Ini special chapter buat Yovela...
Nggak terlalu panjang.
"Kamu yakin nggak mau ikut Nak?" tanya Amira memastikan, dan Yovela kembali mengangguk. Gadis itu ikut berdiri di halaman, menyaksikan dua keluarga yang tengah bersiap pergi ke pemakaman untuk berziarah.
"Yakin Tante, aku jaga rumah aja..." Amira tersenyum kecil, diusap nya kepala Yovela dengan lembut.
"Yaudah kalo gitu, kamu baik-baik ya di rumah."
"Iya Tante."
Dan setelah itu tidak ada lagi yang bertanya, baik Fahri, atau bahkan Azzam dan Aisyah.
Yovela melihat Aisyah sudah naik ke atas mobil bersama keluarganya, dia duduk di belakang bersandar pada Azzam. Sementara Amira dan Fahri pergi menggunakan mobil yang berbeda.
Mata Yovela menatap kepergian dua mobil itu dengan sendu, mau bagaimanapun dia berusaha, tetap saja seorang Yovela tidak akan bisa masuk ke dalam hubungan hangat mereka. Dia tak lebih dari seorang gadis yang tidak sengaja dipungut, dan cukup sampai di situ harusnya dia sudah berterima kasih.
Yovela berbalik, rumah Azzam terlihat nyaman, dan dia sudah membuktikannya beberapa minggu ini. Mungkin kini saatnya dia pergi, entah ke tempat lamanya, atau ke tempat baru untuk menata hidup.
Dia tidak tau harus memulainya dari mana, terakhir kali dia bertemu sang Mami, wanita itu berkata bahwa Yovela hanya mengganggu kesenangannya saja. Dan Yovela bisa paham itu, apa yang Maminya alami memang tidak mudah. Dia butuh pendamping hidup, dan selagi orang itu bisa membuatnya bahagia, Yovela akan ikut bahagia.
Tanpa sadar kakinya sudah melangkah di jalanan, hiruk pikuk kota Jakarta tak lantas membuatnya ramai. Dia tetap kesepian.
Keinginannya untuk mengakhiri hidup kembali terlintas, dia tidak ingin menjadi beban bagi siapapun. Bahkan kedua orang tuanya saja sudah tidak sudi mengurusnya, dia juga tidak mungkin tinggal selamanya di rumah Azzam. Karena itu akan membuat rasa ingin memiliki lelaki itu semakin meluap-luap.
Yovela menatap ke arah jalan, lalu ke jembatan penyeberangan, dan terakhir ke sebuah jembatan yang di bawahnya mengalir sungai besar. Tiga opsi yang menggiurkan, tapi justru membuat Yovela bingung. Kira-kira cara mana yang lebih cepat untuk membuang semua bebannya.
Dia berdiri cukup lama di atas jembatan, kepala menunduk untuk melihat arus sungai yang semakin lama semakin membuatnya tenang.
Satu kakinya terangkat naik, dan ketenangan itu semakin jelas dia rasakan. Tanpa sadar bibir gadis itu melengkung ke atas, menciptakan sebuah senyum yang sudah lama tidak dia tunjukkan.
"Dari tiga pilihan itu, kenapa kamu pilih yang paling menyakitkan?" sebuah suara menyeret Yovela kembali ke alam sadar, kedua tangan yang sudah terentang dia turunkan lagi.
Seseorang berdiri di sampingnya dengan tatapan datar.
"Bisa berenang?" lelaki itu kembali bersuara, dan entah mengapa Yovela malah mengangguk sebagai jawaban.
"Kalo kamu terjun ke sana, pasti insting kamu untuk menyelamatkan diri masih ada. Apalagi kamu bisa berenang, gampang banget kalo mau menepi." Yovela menurunkan satu kakinya, matanya kembali melihat ke arah bawah. Dan dia membenarkan ucapan lelaki itu.
"Kalo kamu tetep kekeh untuk menenggelamkan diri, maka itu adalah cara mati yang paling menyakitkan. Kamu bakal kesusahan bernafas sampe jantung kamu serasa meledak."
"Kalo aku boleh saran, mending kamu cari gedung yang tinggiiii banget, karena kemungkinan bisa matinya lebih banyak. Tapi kalo nggak mati ya... paling kamu bakal cacat seumur hidup."
"Jonathan..." katanya memperkenalkan diri.
Yovela menoleh, ditatap nya tangan yang terulur dengan tatapan kosong.
Gadis itu tidak membalasnya, dan Nathan kembali menurunkan tangannya.
"Tuhan kita sama, mungkin aku bisa bantu kamu buat ngerayu Tuhan supaya hidup kamu jadi lebih baik..." Yovela bisa melihat lelaki di depannya tersenyum, menampilkan deretan gigi yang rapi dan putih.
Nathan meraih tangan Yovela untuk dia genggam, dan gadis itu nurut saja saat lelaki itu membawanya pergi.
Nathan adalah laki-laki yang periang, dia banyak bicara, dan ramah. Hampir semua orang yang mereka temui di jalan, pasti akan disapanya. Sesekali dia juga akan berlari kecil sambil melompat lompat, membuat Yovela yang berada di belakangnya terpaksa mengikuti gerakan itu.
"Batagor atau siomay?" Yovela mengernyit, keduanya mendadak berhenti di tepi jalan.
"Eung, siomay..." jawabnya ragu.
"Oke." balas Nathan masih dengan nada ceria, tak lama setelah itu tautan tangan mereka terlepas. Nathan berlari ke sebrang jalan dimana ada dua gerobak yang berdiri bersisian.
Yovela bisa melihat Nathan memberi isyarat agar dirinya duduk lebih dulu sembari menunggu. Tanpa sadar Yovela menuruti semua yang Nathan perintahkan.
Tidak butuh waktu lama bagi laki-laki itu untuk kembali. Nathan menenteng sebuah kantong plastik kecil yang di dalamnya terdapat dua bungkus siomay.
"Aku nggak tau kamu sukanya apa aja, jadi aku minta lengkap tanpa pare. Karena biasanya cewek itu nggak suka yang pait-pait."
Yovela hanya mengangguk seraya meraih bungkusan itu, mereka menikmati siomay di pinggir jalan ditemani pemandangan kendaraan yang berlalu lalang.
Yovela mengikuti bagaimana cara Nathan membuka bungkusan itu, bukan dengan membuka karet yang terlilit di bagian atas, melainkan dengan cara menggigit bagian sudut bawah.
"Thanks..." setelah sekian lama akhirnya Yovela membuka suara, Nathan hanya melirik sekilas kemudian mengangguk.
"Kenapa kamu nolongin aku?"
"Aku nggak nolongin, cuma menyadarkan."
"Kenapa kamu mau nyadarin aku?"
"Ya karena kamu tadi lagi nggak sadar." Yovela menghela nafas lelah, selain tingkahnya yang aneh Nathan juga menyebalkan untuk diajak bicara.
Akhirnya mereka tidak bersuara lagi, keduanya sibuk mengunyah siomay masing-masing.
"Semoga Bapaknya masuk surga." ucap Nathan saat siomay di tangannya sudah habis.
"Hah?"
"Semoga Bapaknya masuk surga, soalnya udah bikin siomay seenak ini." Yovela hanya bisa geleng-geleng kepala, baru beberapa menit dia bersama Nathan tapi rasanya sudah lelah sekali menghadapi tingkahnya.
"Ayo!" Nathan berdiri, tangannya kembali terulur di depan Yovela.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan lebih riang, mungkin karena Nathan sudah makan jadi tenaga yang dia punya semakin banyak.
Keduanya berhenti di depan sebuah bangunan tinggi yang sudah sangat Yovela kenali. Dia tidak ingat kapan terakhir kali pergi ke sini untuk beribadah.
"Ayo ngobrol sama Tuhan..." ajak Nathan kemudian membawa Yovela untuk masuk ke dalam sana.
To be continued
Kenapa aku bikin ini?
Karena aku pengen semua karakter yang ada di cerita ini punya endingnya masing-masing.
Selamat hari jumat 😇
KAMU SEDANG MEMBACA
Takdir Terindah
General Fiction"Ummi punya satu permintaan, Aisyah mau kabulkan?" "Apapun akan Aisyah lakukan asal Ummi bahagia.." Aisyah membawa tangan Danira untuk dia kecup. "Menikahlah dengan Azzam Nak.." "Iya, Aisyah pasti menikah sama Mas Azzam. Aisyah janji.." Danira te...
