| 21. Dua Tahun Kemudian

5.4K 324 1
                                        

"Maaf kalo Bunda nelfon terus, tapi Bunda kangen sama kamu Mas.." rengekan Amira terdengar dari sebrang telepon.

Azzam yang sedang membereskan kamar kosnya hanya bisa menghela nafas pasrah. Terhitung sudah 5 kali Amira menghubungi nya hari ini.

"Iya Bun, nanti kalo ada waktu aku pasti pulang. Ini masih sibuk.."

"Ya Bunda juga tau kalo kuliah itu sibuk, tapi masa 2 tahun nggak pernah pulang. Zaki aja tuh tetangga kita walaupun kuliahnya jauh masih sempet kok pulang ke rumah.."

"Iya iya Bunda sayaaang, libur semester ini aku pulang.."

"Bener ya? Kalo bohong Bunda samperin loh kamu. Heran mau ketemu anak sendiri aja harus ngrengek dulu, nanti kalo Bunda udah nggak ada baru nyesel loh kamu Mas.."

"Astaghfirullah Bunda, nggak boleh gitu ah ngomongnya..."

"Ya makanyaaaa, janji dulu.." Amira semakin merengek seperti anak kecil, Azzam terkekeh membayangkan bagaimana ekspresi sang Bunda saat ini.

"Iya janji, nanti aku bawain oleh-oleh yang banyak, tapi suruh Ayah transfer uangnya dulu.."

"Yeeee itu si namanya jastip.."

"Hahaha..." keduanya tertawa dari tempat yang berbeda.

Ya, terhitung sudah 2 tahun Azzam memilih tinggal jauh dari kedua orang tuanya. Jogja menjadi kota tujuannya untuk melupakan segala permasalahan yang dia tinggalkan di Jakarta.

Saat konfliknya dengan Aisyah bahkan belum menemui titik terang, Azzam memilih pergi tanpa berpamitan pada gadis itu.

Dia hanya ingin fokus pada masa depannya sendiri, mengesampingkan perihal hati karena ternyata hal itu tidak sesederhana yang dia pikirkan. Azzam tidak tau bagaimana kabar Aisyah selama ini. Dia benar-benar memutuskan kontak dengan gadis itu demi memulihkan hatinya yang terluka.

"Zam..." teriak seseorang dari balik pintu kamar kosnya.

"Opo?" Azzam membuka pintu dan melihat Rama teman satu kosnya sedang nyengir lebar.

"Inget pulang juga kamu.." sindir Azzam.

"Hehe ya gimana, party nya semalem seru loh Zam. Rugi kamu ndak ikutan, wong banyak cewek cantik kok."

"Aku kesini ki yo buat belajar Ram, bukan buat party party ngunu. Bisa digebuk Bunda aku kalo ikut-ikutan."

"Iyo iyo, paham aku.." Rama langsung membanting diri ke atas kasur, sedangkan Azzam hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Padahal baru saja dia membereskan tempat tidur itu.

Karena sudah rapi sejak tadi, Azzam pun memutuskan untuk segera pergi dan kembali berburu spot foto keren di sekitar sini. Sejak satu tahun lalu Azzam memang memiliki hobi baru, yaitu memotret. Walau hasilnya masih terlihat amatir tapi Azzam tetap senang melakukannya.

Kamera yang dia gunakan adalah hadiah dari sang Ayah saat Azzam berulang tahun.

"Vespa mu tak pake dulu Ram!!" seru Azzam saat dirinya sudah nangkring di atas sebuah vespa berwarna biru.

"Yo!!"




Sejujurnya Azzam juga tidak tau tempat mana yang ingin dia tuju, pemuda itu hanya mengikuti kata hatinya. Menyusuri jalanan yang selalu dipadati kendaraan, juga melihat warga lokal yang sedang melakukan aktivitas sehari-hari, tak ketinggalan banyak juga turis mancanegara yang memadati beberapa tempat wisata.

Azzam suka kota ini, terasa hangat karena keramahan penduduknya. Walau tak dipungkiri dia juga merindukan Jakarta. Bahkan kemacetan nya pun berhasil membuatnya rindu.

Takdir TerindahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang