"Kak Aisyaaaaaaaah!!" Azzam yang melihat Naufal berlari ke arah istrinya langsung memasang badan di depan tubuh Aisyah. Dia takut terjadi apa-apa pada calon bayinya, apalagi Naufal sekarang sudah bertambah besar.
"Aduhh..." gerutu Naufal saat kepalanya membentur dada Azzam yang keras.
Bunda yang sedang menyiram tanaman di halaman rumah ikut menghampiri, dipukul nya lengan Azzam dengan kuat. "Sakit Nak?" tanyanya pada Naufal.
"Sakit Bun, badan Kak Azzam keras." adunya seraya mengusap kening yang terasa benjol.
Azzam yang melihat itu hanya bisa berdecak kesal, Naufal sudah mengambil alih Bunda nya dan dia merasa iri. Padahal kan seharusnya Bunda menyambut kedatangan Azzam selaku anak kandung.
"Kamu tuh gimana si Mas, bahaya loh kebentur gitu." tegur Bunda.
"Badan Naufal gede Bun, kalo meluk Aisyah nya kayak tadi istri aku bisa kepental."
"Ck ada-ada aja kamu tuh, yaudah ayo masuk. Tumben dateng nggak bilang-bilang."
"Kamu sehat kan Nak?" kali ini Bunda beralih pada Aisyah, dikecupnya kedua pipi sang menantu dengan sayang.
"Aisyah doang yang ditanya? Aku enggak?"
Aisyah dan Amira saling memandang, "Suamimu kenapa si sayang? Aneh banget tingkahnya."
Aisyah terkekeh, "Nggak tau Bun, Mas Azzam lagi manja."
"Udah tua kok masih manja..." ledek Bunda seraya membimbing Aisyah masuk.
Azzam mengikuti dari belakang, keadaan rumah tampak berantakan karena banyak mainan Naufal yang berserakan. Bunda pasti merasa kesepian sampai harus meminjam anak itu setiap hari.
"Duduk sayang, Ayah lagi di dalem. Sebentar Bunda panggil."
"Iya Bun..."
Aisyah melirik ke arah pintu dan menemukan Azzam masih berdiri disana dengan wajah tertekuk.
"Sini Mas, kamu kenapa si? Masa iri sama Naufal."
Azzam berjalan menghampiri istrinya, duduk di sebelah Aisyah kemudian menidurkan kepalanya di paha gadis itu. Wajahnya menghadap perut Aisyah yang masih rata, dikecup-kecup bahkan digambar dengan random menggunakan jari.
"Aduh geli Mas..."
"Astaghfirullah!!" Bunda dan Ayah yang baru saja datang sampai harus berbalik lagi melihat tingkah anak dan menantunya.
"Eh Bun kita nggak ngapa-ngapain kok..." seru Azzam yang kini sudah duduk tegak di tempatnya.
Kedua orang itu kembali berbalik, Ayah yang duduk pertama kali untuk menyambut mereka. Azzam dan Aisyah mengecup punggung tangan Fahri dan Amira secara bergantian.
"Mentang-mentang udah nikah jadi jarang main kesini ya Bun." sindir Ayah.
"Iya Yah, Bunda sampe lupa kalo masih punya anak."
"Iya iya, aku minta maaf karena jarang nengokin Ayah sama Bunda." balas Azzam dengan malas.
"Sebenernya kita kesini mau ngasih tau sesuatu Bun, Yah..."
"O iya? Apa itu?"
Aisyah dan Azzam saling melirik, setelah mendapat isyarat dari Azzam, Aisyah mengambil sesuatu dari dalam tas nya. Sebuah kertas yang dia dapat dari rumah sakit tadi, Aisyah menyerahkan nya pada Bunda.
Amira meraihnya dengan gugup, "Apa ini Nak?"
"Baca Bun."
Tanpa menunggu lama Amira membuka dan membacanya bersama Fahri. Wajah keduanya begitu serius sampai Aisyah bisa melihat kerutan di dahi Ayah mertuanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Takdir Terindah
Ficción General"Ummi punya satu permintaan, Aisyah mau kabulkan?" "Apapun akan Aisyah lakukan asal Ummi bahagia.." Aisyah membawa tangan Danira untuk dia kecup. "Menikahlah dengan Azzam Nak.." "Iya, Aisyah pasti menikah sama Mas Azzam. Aisyah janji.." Danira te...
