| 34. Kekecewaan Azzam

7.3K 393 3
                                        

Aisyah mondar-mandir di depan ruang UGD dengan cemas, dia bahkan tidak memikirkan keadaannya sendiri. Penampilan gadis itu sangat kacau dengan pakaian basah kuyup dan kerudung penuh noda darah. Azzam sudah membujuknya berkali-kali agar mereka pulang ke rumah lebih dulu, tapi Aisyah masih bersikeras ingin menunggu sampai Dokter keluar.

"Kamu bisa sakit kalo bajunya basah begini Aisyah..." Azzam berdiri di depan sang istri yang kini sibuk menggigiti kuku. Pertanda jika sekarang gadis itu sedang gugup dan khawatir.

"Aisyah cuma pengen tau keadaan dia gimana Mas, kamu liat sendiri kan tadi lukanya separah apa?"

"Iya, tapi kamu sendiri udah menggigil. Mas nggak mau kamu sakit..."

"Sampe Dokter keluar aja Mas, Aisyah mohon..."

"Yaudah ayo duduk." Aisyah mengangguk, Azzam membimbing nya untuk duduk di salah satu kursi.

Setelah cukup lama menunggu, Dokter pun keluar. Aisyah bergegas bangkit untuk menanyakan bagaimana keadaan perempuan yang baru saja ditolong nya.

"Gimana keadaannya Dok?" tanya Aisyah dengan cemas.

"Aisyah..."

"I-iya Dokter Jason..."

Pria di hadapannya mengulum senyum, sungguh tidak terduga dirinya bisa bertemu dengan Aisyah di situasi yang seperti ini. Kabar mengejutkan juga ternyata Aisyah sudah menikah dengan Azzam. Padahal Jason masih sedikit menaruh harapan pada gadis itu.

"Luka di wajahnya cukup parah, ada lebam juga di bagian dada dan beberapa alat vital lainnya. Kabar terburuknya adalah, kandungan pasien tidak bisa diselamatkan."

Azzam dan Aisyah sama-sama mematung, "D-dia hamil Dok?"

Jason mengangguk, "Benar, usia kandungannya sekitar 5 minggu..."

Mendengar itu Azzam kembali terduduk lemas di kursi, Yovela sedang hamil? Dengan siapa? Apa mungkin ini perbuatan bejat Ayahnya?

"Kalian pulang dulu saja, pasien juga butuh waktu untuk beristirahat," ujar Jason seraya menepuk pundak Azzam.

"Mas, dia perempuan yang kemaren ketemu sama kamu kan?"

"K-kamu nggak main belakang sama dia kan Mas?"

Azzam menatap Aisyah tak percaya, bagaimana mungkin istrinya berfikir seperti itu?

"Mas bahkan nggak pernah ketemu sama dia sebelumnya Aisyah, enteng banget kamu nuduh suami sendiri macem-macem."

"Kita pulang."

Sepanjang jalan Azzam tidak bicara apapun, dia hanya fokus menatap ke depan dengan rahang mengeras karena menahan amarah. Pria itu benar-benar tidak habis pikir dengan tuduhan sang istri. Padahal jelas-jelas Aisyah tahu bahwa sejak awal dirinya hanya mencintai gadis itu, tidak pernah terbersit dipikiran Azzam untuk mencintai gadis lain apalagi dengan cara menghianati pernikahan mereka.

"Mas..."

"Jangan diem aja dong, Aisyah butuh penjelasan."

"Penjelasan apa lagi? Apa yang kamu mau denger dari mulutku Aisyah? Apa aku harus mengakui sesuatu yang tidak pernah aku lakukan? Apa sebegitu bejatnya aku dipikiran kamu sampe kamu berfikir anak dalam kandungan Yovela itu anak aku?" bentak Azzam karena merasa harga dirinya terinjak-injak.

"Aisyah cuma nanya Mas, kalo emang bukan kenapa kamu marah?"

"Cuma? haha, cuma kamu bilang?"

"Emang salah kalo Aisyah curiga? Aisyah kan nggak tau di jogja Mas Azzam ngapain aja."

"Diem!! Aku bisa marah lebih dari ini kalo kamu masih ngomong yang enggak-enggak..." bentak Azzam yang sukses membungkan mulut Aisyah, gadis itu memilih mengalihkan pandangan ke arah luar.

Sampai di rumah Azzam langsung turun tanpa membukakan pintu untuk Aisyah, pria itu masuk ke dalam rumah dengan membanting pintu. Berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh dan mendinginkan kepala yang seperti mau meledak.

Hari ini dia sudah lelah karena pekerjaan, belum lagi tugas kuliah, ditambah tuduhan Aisyah yang sukses membuat darahnya naik.

Cukup lama Azzam berada di kamar mandi karena dia menyempatkan diri untuk berendam dengan air hangat. Saat merasa pikirannya sudah cukup jernih, pria itu keluar hanya dengan handuk yang melingkar di pinggangnya.

Dilihatnya Aisyah juga sudah berganti pakaian, mungkin dia menggunakan kamar mandi yang lain. Gadis itu sedang duduk membelakangi nya. Azzam tau Aisyah tengah menangis, terlihat dari bahunya yang bergetar dengan tangan sesekali mengusap wajah.

Tapi daripada membujuk istrinya, Azzam lebih memilih untuk berganti pakaian kemudian keluar dari kamar dengan membawa laptop. Ada banyak pekerjaan yang belum selesai dan dia berniat menyelesaikan nya di ruang keluarga.

Aisyah berbalik saat mendengar suara pintu tertutup, wajahnya penuh air mata. Dia tidak tau kenapa dirinya begitu mudah curiga pada Azzam dan gadis bernama Yovela itu. Dia hanya takut kejadian Abah dan Umma dulu terulang kembali pada rumah tangganya.

.

.

.

.

Sudah lebih dari jam 11 malam Azzam belum masuk ke dalam kamar, Aisyah yang sudah merebahkan diri pun tidak dapat menutup mata.

Karena khawatir akhirnya Aisyah memilih keluar, dengan langkah hati-hati gadis itu berjalan menuju ruang keluarga. Dan benar Azzam ada disana, tapi bukan sedang mengerjakan tugas, melainkan sedang tertidur dengan kepala berada di atas meja. Wajahnya tampak lelah dan pucat, kemudian Aisyah baru sadar kalau suaminya itu belum makan sejak mereka pulang dari rumah sakit.

"Mas..."

"Astaghfirullah."

Aisyah terkejut saat tangannya tidak sengaja menyentuh kulit leher Azzam, suhu tubuh suaminya itu sangat tinggi.

"Mas, kamu sakit? Ya Allah..." Aisyah membantu Azzam untuk berbaring di atas sofa, pria itu masih memejamkan mata dan sesekali merintih seperti kesakitan.

"Aisyah ambil kompresan dulu," belum sempat Aisyah berdiri, Azzam sudah lebih dulu meraih tangannya.

"Nggak usah." ujarnya masih dengan nada dingin.

"Tapi kamu demam Mas, atau mau ke rumah sakit aja? Kita ke Dokter ya?"

"Buat apa kamu perlakukan aku sebagai suami kalo kamu sendiri nggak pernah percaya sama aku?" Aisyah diam, dia tidak tau harus menjawab apa.

"Hati aku sakit Aisyah kamu tuduh begitu. Padahal selama 2 tahun aku tinggal di jogja, nggak pernah sedikitpun aku kepikiran untuk menjalin hubungan sama perempuan lain."

"Tapi kamu seenaknya nuduh aku yang enggak-enggak." Aisyah menunduk, air matanya lagi-lagi menetes, membuat Azzam mendengus kesal.

"Kamu yang nyakitin tapi kamu juga yang nangis, udah sini."

Pada akhirnya Azzam lagi yang harus mengalah, dia mencoba memahami Aisyah yang mungkin masih punya trust issue terhadap keluarga. Walau harus mengesampingkan rasa sakitnya sendiri Azzam rela asal hubungannya dengan Aisyah tetap baik-baik saja.

Aisyah masuk ke dalam rengkuhan Azzam, dipeluk nya tubuh hangat itu kuat-kuat.

"A-aisyah takut Mas Azzam pergi..."

"Aisyah nggak mau Mas Azzam suka sama orang lain..."

"Sshh..." Azzam mengelus rambut sang istri dengan penuh kasih sayang. "Kamu bisa jamin nggak akan ada perempuan lain dalam pernikahan kita."

"Janji?" lirihnya seraya mengacungkan jari kelingking di depan Azzam.

"Janji..."

Keduanya kembali berpelukan semakin erat.

"Besok kita jenguk Yovela ya Mas, dia pasti masih syok banget..."

"Iyaa."




To be continued

Takdir TerindahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang