5 bulan kemudian
"Lagi ngapain sayang?" suara Azzam terdengar dari sebrang telefon, mungkin ini sudah ke 10x pria itu menghubungi Aisyah.
"Aisyah masih masak Mas, kan kita baru telfonan beberapa menit lalu," jawab Aisyah sembari mengaduk sup di dalam panci.
"Yaudah jangan dimatiin, Mas mau denger suara kamu."
"Sebentar lagi Mas pulang, kamu jangan capek-capek loh.." sambung Azzam lagi, pria itu benar-benar dibuat tidak tenang karena harus meninggalkan Aisyah sendirian di rumah.
"Iya Mas iyaaa, Aisyah sadar kok perut Aisyah udah besar banget. Ini aja kayak mau jatoh," balas gadis itu diakhiri dengan kekehan.
"Shh nggak boleh ngomong gitu," tegur Azzam.
Aisyah tidak menjawab apapun lagi, dia masih sibuk membuat beberapa menu. Walau kandungannya sudah sangat tua, tapi Aisyah sama sekali tidak membatasi kegiatannya. Dia malah semakin sering bergerak kesana kemari.
Setiap pagi gadis itu pasti akan meminta Azzam untuk menemaninya berjalan-jalan santai. Kata Bunda hal itu bisa melancarkan proses persalinan nanti.
Begitu pun saat di rumah, Azzam bahkan pernah dibuat senam jantung saat melihat sang istri sedang mengepel dengan berjongkok. Tapi saat Azzam menegurnya, Aisyah malah bilang jika hal itu bisa membuat adik bayi yang ada di perutnya cepat menemukan jalan keluar.
Itu semua dia lakukan karena sudah tidak sabar ingin bertemu dengan sang anak, walau ketakutan sering menghantui Aisyah, tapi saat mengingat kalau sebentar lagi dirinya akan bertemu dengan adik bayi seketika semua ketakutan itu sirna.
"Sayang, kamu masih disitu kan?"
"Lagi cuci piring!" Aisyah terpaksa berteriak karena posisi ponselnya yang cukup jauh.
Selesai dengan semua pekerjaan rumah tangga, Aisyah bergegas mandi untuk menyambut kepulangan Azzam. Mereka akan makan bersama sebelum nantinya menghabiskan waktu hanya berdua di dalam kamar.
Azzam sudah tidak mau pergi jauh-jauh karena takut sewaktu-waktu Aisyah mengalami kontraksi.
Di sudut kamar mereka bahkan sudah ada banyak perlengkapan yang sengaja disiapkan Azzam jauh-jauh hari.
Karena Azzam terlalu lama, akhirnya Aisyah memutuskan untuk memakan makanan ringan terlebih dahulu. Gadis itu duduk di depan TV dengan kedua kaki diluruskan. Ada satu toples keripik talas di pangkuan yang kini hanya tersisa setengahnya.
"Assalamu'alaikum..."
Begitu suara Azzam terdengar, Aisyah langsung bergegas ke depan untuk menyambutnya. Senyum di bibir gadis itu semakin merekah saat melihat Azzam menenteng banyak bungkusan makanan.
"Sini Aisyah bawain." Aisyah bermaksud meraih tas milik Azzam, tapi pria itu dengan tegas menolaknya.
Akhirnya dia hanya mengekor di belakang mengikuti Azzam yang berjalan ke arah ruang keluarga.
"Mas mandi dulu, kalo udah laper makan aja dulu."
Aisyah menggeleng, "Aisyah mau ngemil puding dulu, mamnya nanti sama Mas."
Azzam tersenyum kecil, dikecup nya pipi Aisyah dengan gemas.
.
.
.
.
Rutinitas Azzam setiap malam adalah memanjakan istrinya. Walau dia sendiri lelah karena bekerja, tapi kenyamanan Aisyah tetap menjadi prioritas utama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Takdir Terindah
Fiksi Umum"Ummi punya satu permintaan, Aisyah mau kabulkan?" "Apapun akan Aisyah lakukan asal Ummi bahagia.." Aisyah membawa tangan Danira untuk dia kecup. "Menikahlah dengan Azzam Nak.." "Iya, Aisyah pasti menikah sama Mas Azzam. Aisyah janji.." Danira te...
