| 11. Pengakuan Juno

5.2K 372 0
                                        

"Lo boleh nangis sepuasnya, nggak akan ada yang denger.."

Juno masih fokus mengendarai motor dengan Aisyah yang duduk di belakangnya, harusnya konser musik yang ingin mereka datangi sudah mulai sejak 20 menit yang lalu, tapi Juno memilih menyusuri jalanan tanpa tujuan yang jelas.

Aisyah begitu menikmati sensasi angin yang menerpa wajahnya, seakan membawa setumpuk masalah yang sejak tadi memberatkan pundak. Gadis itu sudah puas menangis sampai rasanya dia tidak ingin menangis lagi. Toh percuma jika hanya meratapi nasib, lebih baik sekarang Aisyah mulai memikirkan masa depannya sendiri.

"Udah nangisnya?" tanya Juno setelah mengintip dari kaca spion, dan Aisyah mengangguk sebagai jawaban.

Tak lama motor menepi ke sebuah tempat yang Aisyah sendiri tidak tau tempat apa ini, yang pasti ini bukan konser musik yang sejak kemarin ingin mereka tuju.

Juno mengajak Aisyah berjalan melewati banyak pepohonan, kemudian berhenti saat keduanya berada di depan sebuah pohon yang paling besar di antara yang lainnya.

"Kita ngapain ke sini?" tanya Aisyah bingung.

"Tuh.." Juno menunjuk ke atas, dan mulut Aisyah langsung ternganga saat melihat sebuah rumah pohon yang nangkring disana. Dengan mata berbinar Aisyah menatap Juno seakan meminta izin untuk naik ke atas.

"Tangganya disana.." Juno mengajak Aisyah berjalan ke sisi yang lain, dan benar saja ada sebuah tangga sebagai akses untuk mereka naik. Juno membiarkan Aisyah memanjat lebih dulu, sedangkan dia menjaga dari bawah. Tidak tau saja kalau Aisyah paling jago masalah panjat memanjat.

Setelah Aisyah sampai di atas, barulah Juno menyusul.

Aisyah semakin takjub saat dirinya bisa melihat hamparan bintang dari balik jendela.

"Gue suka kesini kalo lagi sedih, sambil liatin bintang dari teropong.."

"Emang ini punya siapa Kak?"

"Punya gue, rumah gue juga deket dari sini. Ntar gue kasih liat biar lo bisa mampir kapan-kapan."

Lalu keduanya larut dalam sebuah percakapan, mereka bicara tentang diri masing-masing tanpa canggung. Tentang keluarga Aisyah yang kini sudah tidak seindah dulu, juga tentang Juno yang sudah ditinggal Ayahnya bahkan saat dia masih di dalam kandungan.

Dari situ Aisyah sadar, setiap orang mempunyai titik lemahnya masing-masing.

.

.

.

.

.

Belakang sekolah menjadi latar pertemuan Azzam dan Juno, mereka bertemu saat bel istirahat pertama dimulai.

"Lo tau kan gue suka sama Aisyah?" Juno hanya mengangguk enteng.

"Terus kenapa lo malah deketin dia? Lo juga ngasih pengaruh buruk buat Aisyah.."

"Terus harusnya gue ngapain? Ceramahin dia? atau nyalahin dia karna nggak mau maafin Abahnya?" jawab Juno diakhiri kekehan.

"Aisyah nggak butuh itu bro, lo cuma harus memvalidasi rasa sakit yang dia rasain. Bilang kalo sikapnya sekarang adalah sesuatu yang wajar, setelah Aisyah bisa menerima rasa sakitnya dan mulai berdamai. Baru lo bisa ngarahin kemana dia harus berjalan lagi."

"Gue suka sama Aisyah, dan gue siap bersaing sehat," setelah mengatakan itu Juno berlalu pergi.

Azzam duduk di bangkunya dengan perasaan berkecamuk. Mendengar pengakuan Juno tadi membuatnya semakin takut kehilangan Aisyah. Dia tidak ingin Aisyah jadi milik orang lain, tapi dia juga tidak tau bagaimana caranya membuat Aisyah menjadi miliknya.

"Kamu beneran mau kerja Sya?" tanya Rena memastikan, tadi Aisyah bilang dia berencana mencari pekerjaan sampingan agar dia bisa mendapat uang tambahan.

"Iya serius, kalo kamu liat lowongan kabarin aku ya.." Rena hanya bisa menghela nafas seraya mengangguk.

Sepulang sekolah Aisyah langsung berniat merealisasikan rencananya. Gadis itu berkeliling untuk mencari pekerjaan yang kiranya bisa dilakukan sembari bersekolah.

Aisyah masuk ke dalam sebuah kafe yang tidak terlalu besar.

"Permisi Kak, mau nanya. Disini ada lowongan pekerjaan nggak?"

"Kamu masih sekolah?" Aisyah mengangguk ragu ragu.

"Maaf ya Dek, kalo masih sekolah nggak bisa.."

"Tapi aku mau kerja apa aja kok Kak.."

"Nggak bisa Dek.."

"Yaudah makasih.."

Aisyah keluar dengan perasaan kecewa, harusnya dia tau mencari pekerjaan tentu tidak semudah itu. Apalagi jika dirinya masih sekolah seperti ini.

Gadis itu berkeliling dan bertanya ke beberapa toko, kafe, dan minimarket. Namun semuanya ditolak dengan alasan yang sama.

Aisyah duduk untuk beristirahat sejenak, tangannya bergerak menyeka keringat yang membasahi pelipisnya.

"Kamu lagi nyari kerjaan ya?" tiba-tiba seorang lelaki berusia sekitar 30 tahunan menghampiri Aisyah, gadis itu langsung berdiri dengan semangat.

"I-iya Pak, saya mau kerja apa aja. Asalkan waktunya bisa dibagi sama Sekolah.." lelaki itu tersenyum, matanya bergerak memindai penampilan Aisyah dari atas sampai bawah.

"Bisa, bisa banget dibagi sama sekolah.."

"Emang kerjanya apa ya Pak?"

"Kamu jualin produk minuman saya, liat stan yang disana?" lelaki itu menunjuk sebuah stan yang berada di depan gedung perkantoran.

"Iya.."

"Nanti kamu jaga disana, waktunya sepulang sekolah sampe jam 7 malem aja. Makin banyak minuman yang terjual, makin besar juga uang yang kamu dapet," jelas lelaki itu, Aisyah tersenyum senang mendengarnya. Tanpa pikir panjang, Aisyah langsung menerima tawaran tersebut.

"Jadi kapan saya bisa mulai kerja?"

"Besok juga boleh, tapi inget, jangan pakai seragam.."

"Baik Pak.."

Aisyah pulang dengan perasaan senang, sebentar lagi dia akan bekerja dan menghasilkan uang sendiri.

"Kamu sudah pulang Aisyah?" sapa istri kedua Abah yang baru Aisyah ketahui bernama Hanni. Aisyah tidak berniat menjawab dan memilih langsung masuk ke dalam rumah. Sedangkan Hanni hanya tersenyum kecil, merasa pantas dirinya diperlakukan demikian.

Aisyah tidak melihat siapapun di dalam rumah, tapi dia juga tidak peduli.

Setelah mandi Aisyah langsung membereskan buku untuk pelajaran besok, dia juga tidak lagi menunda mengerjakan tugas karena besok sudah mulai bekerja.

Selesai dengan semua tugasnya, gadis itu bergegas naik ke atas ranjang untuk tidur.

Sekitar pukul 11 malam Aisyah bangun karena merasa sangat lapar, dia lupa tadi bahkan tidak sempat makan saat pulang sekolah. Mau tidak mau Aisyah pun bangun dan turun menuju dapur.

"Ummi mana si?" gumamnya pada diri sendiri.

"Ummi sama Abah lagi pergi ke rumah Nenek kamu, Aisyah mau makan? Tadi Umma masak banyak, biar nanti diangetin dulu ya.." ujar Hanni dengan lembut, tangannya masih telaten menggendong Naufal yang masih setengah terlelap.

"Nggak usah," balas Aisyah singkat, gadis itu berlalu meninggalkan Hanni dan memilih memasak mie instan untuk mengganjal perut.

Melihat meja makan yang kosong membuat Aisyah sedikit sedih, dulu dia sering sekali menghabiskan waktu disini untuk bercerita perihal bagaimana harinya dilalui. Di dapur ini juga Aisyah sering mencoba resep baru bersama Umi. Namun sekarang, rumah ini terlalu asing untuk Aisyah tinggali. Apalagi saat perempuan asing itu tinggal disini dan merebut separuh hidupnya.


To be continued

Takdir TerindahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang