| 44. Bubur Ayam

4.9K 344 0
                                        

"Thanks udah mau nganterin." Juno menepuk pundak Azzam seraya tersenyum. Bersyukur acara pernikahannya tiga hari yang lalu bisa berjalan dengan lancar.

Juno dan Zahra tidak bisa menunda lagi untuk kembali ke Jepang, keduanya harus menuntaskan pendidikan yang mungkin akan sekaligus menjadi bulan madu di sana.

Azzam balas mengangguk, tangannya masih melingkar di pinggang Aisyah.

"Semoga selamat sampai tujuan ya Kak, dan semoga bisa cepet-cepet dikasih dedek bayi biar anak Aisyah nanti ada temennya..." ketiganya terkekeh mendengar ucapan Aisyah.

Zahra melangkah maju kemudian membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Dia merasa sangat bersalah karena dulu sempat bertindak jahat dan keterlaluan, apalagi sampai berniat merebut Azzam. Diusap nya punggung Aisyah dengan lembut.

"Aamiin, kamu juga baik-baik di sini. Semoga lancar persalinan nya."

"Aamiin."

Azzam dan Aisyah menatap kepergian dua orang itu dengan haru, masih tidak menyangka takdir akan mempertemukan keduanya dalam sebuah ikatan pernikahan. Namun begitulah cara Tuhan menunjukkan kekuasaannya, yang sekuat apapun kita menghindar, jika Tuhan sudah berkehendak maka itulah yang akan terjadi.

Di ujung sana Juno dan Zahra melambaikan tangan sebelum punggung keduanya menghilang dibalik kerumunan.

"Kok nangis?" tanya Azzam saat menoleh ke arah sang istri, tangannya bergerak mengusap pipi Aisyah yang basah.

"Aisyah terharu..."

Azzam terkekeh, dia semakin mengeratkan tangannya di pinggang Aisyah yang terasa lebih tebal oleh gumpalan daging.

Sebelum pulang ke rumah, Aisyah meminta Azzam untuk mampir terlebih dahulu ke kafe mereka. Ada yang ingin gadis itu beli sebagai oleh-oleh. Kafe tampak ramai oleh pengunjung, dan Azzam tidak berhenti bersyukur karena itu. Allah benar-benar mempermudah jalannya dalam mencari rezeki untuk persiapan persalinan Aisyah.

Aisyah memilih banyak kue dan roti, tidak lupa beberapa menu minuman favoritnya seperti cokelat panas, dan matcha latte. Tapi gadis itu tidak mengambilnya dengan cuma-cuma, Aisyah membayarnya dengan sisa uang belanja dari Azzam yang dia kumpulkan sendiri.

Gadis itu membagi kue kue tersebut dalam dua kantong, satu untuk dirinya sendiri dan satu lagi untuk seseorang yang ingin dia temui setelah ini.

Aisyah sudah kembali ke rumahnya sendiri karena merasa mungkin Azzam butuh quality time yang lebih intens. Hanya beberapa kali saja dia akan menginap di rumah Bunda atau Abah jika Azzam ada pekerjaan sampai larut malam.

Walau sepertinya hal itu sudah sangat jarang terjadi, Azzam selalu tidak tenang jika harus meninggalkan Aisyah sendirian. Dia bahkan sampai mengambil cuti kuliah hanya untuk merawat Aisyah sampai masa melahirkan nanti.

Mobil melaju dengan tenang di jalanan yang masih basah sisa hujan beberapa saat yang lalu, langit mendung masih mendominasi walau dibeberapa titik awan sudah mulai menepi digantikan oleh langit biru yang cerah.

Aisyah masih menikmati cokelat panas dengan tekun, sesekali gadis itu akan membiarkan Azzam untuk mencoba minuman di tangannya.

Tak lama mobil berhenti di depan sebuah kos kosan khusus putri.

"Tunggu!" Azzam menghentikan Aisyah yang sudah berniat membuka pintu sendiri, pria itu bergegas turun kemudian membukakan nya untuk Aisyah.

"Ati-ati licin." Azzam kembali bergegas menggandeng lengan Aisyah karena takut istrinya itu terpeleset, saat kandungan Aisyah semakin besar Azzam memang terkesan lebih lebay dari biasanya. Tapi kita maklumi saja karena ini adalah anak pertamanya.

Takdir TerindahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang