| 18. Rahasia Zahra

5K 378 2
                                        

TW ⚠️// self harm!!



Azzam mengendarai mobil dengan tenang, kedua matanya fokus menatap ke depan. Di sampingnya Zahra duduk dengan perasaan bahagia yang membuncah, jantungnya berdebar kencang setiap kali mata gadis itu melirik ke arah Azzam yang tampak semakin mempesona jika dilihat dari samping.

Ingin sekali rasanya Zahra meminta waktu untuk berhenti sejenak, dia tidak ingin adegan ini berakhir.

"K-kamu mau lanjut kemana Zam?" setelah sekian lama berfikir, akhirnya Zahra memberanikan diri untuk membuka obrolan.

"Belum tau, tapi kayaknya UI si.." jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari arah depan.

"Aku juga mau coba disana, semoga kita bisa bareng lagi ya.." kedua tangan Zahra saling meremas karena gugup. Sebetulnya Zahra belum tau dia akan lanjut kemana, tapi karena Azzam memilih UI sebagai tujuan, dia juga ingin mengikuti jejak Azzam.

"Kita mampir makan dulu yuk.."

"Aku udah makan Ra."

"O gitu.." Zahra tidak membuka suara lagi, gadis itu memilih untuk mengalihkan pandangan ke arah jendela. Ada kecewa yang merayapi hatinya karena penolakan dari Azzam.

Tak lama mobil menepi di depan gerbang sebuah rumah bercat abu-abu. Rumah Zahra sangat besar dengan halaman yang luas.

"Makasih udah nganterin.." ucap Zahra yang hanya dibalas anggukan oleh Azzam.

"Aku masuk ya, kamu hati-hati.."

"Iya, aku pamit."

Zahra menatap kepergian mobil Azzam dengan mata sendu, padahal dia ingin lebih dari ini. Dia ingin sekali jujur kalau dirinya menyukai Azzam, tapi saat sudah berhadapan dengan cowok itu seketika keberaniannya menguap.

Gadis itu berbalik menatap rumah di depan matanya, rumah besar yang mungkin menjadi impian sebagian orang. Yang nampak nyaman, aman, tentram dan penuh kehangatan. Meski kenyataannya jauh dari itu semua.

Dia berjalan lunglai masuk ke dalam rumah, tempat dimana hanya ada kesepian yang Zahra rasakan. Jauh sekali dengan rumah Azzam yang begitu hangat oleh kasih sayang.

"Non Zahra udah pulang?" tanya seorang wanita berusia 40 tahunan yang selalu setia menyambut kepulangan Zahra.

"Iya Bi.."

"Mau Bibi bikinin susu hangat biar tidurnya nyenyak?" Zahra tersenyum kecil kemudian menggeleng.

"Aku langsung ke kamar ya Bi, Bibi istirahat aja.."

"Njih Non."

Apa salah jika Zahra mendambakan sebuah kasih sayang? Apa salah jika Zahra ingin merasakan cinta?

Sepertinya tidak.

Hidup Zahra minim peran orang tua. Sejak kelas satu SD anak itu sudah dimasukkan ke dalam pesantren sementara kedua orang tuanya sibuk bekerja. Zahra kecil jarang sekali pulang karena dilarang oleh Ayahnya. Saat rindu dengan suasana rumah, gadis itu hanya bisa menangis dalam diam.

Namun lambat laun Zahra mulai terbiasa dengan lingkungan pesantren, dia sibuk sekolah juga menimba ilmu agama sehingga Zahra tumbuh menjadi gadis yang cerdas juga berakhlak baik.

Zahra baru keluar dari pesantren saat memasuki kelas satu SMA, dan saat itu juga dia harus ditinggal kedua orang tuanya yang meninggal karena kecelakaan.

Hati Zahra hancur berkeping-keping, bertahun-tahun dia menunggu waktu untuk keluar dari pesantren agar bisa berkumpul kembali dengan kedua orang tuanya, namun justru mereka meninggalkan Zahra untuk selama-lamanya.

Takdir TerindahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang