| 16. Perayaan Kelulusan

5K 360 0
                                        

Azzam bersyukur bisa mengesampingkan masalah perasaannya pada Aisyah untuk bisa mengikuti ujian dengan maksimal. Dan kini hasil yang keluar sangat memuaskan. Tidak sia-sia dia mengorbankan banyak waktu untuk belajar, ikut les sana sini, dan juga mengurangi main.

Amira dan Fahri selaku orang tua tentu sangat bangga dengan nilai yang Azzam peroleh, mereka berharap Allah akan memudahkan jalan Azzam untuk bisa masuk ke universitas yang bagus dan sudah lama Azzam impikan.

Aisyah juga tidak mau ketinggalan mengucapkan selamat, dia bahkan membeli buket bunga berisi beberapa bungkus cokelat sebagai hadiah. Dia senang sekaligus sedih. Azzam sudah lulus, itu berarti dia sudah tidak bisa bertemu Azzam setiap hari. Walau rumah keduanya berdampingan, tapi Aisyah yakin jadwal Azzam sebagai mahasiswa pasti akan lebih padat.

"Sya!!" saat Aisyah dan Azzam sedang berbincang, Juno mendekat dan bergabung dengan mereka.

Wajah Azzam yang awalnya ceria kini tampak suram saat melihat Juno juga membawa buket yang sama seperti dirinya. Dia kira Aisyah memberikan itu spesial hanya untuknya, tapi ternyata Azzam terlalu berekspektasi tinggi.

"Acaranya udah selesai, ini lo mau langsung kerja apa gimana?" tanya Juno yang dibalas gelengan oleh Aisyah.

"Aisyah libur kok, kita makan-makan aja yuk bertiga. Anggep aja perayaan kecil, Aisyah yang traktir deh.." usul gadis itu yang berhasil membuat Azzam mengernyit tidak suka.

Walau Juno sudah ditolak oleh Aisyah, tapi entah kenapa Azzam masih tidak suka jika Aisyah terlalu dekat dengannya.

Juno tidak butuh waktu lama untuk mengiyakan, berbeda dengan Azzam yang sampai saat ini masih memasang tampang tidak suka.

"Mas Azzam mau kan?"

"Makan dimana?"

Aisyah berfikir sejenak, dia ingin sesuatu yang berbeda.

"Ah Aisyah tau!!"



Azzam dan Juno hanya bisa pasrah saat Aisyah menyuruh mereka membawa kantong berisi makanan yang tadi mereka beli, sedangkan gadis itu sudah lebih dulu berjalan di depan keduanya. Berbeda dengan Azzam yang masih belum tau kemana mereka akan pergi, Juno tentu sudah sangat hafal dengan jalan ini. Ini adalah jalan menuju rumah pohon miliknya.

"Nah udah sampe!" seru Aisyah saat berbalik menatap dua cowok di belakangnya.

"Ngapain di sini Sya? Kamu mau makan di bawah pohon?" tanya Azzam heran.

"Ish Mas Azzam, ya enggak lah. Itu liat dulu ke atas.."

"Rumah pohon?" Aisyah mengangguk dengan senyum yang terpatri di wajahnya.

"Ini punya Kak Juno, yaudah yuk naik.." Lagi-lagi Azzam dan Juno mengikuti Aisyah yang berjalan menuju tangga.

Gadis itu naik lebih dulu, Aisyah tidak tau jika tangga itu licin. Karena kurang hati-hati dia pun tergelincir dan hampir saja jatuh kalau bukan karena Juno yang menangkap tubuh kecilnya.

"Ati-ati Sya.." ujar Juno khawatir.

Azzam yang melihat itu tentu saja merasa gerah.

"Maaf Kak, tangganya licin.."

"Awas!" Azzam memisahkan Aisyah dan Juno yang masih saling menempel.

Cowok itu membuka tasnya dan mengambil kaos yang biasa dia pakai untuk bermain bola. Kemudian mulai mengelap tangga licin tersebut agar tidak berbahaya.

"Udah tuh, sana naik," titah Azzam yang diangguki oleh Aisyah.

Setelah Aisyah sampai di atas, barulah Azzam dan Juno menyusulnya.

Takdir TerindahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang