Ruang perawatan sesak oleh beberapa orang, semua memberi atensi pada bayi mungil nan cantik yang baru saja lahir ke dunia ini. Amira menimang nya dengan penuh kehati-hatian. Berbeda dengan kedua orang tuanya yang tampak bahagia, Azzam justru masih terduduk lemas di samping ranjang sang istri. Kepalanya menunduk dengan tangan menggenggam tangan Aisyah, mengusapnya beberapa kali berharap gadis itu akan segera sadar.
Azzam sudah memenuhi kewajibannya untuk mengazani sang putri, tapi setelahnya dia kembali menyerahkan bayi itu pada Bunda. Azzam tentu bahagia dengan lahirnya sang anak, tapi ada rasa bersalah yang masih tersisa mengingat bagaimana usaha Aisyah untuk melewati proses persalinan.
Sungguh Azzam sangat takut, takut Aisyah akan pergi meninggalkan nya. Karena jika itu sampai terjadi, Azzam tidak tau apa dia masih bisa melanjutkan hidupnya atau tidak.
"Kamu nggak mau gendong Mas?" Amira menepuk pundak sang putra, bayi dalam gendongannya masih tertidur pulas.
"Aisyah kenapa belum bangun Bun?" jawabnya lirih.
"Aisyah butuh istirahat sayang, dia kan capek abis melahirkan. Aisyah cuma tidur, kamu nggak usah khawatir." ujar Bunda menenangkan.
Mau seberapa keras pun Bunda membujuk, Azzam tetap enggan bangkit dari duduknya. Tidak peduli dia belum makan, belum mandi, Azzam hanya ingin saat Aisyah membuka mata nanti, dirinya lah yang pertama kali gadis itu lihat.
.
.
.
.
"Mas..." Azzam hampir saja terseret ke alam mimpi sebelum akhirnya kembali sadar saat sebuah suara terdengar, kepalanya yang dia sandarkan di samping Aisyah diusap berkali-kali.
"Sayang, kamu udah bangun?"
"Alhamdulillah Ya Allah..." Azzam langsung memeluk sang istri dengan hati-hati, dikecup nya kening Aisyah cukup lama.
"Adek bayi mana Mas?"
"Ada, nanti Mas bawa kesini. Tapi kamu udah baikan? Apa yang sakit?"
Aisyah hanya bisa tersenyum kecil, "Aisyah udah nggak papa kok, sekarang mana adeknya?"
"Iya iya, Mas ambil dulu."
Azzam bergegas pergi ke ruang bayi untuk menemui sang anak. Kebetulan keluarga yang lain baru saja berpamitan pulang dan akan kembali ke rumah sakit saat sore nanti.
Suster menyerahkan bayi perempuan yang sangat mirip dengan Aisyah itu dalam gendongan Azzam. Sejujurnya sejak tadi Azzam juga belum sadar betul bagaimana rupa sang anak.
"Masya Allah anak Abi, kita ketemu Ummi yuk sayang..."
Begitu sampai di kamar, Aisyah menyambut nya dengan gembira. Bahkan rasa sakit yang dia rasakan seketika hilang saat melihat wajah mungil sang anak. Tanpa terasa air mata gadis itu menetes, dia begitu terharu karena telah berhasil melahirkan putri kecil yang begitu cantik, buah cintanya dengan Azzam.
"Mirip banget sama kamu.." Azzam membawa keduanya dalam satu pelukan, diusap nya pipi merah sang anak dengan gemas.
"Hidungnya mancung kaya Mas Azzam." balas Aisyah diakhiri kekehan.
"Oh iya, kita kan belum nyari nama Mas."
"Mas udah." Aisyah menatap suaminya tidak percaya, karena selama kehamilan mereka berdua sama sekali belum pernah berdiskusi tentang ini.
"Kok?"
"Mas udah siapin sayang, nama bayi laki-laki dan perempuan, karena kita nggak mau tau jenis kelaminnya lebih dulu jadi Mas siapin dua-duanya..."
"Ihhh sweet banget si."
Mereka berdua menghabiskan banyak waktu hanya untuk mengagumi betapa cantik wajah sang anak. Suster juga membantu Aisyah untuk memberikan asi pertamanya, dan gadis itu baru tau jika rasanya teramat perih. Lengan Azzam bahkan jadi korban cengkraman kukunya.
.
.
.
Malamnya Aisyah sudah diperbolehkan untuk pulang, dan dia memutuskan untuk langsung pulang ke rumahnya sendiri. Meski Abah dan Bunda sudah memaksa agar mereka pulang ke rumah orang tua lebih dulu, tapi Aisyah tetap menolak dengan alasan dia ingin belajar menjadi Ibu yang mandiri.
Walau begitu Amira tetap tidak membiarkan sang menantu mengurus cucunya seorang diri. Jadi semuanya malah ikut menginap untuk menemani.
"Aaa gemes banget Aisyah pengen nelen." gemas gadis itu saat melihat sang anak sedang tertidur dengan mulut mengecap-ngecap.
"Hush, sembarangan." tegur Azzam, pasalnya sejak tadi Aisyah tidak berhenti menganggu bayinya. Mulai dari menoel-noel pipi, sampai menggigiti jari-jari mungilnya.
"Udah kamu istirahat, mumpung dedeknya bobo."
"Aisyah nggak ngantuk."
"Udah malem lho, Mas juga mau tidur ini. Nanti biasanya tengah malem anak bayi suka bangun, jadi kita harus recharge energi."
"Iya iya, Mas Azzam bawel."
Dan semua perkataan Azzam benar adanya, tengah malam Aisyah harus kembali bangun untuk memberikan asi. Gadis itu duduk bersandar pada pundak Azzam karena masih sangat mengantuk. Azzam sebagai suami siaga tentu akan terus membantu sebisanya. Beruntung anak mereka bukan bayi yang rewel, dia malah lebih sering tertidur dari pada menangis.
"Aisyah laper Mas..."
"Laper? Yaudah biar Mas ambilin makanan, kamu tunggu di sini." Aisyah mengangguk kecil.
Setelah Azzam keluar dari kamar, Aisyah kembali menidurkan sang anak di atas ranjang.
Tak lama Azzam kembali membawa sepiring nasi dan lauk pauk. Dengan telaten pria itu menyuapi sang istri yang masih setengah mengantuk.
"Mas Azzam kan belum kasih tau calon nama anak kita siapa..." ujar Aisyah.
"Oh iya..."
"Namanya Aruna Khanza Adira, gimana?"
Aisyah tercengang beberapa saat.
"Kenapa? Kamu nggak suka ya?" tanya Azzam.
Aisyah menggeleng cepat-cepat, "Enggak enggak, Aisyah suka banget. Aisyah cuma terharu, namanya cantik."
"Secantik Ummi nya kan?"
Lantas keduanya terkekeh bersama.
Dengan ini lengkap sudah kebahagiaan Azzam dan Aisyah sebagai sepasang suami istri. Mahligai rumah tangga yang awalnya dimulai dengan jalan yang tak disangka-sangka mampu membuat Aisyah berfikir bahwa inilah takdir terindah yang sudah Allah rancang untuknya.
Dia berharap keluarga kecilnya akan selalu dilingkupi kebahagiaan.
S E L E S A I
KAMU SEDANG MEMBACA
Takdir Terindah
Genel Kurgu"Ummi punya satu permintaan, Aisyah mau kabulkan?" "Apapun akan Aisyah lakukan asal Ummi bahagia.." Aisyah membawa tangan Danira untuk dia kecup. "Menikahlah dengan Azzam Nak.." "Iya, Aisyah pasti menikah sama Mas Azzam. Aisyah janji.." Danira te...
