaupun cuma dalam benak. Karena nyatanya selama ini dia nggak pernah berusaha menjadi lebih baik dan membuat pernikahannya lebih baik. Dia malah cuma memberi cacat-cacat baru pada pernikahannya.

   Sudah nggak terhitung berapa kali dia berkhianat di belakang Gira dan bertobat buat mengkhianati suaminya itu lagi, bahkan dengan Ade.

   Benya sadar dia nggak pantas untuk Gira. Dia sangat buruk. Tapi Benya tetap akan melakukan sesuatu supaya Gira nggak merasa pernikahan mereka yang sudah salah, jadi lebih salah lagi saat ini. Karena mau bagaimana pun, Benya nggak ingin Gira meninggalkannya.

  Mungkin belum dengan cara meninggalkan Ade, tapi dia pasti akan meninggalkan pria itu nanti.

  




















N?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang