14. Tentang Para Iblis

211 63 3
                                        

"Aaahhh ...."

Aalisha mengempaskan tubuh ke ranjang. Tubuhnya terasa super pegal dan kehilangan tenaga setelah menyelesaikan pelatihan di lapangan bersama senior, pelatihan yang dikemas dalam sebuah misi.

Gadis itu meregangkan tubuh hingga badannya bergetar, kemudian membuang napas panjang.

Sudah lima hari Aalisha tidak kembali ke asrama. Nyaman sekali rasanya bisa menyium aroma basah dinding batu yang bagaikan gua ketika dia berjalan di lorong dan akhirnya bisa berbaring di kasur yang empuk di kamar yang hangat.

Tetapi, dengan tubuh dan pikiran selelah ini, entah kenapa netra tembaga itu masih tetap terjaga, masih enggan dipejamkan.

Aalisha menoleh ke kanan, menatap ranjang sebelah yang kosong.

"Hari ini Kak Geeta juga tidak kembali," gumam Aalisha. Bibirnya manyun. Dia tidur sendiri lagi kali ini.

Kak Geeta adalah kakak senior yang sudah tiga tahun menjadi siswi Jurusan Tentara Langit, akan segera menjadi empat, tetapi ia masih belum lulus. Jika rata-rata anak akademi lulus di tahun ketiga, keempat, atau kelima sesuai dengan aturan yang berlaku dalam masing-masing jurusan, di Tentara Langit tidak ada batasan waktu tertentu.

Contohnya, kelulusan tercepat sepanjang sejarah Jurusan Tentara Langit adalah hanya dalam dua bulan dan kemudian langsung tergabung ke pasukan Tentara Langit. Kelulusan terlama, well, masih belum diketahui. Sampai saat ini, Aalisha bahkan bisa menemui kakak senior yang berbeda enam angkatan, itu berarti sudah tujuh tahun ia menempuh studi di Jurusan Tentara Langit.

Netra tembaga Aalisha menatap langit-langit kamar, memperhatikan bayangan kuning lilin yang bergerak-gerak tertiup angin malam. Musim dingin segera tiba, mengembuskan hawa yang cukup membuat bulu remang berdiri.

Tapi itu masih belum seberapa jika dibandingkan dengan udara musim dingin di tengah lautan. Jadi Aalisha masih bisa menahannya.

Kelopak mata gadis itu mengerjap perlahan, membiarkan otaknya berlayar dalam berbagai pikiran yang datang setelah sekian malam tidak beristirahat.

Karena setiap kamar diisi dua orang, Aalisha secara kebetulan terpisah dari teman-teman 'Ballard'-nya.

Elsi sekamar dengan Alka, Zeeb sekamar dengan Kaori, dan Aalisha sekamar dengan Kak Geeta. Sementara Lea, terakhir kali bertemu, ia mengabarkan kalau sekamar dengan salah satu kawan jurusannya di Kesatria, satu anak dari Spiritual, dan satu lagi yang lain dari Jurusan Ekonomi. Perempuan itu juga sempat mengeluhkan bagaimana melelahkannya latihan yang dia terima di awal semester di Jurusan Kesatria waktu itu.

Berbeda dengan Tentara Langit yang setiap kamar hanya diisi dua orang, jurusan lain selain Tentara Langit dan Penjaga Bumi memang tinggal dalam kamar-kamar yang terisi oleh tiga hingga empat orang, tercampur dari berbagai jurusan.

Salah satu sudut bibir Aalisha diam-diam terangkat. Kantuk yang hampir menghampiri tiba-tiba kembali sirna.

Syukurlah ia memilih Tentara Langit.

Setelah memasuki jurusan ini, terasa sangat jelas bahwa Tentara Langit adalah jurusan yang berbeda, spesial. Jurusan ini benar-benar berbeda dalam segala hal. Seperti ada di level yang lebih tinggi. Terkadang, Aalisha tak kuasa menahan diri untuk tidak menyombong ketika bertemu Lea dan kawan-kawannya yang lain.

Urutkan saja semua keistimewaan yang didapat para murid jurusan Tentara Langit. Aalisha mungkin kehabisan jari untuk menghitung jumlah totalnya.

Pertama, memiliki lantai khusus yaitu lantai delapan. Oke, mungkin dalam hal ini Penjaga Bumi juga istimewa karena mereka menguasai lantai tujuh. Dua lantai teratas gedung asrama ini terasa begitu lengang sehingga membuat Aalisha bebas berlarian di lorongnya jika dia mau.

[Kami] Tentara LangitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang