| 4. Pengalaman Pertama

6.8K 467 0
                                        

"Bundaaaaa, Aisyah berdarah!!"

Pagi ini rumah Azzam begitu gempar karena teriakan Aisyah dari dalam kamar mandi. Bunda langsung bergegas mengecek dan ternyata Aisyah mengalami haid pertamanya.

Untuk anak kelas 10 SMA, Aisyah memang lebih lambat mengalami menstruasi daripada teman-teman nya. Mungkin karena usia Aisyah yang jauh lebih muda juga dari teman sekelasnya.

"Cara pakainya gini ya," dengan sabar Bunda mengajari bagaimana cara memasang pembalut.

Setelah mandi Aisyah memutuskan untuk pulang karena dia tidak membawa seragam, dengan senyum yang merekah Aisyah masuk ke dalam rumah, mengabaikan raut wajah Ummi yang tampak begitu khawatir. Bagaimana tidak khawatir kalau Ummi tidak menemukan puteri kecilnya di dalam kamar pagi-pagi begini.

"Aisyah! Darimana saja kamu?"

"Dari rumah Bunda Ummi, oh iya Aisyah punya berita besar untuk Ummi." Ummi mengernyit karena tidak mengerti dengan apa yang Aisyah maksud.

"HARI INI AISYAH HAID!" serunya dengan semangat 45, Ummi hanya bisa tersenyum, emosi yang tadi hampir meluap sirna seketika. Dengan lembut wanita parubaya itu mendekap tubuh Aisyah, kemudian mencium keningnya dengan sayang.

"Anak Ummi sudah besar, Aisyah harus jadi lebih baik dari sebelumnya ya?"

"Insya Allah Ummi, kalo gitu Aisyah ganti baju dulu ya, Mas Azzam udah nunggu di depan."

Kali ini Aisyah dan Azzam memilih untuk berangkat sekolah menggunakan sepeda, mereka sengaja berangkat lebih pagi supaya tidak terburu-buru saat di jalan.

Azzam hanya bisa menggeleng melihat kelakuan Aisyah yang sedang bahagia, sepanjang jalan gadis itu terus menyapa orang-orang bahkan yang tidak dia kenal.

Sampai di sekolah pun senyum Aisyah tidak luntur, walau banyak yang menatapnya sinis karena berangkat bersama Azzam tapi Aisyah seakan tidak peduli.

Dia langsung masuk ke dalam kelas untuk memberitahu Rena perihal hal besar yang terjadi dalam hidupnya hari ini.

Tapi kebahagiaan Aisyah tidak berlangsung lama, tepat saat istirahat pertama dimulai Aisyah merasa perutnya sangat sakit dan melilit. Rena bilang ini adalah hal normal yang terjadi saat perempuan sedang haid, tapi Aisyah tidak menyangka rasa sakit ini begitu menyiksanya.

Aisyah bahkan tidak sanggup untuk berdiri, dia hanya duduk dengan lemas dengan tangan yang terus meremas perutnya.

"Ya Allah, apa Aisyah kebanyakan dosa sampe sakit begini?" gumam Aisyah pada dirinya sendiri, bibir merah gadis itu sudah berubah putih karena pucat. Merasa khawatir dengan keadaan Aisyah, akhirnya Rena memutuskan untuk memberitahu Azzam.

Dan tak lama setelahnya Azzam masuk ke dalam kelas Aisyah, seluruh pasang mata menonton adegan tersebut. Sebagian besar tentu saja para siswi yang merasa kesal sekaligus iri pada Aisyah.

"Sya, kamu nggak apa-apa?"

Azzam terkejut saat melihat wajah Aisyah yang pucat dengan keringat dingin yang membasahi keningnya.

"Mas Azzam, perut Aisyah sakit banget."

"Bisa jalan? Mas anter pulang ya?"

"Aisyah nggak sanggup, kayaknya Aisyah mau meninggal deh Mas."

"Astaghfirullah Aisyah, istighfar. Kita ke UKS dulu nanti biar Mas beliin obatnya."

Dengan susah payah Aisyah berjalan dipapah oleh Rena, gadis itu dibaringkan di atas ranjang. Sembari menunggu Azzam datang membawa obat, Rena juga membantu meringankan beban Aisyah dengan mengompres perutnya menggunakan air hangat.

"Ya Allah..."

"Astaghfirullah sakit..."

"Maafin Aisyah kalo banyak dosa Ya Allah..."

"Allahu Akbar..."

Rena hanya pasrah mendengar racauan Aisyah yang tiada henti.

Tak lama Azzam datang membawa obat yang dimaksud, dia juga membeli pouch pemanas otomatis untuk mengompres perut Aisyah.

"Kak Azzam Rena pamit ke kelas dulu ya, ada ulangan Matematika."

"Makasih Ren." Rena mengangguk dengan senyum yang merekah.

"Bismillah dulu."

"Bismillah..." Aisyah menerima obat yang disodorkan Azzam dengan baik, kemudian kembali berbaring untuk beristirahat.

.

.

.

.

.

Azzam bersyukur Aisyah bisa ceria seperti tadi pagi, dia merasa punya tanggung jawab lebih jika itu menyangkut tentang Aisyah.

Tawa gadis itu terlalu penting sampai Azzam tidak ingin ada orang lain yang merenggut senyumnya. Bagaimanapun tentang mereka nanti, dan dengan siapapun cinta Aisyah akan berlabuh kelak, Azzam akan tetap berusaha untuk terus membuat Aisyah bahagia.

"Ck, masih mendem aja bos." Azzam menoleh saat ada seseorang yang menepuk bahunya.

"Apaan si Jun..."

"Nggak capek jadi pengecut? Kalo Aisyah diambil orang lain emang lo rela?" Juno salah satu sahabat Azzam yang paling dekat dengannya, bahkan tak jarang Azzam juga bercerita perihal hati.

Meski terkesan meremehkan, tapi Azzam tau maksud Juno itu baik. Juno hanya ingin dia jujur dengan perasaannya. Namun Azzam masih terlalu takut, takut hubungannya dengan Aisyah berantakan, atau takut tidak bisa mengontrol perasaan padahal mereka berdua masih sama-sama sekolah.

Azzam tidak akan mengajak Aisyah berpacaran, kalaupun nanti dia ingin jujur, Azzam ingin dia mengutarakan itu saat semuanya sudah siap. Saat dirinya sudah mapan, saat dirinya sudah siap membimbing Aisyah untuk membangun sebuah rumah tangga yang indah.

Azzam hanya tidak ingin sesumbar menebar janji, dia ingin pembuktian lah yang akan menjadi jawaban atas rasa cinta yang sejak dulu dia pupuk.

.
.
.
.
.

Sepulang sekolah Aisyah mengajak Azzam untuk pergi ke toko buku, dia ingin membeli beberapa novel dan komik. Tenang, Aisyah membelinya dengan uang sendiri kok. Dia sengaja mengumpulkan uang saku demi membeli buku yang dia incar.

Sepeda mereka berhenti di depan Gramedia, keduanya masuk dan Aisyah lah yang paling bersemangat. Matanya serasa diberkati saat melihat rak yang penuh dengan susunan buku. Sebelum membeli buku yang dimaksud, Aisyah juga menyempatkan untuk membaca beberapa komik sambil menghabiskan waktu. Sedangkan Azzam hanya melihat-lihat buku tentang keislaman.

"Sya jangan kelamaan, udah mau hujan." Aisyah mengangguk, dia juga melihat gumpalan awan hitam yang sudah menggantung di atas sana. Gadis itu bergegas mengambil buku yang dia cari kemudian membayarnya.

Tapi kecepatan Aisyah tidak bisa menandingi takdir Allah, baru saja mereka akan pulang, hujan sudah lebih dulu turun dengan derasnya.

"Terjang aja yuk Mas."

"Enggak nanti kamu sakit, duduk dulu sini." Azzam menepuk tempat di sampingnya, dan Aisyah pun menurut.

"Mas Azzam, Aisyah pengen itu tapi uang Aisyah udah abis." Aisyah menunjuk stan yang menjual minuman boba.

"Mas beliin."

"Eh nggak usah!"

"Sini uangnya, biar Aisyah beli sendiri," ujarnya dengan tangan terulur meminta uang. Azzam hanya bisa menggeleng kecil, dia meletakkan uang 50 ribuan di atas telapak tangan Aisyah.

Setelah mendapatkan apa yang dimau, Aisyah menunggu hujan sembari menikmati segelas minuman boba.

Sorenya langit kembali cerah, Aisyah mengayuh sepedanya dengan hati gembira. Suasana setelah hujan memang mendamaikan hati, apalagi sisa aroma tanahnya.

Aisyah sampai di rumah pukul lima sore, tadi dia berhenti di mushola terlebih dahulu untuk mengantar Azzam sholat. Dan kebahagiaan Aisyah semakin bertambah saat melihat Abah sudah pulang ke rumah.

"Abaaaaah Aisyah kangennn."


To be continued

Takdir TerindahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang