| 10. Penjelasan & Penyelamat

5.5K 399 1
                                        

Aisyah bisa menunjukkan kelemahannya di depan Bunda dan Azzam, atau bahkan orang lain. Tapi saat di rumah, Aisyah berusaha keras untuk tidak menunjukkan itu sama sekali, apalagi pada istri kedua Abah. Karena jika Aisyah memperlihatkannya, pasti wanita itu akan merasa menang.

Aisyah pulang hanya untuk mandi dan bersiap sekolah. Gadis itu menyisir rambutnya yang halus kemudian mempercantik diri dengan jepitan berwarna ungu.

"Aisyah, kamu masih mau melepas jilbab Nak?" Ummi menyambut Aisyah dengan membawa kotak bekal dan botol minum yang biasa Aisyah bawa ke sekolah.

"Aisyah minta uang aja Mi.." Ummi hanya bisa tersenyum tipis, setidaknya Aisyah sudah mau bicara lagi dengannya. Memang ini kesalahan dirinya dan juga Abah, maka dari itu Ummi tidak ingin menyalahkan Aisyah sama sekali. Anak gadisnya itu mungkin hanya butuh waktu dan penjelasan agar bisa memahami kondisi keluarga mereka.

"Ummi kasih lebih ya sayang, makan yang banyak.." Aisyah hanya membalasnya dengan anggukan singkat.

"Aisyah berangkat dulu.."

"Hati-hati sayang.."

Kedatangan Aisyah dengan penampilan baru tentu saja menjadi perbincangan hangat orang-orang, banyak yang mencibir dan menganggap sifat asli Aisyah sudah keluar, namun tak jarang juga yang malah memujinya dan menganggap Aisyah lebih cantik tanpa balutan hijab. Apapun itu Aisyah tidak peduli.

"Sya, kamu lepas jilbab?" Rena juga tidak kalah kaget melihat sahabatnya itu, setelah kemarin tidak masuk, sekarang Aisyah malah datang dengan penampilan yang mengejutkan.

"Simpen aja ceramahnya buat besok.."

"Kamu ada masalah ya Sya?"

"Enggak.."

"Mata kamu sembab, aku bisa dengerin kok kalo kamu mau curhat."

"Makasih Renaaa, tapi aku nggak apa-apa. Udah ah.."

Aisyah mengikuti pelajaran seperti biasa, tidak ada yang istimewa di sekolah ini.

Saat istirahat, Aisyah duduk di kursi kantin sambil menunggu Rena yang sedang memesan makanan, suasana sedang ramai dan Aisyah bisa mendengar beberapa cibiran.

"Kan udah dibilang, emang yang paling cocok sama Kak Azzam itu ya Kak Zahra.."

"Akhirnya sifat aslinya keliatan juga, nggak tahan kali belagak sok alim.."

"Feeling gue si udah nggak perawan.."

Tepat saat suara terakhir terdengar, Aisyah bangkit dari duduknya. Berjalan mendekat ke arah siswa yang baru saja melontarkan kalimat penghinaan itu.

"Ngomong apa lo?" seru Aisyah dengan wajah angkuh, tidak ada ketakutan sama sekali walau yang dihadapinya kini adalah kakak tingkatnya.

"Berani banget lo nyamperin gue," gadis bernama Lili itu juga tidak mau kalah.

"Gue tanya lo tadi ngomong apa?"

"Lo udah nggak perawan?" jawab Lili dengan senyum mengejek.

"Ada bukti apa lo ngomong kaya gitu?" Aisyah masih berusaha mengontrol emosinya.

"Semua orang juga tau lo nggak sealim yang terlihat, nggak usah munafik."

"Gue tanya lo ada bukti apa nggak!!" bentak Aisyah yang berhasil membuat Lili berjengit kaget, begitu pun anak-anak yang melihat kejadian itu.

"Berani ya lo!!" tangan Lili terangkat bersiap mendaratkan tamparan di pipi Aisyah, tapi tangan Aisyah lebih dulu menangkapnya. Dihempas nya tangan Lili dengan kasar sebelum kini Aisyah yang mendaratkan tamparannya.

Takdir TerindahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang