| 28. Pengantin Baru

7.9K 453 0
                                        

"Bangun sayang..." Aisyah menggeliat, tangannya menghalau siapapun yang mengganggu tidurnya.

"Sholat subuh dulu, Mas udah mau ke masjid sama Abah.." bujuk Azzam lagi, kali ini sembari mengelus rambut sang istri.

"Eunghh, lima menit lagi.."

"Sekarang, ayo coba buka dulu matanya..."

"Aisyah masih ngantuk!!"

"Waktu subuh kan pendek sayang, nanti kesiangan. Ayo bangun..." Azzam menarik kedua tangan Aisyah kemudian membantunya untuk duduk.

Aisyah mengucek kedua matanya yang masih terasa berat, Azzam di depannya sudah rapi mengenakan sarung dan baju koko. Aroma tubuhnya juga sudah sangat wangi.

"Wangi banget..." ujar Aisyah seraya mengendus-endus leher Azzam.

"Kan Mas udah mandi, sana kamu cuci muka dulu..."

"Azzam.. Ayo!" dari lantai bawah suara Abah sudah menggema.

"Tuh Abah udah manggil, Mas berangkat ya. Kamu jangan tidur lagi..."

"Iya iya..."

"Salim." Azzam mengulurkan tangannya, dan Aisyah menyambut dengan senang hati.

"Assalamu'alaikum..."

"Waalaikumsalam..."

Aisyah memandang punggung Azzam sampai pria itu tidak terlihat lagi, pipinya tiba-tiba menghangat saat sadar Azzam benar-benar sudah menjadi suaminya.

.

.

.

.

Walau sudah mengikhlaskan, tapi Aisyah tetap merasa sedih tiap kali melihat sudut rumah ini. Kenangan bersama Umi sudah melekat sejak dirinya masih kecil, apalagi rumah ini jarang sekali direnovasi.

"Daripada ngelamun ikut Mas aja yuk.."

"Kemana?"

"Nengok kafe baru.." Aisyah tampak berfikir, sebelum akhirnya mengangguk karena dia juga bingung mau melakukan apa.

Setelah berpamitan pada Salman dan Hanni, keduanya pergi ke rumah Azzam untuk mengambil mobil. Disana ada Naufal juga yang sedang asik membantu Bunda membuat kue, walau yang dilakukan anak itu hanya menumpahkan tepung atau memecahkan telur, tapi Bunda sama sekali tidak merasa keberatan.

"Ayah mana Bun?"

"Lagi ketemu sama suplier baru sayang, kalian mau kemana?"

"Aku mau ngajak Aisyah nengokin kafe baru..."

"Naufal ikut boleh nggak Kak?" tanya Naufal dengan wajah memelas, Azzam menggaruk belakang kepalanya yang tiba-tiba gatal.

Sebenarnya dia berniat ingin mengajak Aisyah untuk tidur di hotel agar mereka merasakan suasana yang baru. Namun rasanya tidak tega juga kalau harus menolak permintaan Naufal.

Melihat anaknya dilanda kebimbangan, Bunda sebagai pahlawan tentu tidak akan tinggal diam.

"Kalo Naufal pergi nanti Bunda sendirian dong..." ujar Bunda dengan wajah dibuat sesedih mungkin, bibirnya melengkung ke bawah dengan mata berbinar seperti upin ipin kalau sedang merayu opah.

"Eh eh, iya deh Naufal nggak jadi ikut. Naufal disini aja nemenin Bunda..." panik Naufal yang langsung memeluk Amira sambil menepuk-nepuk kepalanya. Aisyah hampir saja dibuat tertawa melihat tingkah sang adik.

"Yaudah kita berangkat ya Bun..." pamit Azzam kemudian mengecup punggung tangan Bunda diikuti oleh Aisyah setelahnya.

"Kakak berangkat dulu ya..." tak lupa mereka juga berpamitan pada Naufal.

Takdir TerindahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang