| 33. Lagi?

6K 335 3
                                        

"Dasar anak iblis! Anak setaaaan!"

Ctarrr

Sambaran gesper lagi-lagi mengenai punggung Yovela, gadis itu sudah tidak berdaya setelah disiksa berjam-jam oleh Ayahnya sendiri.

"Mau sampe kapan kamu kurang ajar sama istri baru Papi hah? Kamu pikir Papi sudi punya anak kaya kamu? Anak nggak tau diri, harusnya kamu yang matiiii!" seru pria itu lagi seraya menenggelamkan wajah Yovela ke dalam bak mandi.

Yovela gelagapan karena tidak bisa bernafas, tangannya memukul-mukul lengan Daniel seakan meminta ampun.

Sudah 3 hari Yovela ditinggal pergi oleh Maminya karena urusan pekerjaan, padahal sudah berulang kali dia bilang bahwa Daniel kerap kali melakukan kekerasan bahkan pelecehan. Tapi Yuna seakan tutup mata, dia malah semakin gencar membuat Yovela tinggal satu rumah dengan Daniel.

"Yovela juga nggak pernah minta buat dilahirin Pih, kalian yang bikin Yovela lahir ke dunia..."

"Jawab terus!" sentak Daniel menjambak rambut Yovela sampai kepala gadis itu mendongak.

"Sekali lagi kamu bikin gara-gara sama istri Papi, Papi bunuh kamu!" Daniel mendorong tubuh Yovela sampai sang anak tersungkur.

"Akhhh.." erang gadis itu saat perutnya membentur closet.

Dengan susah payah Yovela bangkit kemudian berjalan dengan tertatih. Tangannya meraih apa saja yang sanggup dia raih demi menahan tubuhnya untuk tetap berdiri.

Rumah ini, rumah yang dulu penuh kehangatan sudah berubah menjadi neraka.

Andai saja saat itu Erika tidak menolongnya, mungkin sekarang Yovela yang sudah mati. Dan itu akan jauh lebih baik daripada semua orang harus menyalahkan nya.

"Kakak..." lirih Yovela menatap sebuah bingkai foto dimana ada dia dan sang Kakak yang sedang tersenyum lepas.

Yovela ingat foto itu diambil saat ulang tahun Erika yang ke 17. Sebagai anak kebanggaan keluarga sepertinya wajar jika ulang tahun Erika terlihat begitu mewah.

"Aku boleh ikut Kakak nggak? Aku udah nggak sanggup..."

Yovela kembali berjalan menuju pintu depan, dia melihat kamar Daniel masih tertutup rapat. Persetan dengan hukuman yang lebih berat jika pria itu sampai memergokinya kabur, Yovela hanya berharap Tuhan kali ini berpihak padanya.

Setelah berhasil meraih gagang pintu, gadis itu membukanya kemudian berjalan lebih cepat keluar halaman.

Yovela bisa bernafas sedikit lega saat kini sudah berhasil sampai di jalanan. Walau dia tidak tau kemana harus melangkah lagi.

Jderrr!!

Suara guntur menggelegar seakan langit bisa merasakan kesedihan yang Yovela alami saat ini. Lalu tetes demi tetes air pun turun membasahi bumi. Dengan langkah yang masih terseok-seok, Yovela menepi di depan sebuah toko yang sudah hampir tutup. Kedua tangan memeluk dirinya sendiri untuk menghalau hawa dingin.

"Tuhan, tolong aku..." ucapnya berdo'a dengan tulus, walau dia bukan seorang Kristen yang taat. Namun saat sudah dalam keadaan seperti ini, hanya Tuhanlah tempat dirinya meminta keselamatan.

Hujan semakin deras disertai dengan gemuruh guntur yang memekakan telinga, atap toko sepertinya sudah tidak berguna untuk melindungi tubuh Yovela dari cipratan air hujan.

.

.

.

.

Aisyah berjalan terburu menuju basement, Azzam sudah menunggunya disana sejak 30 menit yang lalu. Aisyah benar-benar lupa kalau Azzam mengizinkannya pergi hanya sampai jam lima sore, dan sekarang sudah hampir jam enam.

Takdir TerindahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang