Bulan berlalu begitu cepat, Azzam sudah sibuk mempersiapkan ujian nasional. Sejak 3 hari yang lalu bahkan kelas 12 sudah memulai jam tambahan. Selain itu, Azzam juga mengambil les privat setiap hari sabtu dan minggu.
"Hah capek.." Aisyah dan Azzam baru saja sampai di depan rumah setelah berjoging mengelilingi komplek.
Minggu pagi dihabiskan keduanya untuk berolahraga, karena setelah ini Azzam harus bersiap untuk les sedangkan Aisyah berangkat bekerja lebih awal dari biasanya.
Aisyah duduk sambil meluruskan kakinya, menata kembali helaan nafas yang tadi berantakan. Jaket Azzam masih melingkar di pinggangnya. Cowok itu masih saja protektif setiap kali melihat Aisyah keluar dengan pakaian yang cukup ketat.
Jika ada yang bertanya perihal hubungan Aisyah dan Abah, maka jawabannya masih sama seperti sebelumnya. Abah sudah sering mencoba memulai obrolan, tapi Aisyah masih enggan menanggapi. Itu membuat suasana rumah terasa hambar, karena biasanya keceriaan Aisyah lah yang menghangatkan hubungan kedua orang tuanya.
Aisyah juga lebih sering menghabiskan waktunya di luar rumah, itu karena dia sudah memiliki banyak teman di tempatnya bekerja. Meski usia Aisyah paling muda diantara yang lain, tapi mereka tidak pernah memperlakukan Aisyah dengan beda. Rasa kekeluargaan malah semakin terasa setiap kali mereka saling membantu.
"Nanti pulang jam berapa?" tanya Azzam setelah meneguk air di dalam botol.
"Jam 7 seperti biasa.."
"Mas jemput ya?" tawar Azzam yang langsung diangguki oleh Aisyah, meski sibuk cowok itu selalu menyempatkan diri untuk menjemput Aisyah. Dia ingin memastikan gadis itu pulang tanpa gangguan apapun.
Pukul 11 siang Aisyah sudah sampai di tempat kerja, masih ada 30 menit sebelum jam kerjanya dimulai. Dia duduk dan bersiap untuk didandani. Kali ini Aisyah memakai celana jins dan atasan berwarna putih polos. Itu membuatnya terlihat lebih dewasa apalagi dengan rambut pendek yang kini sudah melekat dengan imejnya.
Seperti yang ia duga, weekend selalu menjadi surga pagi para pedagang. Banyaknya anak muda yang nongkrong membuat Aisyah kewalahan melayani pembeli. Kebanyakan dari mereka datang bersama pasangan, tak jarang ada beberapa siswa yang terpana dengan kecantikan Aisyah dan berakhir dengan menggoda gadis itu.
Tapi Aisyah bersyukur cara menggoda mereka tidak sampai membuatnya tidak nyaman, hanya adu gombalan atau kadang berusaha melawak walau lawakannya garing.
"Namanya siapa si Kak? Penasaran aku tuh.." Aisyah tersenyum kecil, tangannya masih cekatan menuang es batu ke dalam wadah.
"Aisyah.."
"Masya Allah.." jawab beberapa anak yang sedang mengantri dengan serempak, itu membuat pipi Aisyah memanas karena malu.
"Kak Aisyah masih sekolah?"
"Baru mau naik kelas 11 si.."
"Wahh kok udah bisa kerja?"
"Iya dong, Aisyah gitu loh.." jawaban Aisyah berhasil membuat anak-anak itu tergelak. Dari jauh Andre yang melihat adegan itu tampak tersenyum bangga, Aisyah memang selalu bisa diandalkan.
"Akhirnyaaa.." Aisyah menghela nafas setelah semua pembeli sudah berhasil dia layani. Gadis itu memilih duduk sebentar sembari memijat kakinya yang sedikit pegal.
"Kalo penjualnya gini minumannya kalah manis nggak si?" Aisyah mendongak saat seseorang menghampirinya.
"Kak Jason?"
Melihat Aisyah yang tampak terkejut membuat Jason tersenyum lebar.
"Udah lama nggak ketemu ya, Aisyah?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Takdir Terindah
Ficțiune generală"Ummi punya satu permintaan, Aisyah mau kabulkan?" "Apapun akan Aisyah lakukan asal Ummi bahagia.." Aisyah membawa tangan Danira untuk dia kecup. "Menikahlah dengan Azzam Nak.." "Iya, Aisyah pasti menikah sama Mas Azzam. Aisyah janji.." Danira te...
