35. Kelulusan Tanpa Perayaan

115 49 16
                                        

Alka menjeblak pintu ruang Kepala Sekolah. Peduli setan dengan tata krama. Hanya satu orang yang bisa menjawab segala pertanyaan yang bergemuruh dalam dadanya.

Kepala Sekolah yang sedang fokus pada apapun di perkamennya, mengangkat wajah dengan pandangan bertanya. Mungkin sedikit tidak menyangka, salah satu murid paling sopan dari dunia asing yang mendapatkan nilai sempurna dalam tata krama, mendadak masuk dengan cara paling barbarian.

"Kepala Sekolah." Suara Jaac mendahului Alka yang baru saja akan membuka mulut.

"Treo mati." Aalisha menimpali.

"Apa ini?! Kupikir kami semua datang ke sini untuk lulus dan kembali?!" tuntut Elsi.

Kepala Sekolah mengangkat salah satu tangannya. Secara ganjil, gemuruh dalam dada Alka mereda, napas yang terburu perlahan mulai teratur, dan emosi yang memanas di kepalanya perlahan melunak, membuat Alka ingin menangis karena luapan perasaan yang tak terbendung. Teman-temannya juga diam tanpa sepatah kata, sepertinya merasakan hal yang sama.

"Bisa jelaskan padaku apa yang terjadi?" tanya Kepala Sekolah dengan suara hangatnya yang khas, membuat Alka semakin ingin menangis.

"Treo," Gadis itu mengambil jeda, menahan isakan yang ingin meloloskan diri, "Treo jatuh ke jurang ketika kami sedang menjalankan misi."

"Ini tidak adil," Aalisha sungguhan terisak, "padahal dia baru saja menjadi orang baik yang tidak menyebalkan."

Alka menelan ludah, berusaha tidak tertular isakan Aalisha yang mengundang. Namun, anehnya, Kepala Sekolah justru mengukir senyum bangga.

"Apakah kalian yakin Atreo jatuh?" tanya Kepala Sekolah.

"Tentu saja!" Jaac menyahut cepat. "Kami berenam melihat dengan mata kepala kami sendiri!"

"Kalian yakin dia jatuh?" Kepala Sekolah bertanya sekali lagi. "Jatuh ... atau menjatuhkan diri?"

Memori beberapa jam lalu kembali terputar dalam kepala Alka. Atreo yang menyentuh bahunya sebagai tumpuan untuk berjalan, kemudian menjatuhkan diri setelah mengucapkan kalimat perpisahan yang sama sekali tidak mengandung unsur selamat tinggal, lalu dia yang sempat-sempatnya menyunggingkan senyuman paling langka yang tidak pernah Alka lihat sebelumnya.

"Menjatuhkan diri," gumam Zeeb.

Ya, Zeeb benar. Atreo memang menjatuhkan diri.

"Kalian yakin Atreo mati?"

Tidak. Bersama senyumannya yang tidak terdefinisikan, tubuh Atreo menghilang, terurai menjadi butiran cahaya kemudian memburai bersama udara. Sementara si satyr, jatuh bebas ke jurang memasuki segel permanen di sana.

Alka yakin semua temannya setuju bahwa mereka semua tidak melihat Atreo mati.

"Anak-anakku, Atreo sedang berbahagia. Dia telah mengalahkan dirinya sendiri dan lulus dari tempat ini," ucap Kepala Sekolah.

Lulus?

"Bagaimana—" pekik Elsi tertahan.

"Kalian ingat syarat untuk kembali ke dunia kalian?" tanya Kepala Sekolah.

"Lulus dari tempat ini sebagai Tentara Langit," jawab Jaac yakin.

"Dan kalian ingat apa syarat untuk lulus sebagai Tentara Langit?"

"Mengalahkan kapithuma dalam diri masing-masing. Kapithuma yang bisa mewujud sebagai apa saja," jawab Aalisha dengan suara bergetar.

"Ya. Atreo menemukan apa yang salah dalam dirinya, Atreo menemukan apa yang mengganggu hidupnya, dan dia berhasil mengatasinya. Atreo berhasil mengatasi iblis dalam dirinya sendiri. Sekarang ia telah lulus, dan karena itu ia kembali," ucap Kepala Sekolah penuh kesabaran.

[Kami] Tentara LangitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang