Azzam murka saat melihat Aisyah sudah terduduk di atas lantai dengan tangan bertaut pada tangan lelaki aneh berpakaian serba hitam itu. Keduanya berada di lorong yang merupakan jalan menuju toilet. Tanpa pikir panjang Azzam langsung mendorong lelaki itu sampai tubuhnya membentur dinding. Tangannya melayang bersiap memberikan pukulan sebelum pekikan Aisyah menghentikan aksinya.
"Kamu mau ngapain Mas?"
Kening Azzam mengernyit, "Kamu masih nanya aku mau ngapain? Orang ini udah berani megang-megang kamu Aisyah."
Azzam menatap lelaki di depannya, walau dia tidak bisa melihat dengan jelas karena wajah orang itu tertutup tudung hoodie.
Tangannya terkepal kuat, Azzam benar-benar sudah gatal ingin menghabisi laki-laki di depannya. Namun lagi-lagi Aisyah menghalangi, tubuh gadis itu terentang di depan Azzam seakan menjadi perisai.
"Mas Azzam jangan sembarangan mukul orang gitu dong." Azzam semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran istrinya.
"Ini itu Kak Juno Mas, tadi dia yang nolongin Aisyah waktu Aisyah kepleset."
Hening, Azzam masih terpaku di tempatnya, otaknya seakan memproses apa yang baru saja terjadi. Kepalanya mendongak saat lelaki itu mulai membuka penutup kepalanya, dan benar saja, ada Juno di sana.
"Juno?"
"Oy, apa kabar bro?" tanyanya dengan suara tawa yang tertahan.
"Posesif juga lo..." Juno meninju lengan Azzam saat keduanya kini sudah duduk sembari menikmati kopi. Aisyah? Jangan ditanya, gadis itu sudah terlelap di atas sofa restoran.
"Bini gue lagi hamil, ya kali gue nggak posesif. Lagian lo ngapain si pake baju beginian? Kayak perampok tau nggak?"
Juno tak bisa menahan tawanya lagi. "Sialan lo."
"Gue baru balik dari Jepang, tadinya emang udah niat mau ngajak lo ketemuan. Eh malah ketemu disini."
"Waktu tadi gue masuk, gue udah ngeh ada kalian berdua. Tapi mau nyapa juga nggak enak takut ganggu."
"Terus lo ngapain ngikutin Aisyah ke toilet?"
"Siapa yang ngikutin? Gue emang mau ke toilet, tapi pas sampe di lorong Aisyah hampir aja kepleset, yaudah gue tangkep. Dari pada anak lo kenapa-napa."
"Gue udah parno banget takut Aisyah diapa-apain." Azzam menoleh ke arah istrinya yang sudah terpejam.
"Sorry, nggak maksud sumpah."
"Udah berapa bulan kandungan Aisyah?"
"Udah mau empat bulan."
Juno mengangguk paham, "Lagi sering-sering nya ngidam dong?"
"Ini baru pertama kali si..."
"Oh iya, ada yang mau gue omongin sama lo dan Aisyah. Besok bisa ketemu?"
"Bisa, tapi ketemunya di kafe gue aja gimana?"
"Lo ada kafe?"
Azzam mengangguk, "Hadiah dari bokap."
"Oke, nanti share lock aja. Sini bagi nomer lo."
Azzam meraih ponselnya yang tergeletak, dia bahkan tidak hafal dengan nomor ponselnya sendiri.
"Yaudah, gue langsung balik deh. Belum tidur sumpah, tadi abis kerja Aisyah langsung ngajak makan takoyaki."
Juno terkekeh, "Keliatan dari mata lo, yaudah sana. Gue juga mau balik."
Keduanya berpisah di parkiran, Azzam masuk ke dalam mobil sementara Juno berjalan ke arah motor hitamnya yang terparkir.
Paginya Azzam belum bangun sampai pukul 09:00, selepas subuh dia terpaksa tidur lagi karena masih sangat mengantuk. Sementara Aisyah sudah melakukan banyak hal pagi ini, mulai dari berjalan-jalan di halaman rumah, makan bubur ayam yang dibelikan Ayah, dan masih banyak lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Takdir Terindah
General Fiction"Ummi punya satu permintaan, Aisyah mau kabulkan?" "Apapun akan Aisyah lakukan asal Ummi bahagia.." Aisyah membawa tangan Danira untuk dia kecup. "Menikahlah dengan Azzam Nak.." "Iya, Aisyah pasti menikah sama Mas Azzam. Aisyah janji.." Danira te...
